Bagaimana @NUgarislucu Menginspirasi Akun Garis Lucu Lain

Tim Editor

Ilustrasi (Ilham/era.id)

Jakarta, era.id - Sebuah gerakan lahir di jagat Twitter. Kemunculan gerakan ini ditandai dengan nongolnya sejumlah akun yang mengangkat kata "Garis Lucu" sebagai identitas mereka. Semangat mereka sama, menandingi sepak terjang kelompok SARA garis keras dengan menghadirkan iklim beragama penuh toleransi lewat lelucon-lelucon mencairkan. Kelahiran @NUgarislucu jadi mulanya.

Segala gerakan ini dimulai 2015, ketika sebuah akun Twitter bernama @NUgarislucu lahir. Dalam sepak terjangnya, @NUgarislucu selalu hadir dalam berbagai isu yang berkaitan dengan kehidupan beragama Islam. Hasilnya pun ampuh. @NUgarislucu berhasil menyebarkan semangat beragama yang lebih penuh toleransi, cinta, dan tawa tentu saja.

Sebuah riset membuktikan keberhasilan ini. Riset diawali dari penelitian Nielsen Company pada Juli 2017, yang menyebut generasi milenial berusia 20-34 tahun lebih menyukai internet dan media bioskop untuk mendapatkan konten. Merujuk itu, peneliti Sari Hernawati mendalami salah satu variabel penelitian, yang menunjukkan kalau @NUgarislucu punya andil besar dalam melawan radikalisasi.

Penelitian yang dimuat di Atlantis Press (2019) itu menunjukkan, faktor menghibur jadi senjata @NUgarislucu memperluas jangkauan gagasannya. Buktinya, 72 persen dari 1.828 responden penelitian mengaku terhibur dengan segala narasi yang disampaikan @NUgarislucu. Penelitian juga mengungkap, akun media sosial yang lucu akan lebih mudah mengundang simpati. Hingga berita ini ditulis, @NUgarislucu telah memiliki 297.500 pengikut.


Infografis (Ilham/era.id)


Kemunculan gerakan lain

Sejak @NUgarislucu, akun-akun lain bermunculan. Ada @MuhammadiyahGL --akun terdepan yang mengikuti jejak @NUgarislucu, @BuddhisGL, @KatolikGL, @HinduGL, @KonghucuGL, @Jawa_GL, hingga @BumidatarGL. Seperti @NUgarislucu dan @MuhammadiyahGL yang merepresentasikan agama Islam, akun-akun lain juga mewakili kelompok-kelompok SARA, baik itu agama, suku, atau kelompok minoritas lain.

Kami mewawancarai admin @KatolikGL. Meminta identitasnya tetap anonim, ia mengakui bahwa dirinya tergerak membuat akun ini setelah melihat sepak terjang @NUgarislucu. Menurutnya, apa yang dilakukan @NUgarislucu adalah hal yang amat penting untuk meredam segala gejolak yang terjadi, terutama sejak berbagai keriuhan Pemilu 2019 dimainkan.

Akun @KatolikGL sendiri adalah salah satu yang berhasil memancing animo besar. Menurut pengakuannya, dalam waktu satu pekan sejak akunnya dibuat, ia langsung berhasil mengumpulkan pengikut sebanyak 13.000. "Enggak sadar, (saat itu) sudah sekitar 13 ribuan followers saja," tuturnya ketika dihubungi era.id, pekan lalu.

Seperti @KatolikGL, admin @BuddhisGL yang kami hubungi, Agus, juga menyampaikan alasan yang sama di balik keputusannya membuat akun berembel-embel kata "Garis Lucu." Menurut Agus, permainan politik identitas yang dilakukan para elite politik telah membawa dampak yang amat menyebalkan bagi kehidupan beragama di negeri ini.

Menurut Agus, kemunculan akun-akun lain setelah @NUgarislucu, sebagian besar terjadi pada Mei 2019. Sejak itu, para admin Garis Lucu saling mengontak satu sama lain. Dari saling me-mention di tiap-tiap unggahan mereka, kemudian terbentuklah jejaring maya. Para admin --kecuali dua akun 'senior' @NUgarislucu dan @MuhammadiyahGL-- kemudian bergabung dalam sebuah grup Telegram yang mereka sebut GL Sejagat. 

"Pokoknya, yang akunnya muncul pada bulan Mei itu kami hampir serentak. Padahal kami tidak saling kenal, tapi jadi saling kontak," kata Agus.

Dalam grup itu, mereka juga kerap bertukar pikiran terkait konten dan narasi yang akan mereka lempar. Bukan apa-apa, meski memiliki banyak kesamaan visi, tiap-tiap akun tetap mewakili masing-masing kelompok SARA yang memiliki ajaran dan nilai yang berbeda. Yang jelas, dua kata yang mereka tanamkan di dalam masing-masing akun: Garis Lucu.

 

Tag: gembira dalam agama

Bagikan: