Perangi Perubahan Iklim, Greta Thunberg Terima Nobel Alternatif

Tim Editor

Aktivis muda Greta Thunberg. (Twitter @GretaThunberg)

Jakarta, era.id - Berdiri di tengah suhu dingin, merelakan kelas setiap hari jumat, bertarung nyawa melintasi Atlantik, semua usaha remaja asal Swedia ini dalam memerangi perubahan iklim global tidak sia-sia. Greta Thunberg dianugerahi Nobel Alternatif Swedia.

Penghargaan ini diberikan kepada Thunberg karena telah menginspirasi banyak orang dan memperkuat tuntutan kepada para politikus untuk mengambil tindakan nyata dalam perubahan iklim yang mendesak, demikian pernyataan Right Livelihood Foundation, dikutip Reuters (25/9/2019).

Thunberg yang memprakarsai gerakan masif Friday for Future ini mengecam bahkan memarahi para pemimpin dunia karena gagal mengatasi perubahan iklim dalam pidato emosionalnya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim di Markas PBB di New York, kemarin.

Setahun yang lalu, Thunberg memulai aksinya dengan berdiri di depan gedung Parlemen Swedia dengan papan bertuliskan 'skolstjerk for klimatet'  atau 'pemogokan sekolah untuk iklim'. Usahanya ini kemudian menginspirasi murid-murid di seluruh dunia untuk mulai melakukan mogok sekolah dengan melakukan aksi protes turun ke jalan.

"Dengan perhargaan ini terhadap Greta Thunberg, kami menghormati salah satu pemimpin dalam elemen masyarakat sipil yang paling efektif dan menginspirasi setiap manusia untuk membuat perbedaan," ucap Direktur Eksekutif Yayasan Livelihood Foundation Ole von Uexkull.


Infografik (Mahesa/era.id)

Thunberg adalah satu dari empat penerima Right Livelihood Awards atau dikenal sebagai Nobel Alternatif Swedia. Ketiganya adalah pemimpin adat Brasil Davi Kopenawa dari Yanomami Association, pembela hak-hak perempuan China Guo Jianmei, dan pembela hak asasi manusia di Western Sahara Aminatou Haidar.

"Dengan penghargaan Right Livelihood 2019, kami menghormati empat visioner praktis yang kepemimpinannya telah menginsiprasi jutaan orang untuk mempertahankan hak-hak mereka dan berjuang untuk masa depan yang layak bagi semua penduduk Bumi," demikian bunyi pernyataan yayasan nobel itu.

Dikutip dari LA Times, selain dianugerahi Nobel Perdamaian Alternatif, masing-masing peraih nobel juga akan menerima hadiah uang tunai sebesar 1 juta krona Swedia atau sekitar Rp1,4 miliar.

Sebagai informasi, The Right Livelihood Award ini didirikan 1980 oleh filantropis Jerman-Swedia bernama Jakib von Uexkull. Dikenal sebagai Nobel Alternatif, ini merupakan penghargaan internasional untuk menghormati dan mendukung orang-orang ataupun organisasi pemberani yang memberi solusi visioner untuk permasalahan global.

Dikutip dari situs resminya, Right Livelihood Award ini adalah penghargaan bagi masyarakat dan mereka yang berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Penghargaan ini bisa berasal dari semua elemen masyarakat. Ajang perhargaan ini diadakan di Stockholm setiap tahunnya dengan empat pemenang. 

Tag: aktivis mahasiswa hari lingkungan hidup

Bagikan: