Menelaah Penyebab Kecelakaan Maut di Tol Cipularang

Tim Editor

Kecelakaan mau di Tol Cipularang. (Foto: akun Twitter Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta @dkk_purwakarta)

Jakarta, era.id - Kelebihan muatan pada angkutan truk pengangkut tanah dianggap jadi penyebab kecelakaan beruntun di jalan Tol Cipularang Kilometer 91 arah Jakarta, Senin (2/9). 

Truk ini sedianya berkapasitas 20 ton. Tapi, nyatanya dia membawa muatan sampai 34 ton yang diangkut dari Kabupaten Bandung menuju Karawang.

Kelebihan muatan ini yang membuat sistem pengereman kendaraan tersebut terganggu. Ditambah, jalanan di lokasi kejadian sedikit menurun dan membuat truk hilang kendali. Itu pula yang membuat kendaraan ini menabrak apa saja yang ada di depannya hingga melibatkan 21 kendaraan.

Kapolda Jawa Barat Irjen Rudi Sufahriadi yang memastikan hal itu setelah anggotanya melakukan pemeriksaan tempat kejadian perkara. 

"Dari keterangan saksi, kendaraan tersebut mengangkut 34 ton tanah merah. Padahal, kapasitas dari dump truck itu hanya 20 ton. Jadi jelas, itu overload," katanya dilansir Antara, Rabu (4/9/2019).

Kapolres Purwakarta AKBP Martius mengatakan, kecelakaan ini melibatkan dua dump truk yang dimiliki satu perusahaan yang sama. Salah satunya dikendarai Subana.

Kepada polisi, Subana bercerita tentang kecelakaan ini. Dia mengatakan, awalnya dua truk ini berjalan sejajar. Truk yang dikemudikan Subana berada di depan truk rekannya, Dedi Hidayat. 

Tak berapa lama, Dedi menyalip Subana. Dedi menelepon, dan bilang remnya blong akibat kurang angin. Namun, selang berapa menit, Dedi menelepon lagi dan bilang, remnya sudah normal. 

Setelah itu, mereka terpisah jarak. Selanjutnya, entah bagaimana truk Dedi terguling. Sementara, truk Subana masih jauh di belakang. 

Kemudian, empat kendaraan terhenti karena truk Dedi terguling. Truk milik Subana pun sampai di lokasi. 

Tapi, truknya kehilangan kendali karena rem blong dan menabrak semua kendaraan yang ada di depannya, termasuk membuat kecelakaan beruntun di belakangnya. Dedi pun tewas atas peristiwa ini.

Kecelakaan ini mengakibatkan delapan orang meninggal dunia dan puluhan orang luka-luka. Empat korban meninggal sudah diidentifikasi, sementara sisanya belum. 

Empat korban yang meninggal tersebut adalah Ngendi Budiyanto (62) warga Jakarta Selatan, Iwan (34) warga Tangerang, Dedi Hidayat (45) warga Cilincing, Jakarta Utara serta Hendra Cahyana (64) warga Tanjung Priok, Jakarta Utara.


Kecelakaan beruntun di Tol Cipularang, Purwakarta. (Foto: Instagram @warung_jurnalis)

Evaluasi tol Cipularang

Dirjen Perhubungan Darat (Kemenhub) Budi Setiyadi menduga, kecelakaan di lokasi ini terjadi karena geometrik jalan yang tidak biasa. Sebab, di lokasi ini kondisinya agak tikungan dan menurun. 

Ditambah, ada kencederungan pengendara yang dari arah Bandung menuju Jakarta akan memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi saat melintasi jalur ini.

"Nah mungkin di situ lah pada saat dari Bandung menikung itu mungkin kecepatan cukup tinggi kemudian turunan gitu," kata dia.

Namun Budi belum mengambil kesimpulan resmi penyebab kecelakaan tersebut. Kemenhub pun menerjunkan tim untuk mengetahui penyebab pastinya.

Menteri Perhubungan Budi Karya membentuk tim untuk menganalisis kondisi jalur Tol Cipularang KM 90 yang kerap menjadi lokasi kecelakaan agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

"Karena yang sering terjadi (kecelakaan) kan di KM 90 ini. Kita harus evaluasi," katanya.

Budi menugaskan Dirjen Darat dan KNKT untuk melakukan evaluasi ini. Dia juga akan melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan kajian tersebut.

Menurut dia, kajian yang dilakukan membutuhkan waktu setidaknya satu minggu, terutama yang berkaitan dengan teknis dan struktur.

"Kalau yang berkaitan dengan teknis, struktural, kita butuhkan paling tidak satu minggu untuk menganalisis apa yang terjadi," katanya.

Tag: kecelakaan infrastruktur kecelakaan tol cipularang

Bagikan: