Melihat Sisa Kejayaan Pasar Barang Antik Jalan Surabaya

| 31 Aug 2019 18:54
Melihat Sisa Kejayaan Pasar Barang Antik Jalan Surabaya
Suasana di Pasar Barang Antik Jalan Surabaya, Jakarta Pusat. (Diah/era.id)
Jakarta, era.id - Sore itu, matahari bergegas kembali ke peraduan. Di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, Ismed Anom (61) sibuk mengelap patung kuno yang agak berdebu. Maklum, letak kios Ismed memang berhadap-hadapan dengan jalan raya. 

Ismed adalah salah satu pedagang pasar barang antik. Pasar yang dikelola oleh Dinas UMKM ini merupakan satu dari tujuh pasar tradisional yang bisa dijadikan destinasi wisata saat mengunjung Provinsi DKI Jakarta.

Kepada era.id, Ismed bilang dirinya sudah menjadi pedagang barang antik sejak tahun 1990. Sambil menengguk kopi hitam dan rokok di tangan kirinya, dia menunjukkan apa saja barang-barang yang ia jual. 

Dilihat dari dalam kiosnya, Ismed menjual berbagai barang antik seperti guci, patung, topeng, benda kristal, uang koin, peralatan rumah tangga yang terbuat dari keramik, mainan tradisional, piringan hitam dan jam kuno dari Eropa. 

"Yang saya jual paling mahal itu ada jam kuno dari Eropa, harganya Rp15 juta dan itu masih berfungsi. Harganya cukup tinggi karena benda itu memang asli dibuat di Eropa," tutur Ismed, Sabtu (31/8/2019).

Kata Ismed, barang elektronik yang dijajakan sebisa mungkin masih berfungsi, agar nilai jualnya tetap tinggi. Kalau ada barang yang rusak, kadang ia perbaiki sendiri. Kalau tidak, ia memanggil mekanik untuk membetulkannya. 

Enggak cuma itu, benda antik yang dijual pedagang lain di sepanjang Jalan Surabaya lebih beragam lagi, seperti wayang, lukisan, buku terbitan lama, kamera, pemutar musik, gramofon, senjata, telepon, perlengkapan perang kuno, manik-manik, lampu dinding, hingga pajangan-pajangan antik lainnya. 

Selama hampir tiga puluh tahun berjualan, Ismed bilang 60 persen merupakan turis mancanegara. Sementara, sisanya merupakan kolektor benda asing, atau warga lain yang membeli untuk sekadar mengenang romantisme masa lalu atas benda-benda antik ini. Ada juga pedagang lain yang membeli di tempatnya untuk dijual kembali. 

"Barang-barang di sini murni tanpa ada unsur mistisnya, lho," kata Ismed sedikit tertawa. 

Pernah dikunjungi tokoh dunia

Ketua Paguyuban pedagang barang antik di Jalan Surabaya, Nanang Suryana (62) menjadi salah satu pedagang yang sudah berjualan sejak tempat ini pertama didirikan. 

Nanang sebetulnya enggak menjual barang antik. Barang yang ia jajakan berupa koper, tas, jam tangan, dan sepatu kulit. 

"Saya juga jual tas bikinan sendiri yang terbuat dari aluminium. Ini bisa buat menaruh alat-alat, atau membawa uang. Kalau koper lain kebanyakan importir dari Cina. Harganya paling mahal Rp1,5 juta dan paling murah Rp250 ribu. 

Nanang lalu menceritakan sejarah berdirinya pasar ini. Mulanya, pada tahun 1969, pedagang hanya menggelar lapak tanpa atap. Kemudian, lapak ini mulai dibuatkan tenda kerangka besi saat diresmikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin pada 1974. Sampai akhirnya, pada 1985 barulah dirombak menjadi permanen dengan total 202 kios. 

Meski kios-kios yang didirikan tampak sederhana, Nanang bilang pasar barang antik ini cukup terkenal. Dengan semringah ia bilang bahwa Presiden Amerika Bill Clinton sempat menaruh jejak di pasar ini saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Nonblok yang pada 1992 digelar di Jakarta. 

"Presiden Bill Clinton saja sempat ke sini, melihat-lihat barang antik. Saat ke sini dia mendapat penjagaan ketat," tutur Nanang. 

Enggak cuma itu, Nanang bilang tokoh lain juga pernah datang ke sini, seperti raja dari Swedia, yang ia lupa namanya, serta pemain film Rambo, Sylvester Stallone. 

"Sayangnya saat itu kami enggak mendokumentasikan sih, jadi enggak bisa dipasang sebagai bukti kalau mereka pernah ke sini," ungkap dia. 

Penjualan yang semakin lesu

Saat ditanya hasil penjualan. Raut muka Nanang langsung lesu. Ia mengaku, sekarang ini hasil penjualan makin sepi, jauh dari tahun sebelumnya.

"Paling ramai saat zaman Gubernur Ali Sadikin, saat itu kan Presiden Soeharto menggencarkan swasembada pangan. Mungkin juga karena zaman sudah canggih, orang semakin mudah berbelanja online," tutur dia. 

Memang benar apa yang dibilang Nanang. Saat ini pemerintah makin menggencarkan sektor impor. Terlebih lagi perkembangan teknologi makin memudahkan orang berbelanja sudah bisa lewat ponsel, tanpa perlu pergi ke tempat penjualan. 

Meski diterpa penurunan omset penjualan, Nanang legawa. Ia dan pedagang lain di pasar ini tak merasa perlu menuntut pemerintah untuk lebih menyejahterakan mereka. 

"Kami udah enjoy aja seperti ini kita jalankan bersama. Kita diberikan tempat di sini saja sudah bersyukur. Rejeki kita sudah ditakdirkan masing-masing," imbuhnya. 

Rekomendasi