Pimpinan KPK yang Berserah Diri pada Presiden Jokowi

Tim Editor

Tiga pimpinan KPK (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Tak seperti biasanya pimpinan KPK menggelar konferensi pers, selain pengumuman hasil operasi tangkap tangan. Tiga pimpinan KPK yakni Agus Rahardjo, Laode M Syarif dan Saut Situmorang sepakat menyerahkan mandat tugas KPK kepada Presiden Joko Widodo. 

Terlebih setelah DPR memilih lima orang pimpinan baru untuk bekerja di KPK. Ketiganya kini hanya tinggal menunggu perintah dari Jokowi. 

"Kami pimpinan dengan berat hati, hari ini, kami menyerahkan tanggung jawab pengelolaan KPK kepada Bapak Presiden," kata Agus didampingi Laode dan Saut, beserta juru bicara KPK Febri Diansyah di hadapan wartawan di Lobby Gedung Merah Putih KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (13/9/2019).

Agus juga menjelaskan kegelisahan para pegawai KPK akan draft revisi UU KPK yang telah disetujuinya. Demikian juga harapannya agar ada langkah-langkah untuk penyelamatan dari Jokowi. 

"Sampai hari ini, kami draft (Revisi UU KPK) sebetulnya saja tidak mengetahui. Rasanya seperti sembunyi-sembunyi. Bahkan saya mendengar rumor, dalam waktu yang sangat dekat rasanya akan disetujui," ujar Agus.

Apalagi Agus merasa, saat ini KPK tengah diserang dari berbagai sisi, khususnya menyangkut revisi UU KPK yang terkesan diburu-buru. Ia menilai KPK tidak diajak berdiskusi oleh pemerintah dan DPR dalam revisi tersebut.

Ujungnya, kata Agus, asumsi soal pelemahan lembaga antirasuah ini muncul dan hal ini membuat mereka menjadi khawatir. "Kami menilai mungkin ini apa betul ingin melemahkan KPK," ungkap dia.

Hal senada juga disampaikan, Laode M Syarif sebelum meninggalkan awak media dan masuk ke dalam gedung KPK. Tak banyak yang disampaikan oleh Syarif, dirinya hanya berharap pendapat dan suara mereka didengar oleh Presiden Jokowi.

"Kami sangat berharap pada pimpinan tertinggi di Indonesia, kami diminta juga, lah, pendapatnya agar kami bisa jelaskan kepada publik dan kepada pegawai di KPK. Kami serahkan tanggung jawabnya dan tetap melaksakan tugasnya. Tapi, kami tunggu perintah presiden," ujar Syarif.



Sementara pimpinan KPK lainnya, Saut Situmorang yang telah lebih dulu mengirimkan surat pengunduran dirinya dari lembaga antirasuah itu memilih tak banyak berkomentar. Ia mengaku hanya sedang berkunjung ke lembaga tempatnya bekerja selama 4 tahun beberapa bulan itu.

"Saya hanya berkunjung. Bukan kembali lagi. Sudah dibaca saja emailnya," tegas Saut sebelum masuk ke dalam Gedung KPK.

Tak ada sesi tanya jawab layaknya konferensi pers yang biasa diikuti wartawan. Setelah ketiga pimpinan itu masuk, diikuti pegawai KPK yang langsung membubarkan diri.

Di saat yang bersamaan, sejumlah sejumlah aktivis antikorupsi yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Anti Korupsi meletakkan sebuah keranda yang ditutupi kain hitam dan menaburkan bunga di atas keranda itu. Menurut mereka, keranda berkain hitam ini menjadi tanda bahwa KPK telah mati.

Sebelumnya, sekelompok massa membuat kericuhan di pelataran gedung Merah Putih KPK. Aksi unjuk rasa itu berlangsung ricuh dengan pengerusakan sejumlah barang seperti karangan bunga dan kain hitam yang menutupi logo KPK.
 

Tag: kpk dpr superpower ruu tipikor

Bagikan: