Investigasi KPPS Meninggal, BPN: Ini Bukan soal Hoaks Tapi untuk Evaluasi

| 16 May 2019 16:22
Investigasi KPPS Meninggal, BPN: Ini Bukan soal Hoaks Tapi untuk Evaluasi
Ilustrasi (Anto/era.id)
Jakarta, era.id - Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menginginkan ada investigasi kematian anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) pada Pemilu 2019.

Dia menyatakan itu dalam video yang beredar di kalangan media. Video berdurasi 7 menit ini, berisi pesan Prabowo tentang ketidakwajaran kematian anggota KPPS.

"Ada suatu hal yang juga ikut mencemaskan kita semua. Memprihatinkan kita semua dalam sejarah Republik Indonesia, baru sekarang terjadi dalam sebuah pemilihan umum lebih dari 570 petugas meninggal dalam keadaan yang penuh tanda tanya. Para dokter, para ahli kesehatan, para pakar mengatakan bahwa sangat kecil kemungkinan orang itu bisa meninggal karena kecapean dan kelelahan," tutur Prabowo.

Apalagi, kata dia, ada KPPS yang meninggal di usia muda, sekitar 19 tahun, 21 tahun, dan 30 tahun. Dia menilai, tidak mungkin di usia muda seperti ini, mereka meninggal karena kelelahan mengawal penghitungan form C1 di TPS.

"Kita sebenarnya berharap bahwa pemerintah segera melakukan investigasi. Penyelidikan dan melakukan autopsi," jelasnya.

Dengan fakta seperti ini, dia menyayangkan sikap Kementerian Kesehatan yang seakan acuh. 

Sementara, pada kasus kematian mendadak beberapa ekor sapi di Kabupaten Lamongan, Kemenkes meresponsnya dengan cepat.

"Kalau tidak salah 6. 6 ekor sapi tersebut dilakukan autopsi. 570 anak bangsa meninggal sangat mengherankan, tidak ada upaya mencari tahu mengapa mereka meninggal sehingga jelas kita tahu sebabnya apa,” tuturnya.

Juru Bicara BPN, Andre Rosiade mengatakan, maksud Prabowo ini bukan untuk menyebarkan hoaks. Tapi untuk evaluasi agar peristiwa seperti ini tidak terjadi di masa yang akan datang.

"Coba bayangin orang begitu banyak meninggal, (kami) bukan ingin menebar hoaks tapi ini bermaksud supaya agar ada evaluasi bersama. Supaya jangan ada lagi kejadian di masa depan. Tujuannya baik kok," tutur Andre, ketika dihubungi era.id, di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Andre menganggap wajar Prabowo menyoroti masalah ini. Dia meyakini, masyarakat akan mengamini sikap Prabowo ini.

"Melihat begitu banyaknya yang meninggal, ada yang aneh. Wajar dong kalau publik bukannya Pak Prabowo saja, masyarakat bertanya ada apa. Salah di mana, apakah SOP KPU enggak ada untuk mengatur mereka istirahat?” ucapnya.

Menurut hasil investigasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan di 17 provinsi, gagal jantung dan strok menjadi penyebab terbanyak kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) saat penyelengaraan Pemilu 2019.

"Penyebab terbanyak karena gagal jantung, kedua stroke," kata Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Tri Hesty Widyastoeti di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia di Jakarta, Senin (13/5/2019).

Kementerian Kesehatan menyatakan kasus kematian paling banyak terjadi di wilayah Provinsi Jawa Barat, dan angka kesakitan terbanyak di DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Dia menyebut petugas KPPS yang meninggal dunia paling banyak berusia 50 sampai 59 tahun, disusul usia 40 sampai 49 tahun. Menurut Tri Hesty, 29 persen korban meninggal dunia berusia 50 tahun.

Ia menjelaskan pula bahwa kematian petugas KPPS paling banyak terjadi di luar rumah sakit dan korban umumnya meninggal dunia tidak pada tanggal pencoblosan 17 April, melainkan beberapa hari setelahnya yaitu pada 21-25 April dan 26-30 April.

"Sebab kematian ada beberapa yang belum diketahui, tetap kami terus telusuri," kata dia, seperti dikutip Antara.

Dia menerangkan, Kementerian Kesehatan terus menerus berkoordinasi dan telah membentuk satuan tugas untuk menangani kasus tersebut. Di samping mendata angka kesakitan dan korban meninggal, Kementerian Kesehatan juga memeriksa kesehatan para petugas KPPS.

Rekomendasi