Mengenal Lebih Jauh Dandhy Dwi Laksono dan Ananda Badudu

Tim Editor

Foto Dandhy Dwi Laksono diambil dari @dandhy_laksono

Jakarta, era.id - Aktivis Dandhy Dwi Laksono, dan Ananda Badudu ditangkap polisi. Buntutnya, tagar #BebaskanDandhy dan #BebaskanAnandaBadudu menjadi trending hari ini, Jumat (27/9). Sejumlah petisi online diluncurkan agar mereka bisa bebas.

Dandhy yang merupakan jurnalis sekaligus pendiri Watchdoc, diduga dijerat pasal karet UU ITE. Sedangkan Ananda diduga ditangkap karena dianggap mentransfer dana untuk massa aksi di DPR. 

Dandhy Dwi Laksono dikenal sebagai jurnalis yang pernah bekerja di beberapa media cetak, radio, online dan televisi. Dari pengalamannya sebagai jurnalis, ia sempat menulis buku berjudul Indonesia for Sale dan Jurnalisme Investigasi.

Dandhy sempat ramai dibicarakan usai menyutradai pembuatan film dokumenter Sexy Killers di bawah rumah produksi yang ia dirikan, WatchdoC. WatchdoC berdiri sejak 2009. Pada 2018, mereka sudah memproduksi 165 episode dokumenter, 715 feature televisi, dan sedikitnya 45 karya video komersial dan non komersial.

Dandhy dikenal sebagai orang yang vokal dalam mengeritik pemerintah. Dalam film Sexy Killers yang berdurasi 1,5 jam Dandhy menelusuri proses penambangan batu bara di Kalimantan sampai dibakar di PLTU agar menjadi listrik yang menyebabkan dampak lingkungan dan kesehatan.  

Film ini sudah ditonton sekitar 26 juta orang di YouTube itu. Dandhy tak segan menyinggung beberapa nama politisi yang kini berada di lingkar kekuasaan, seperti Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. 

Bahkan, Dandhy juga menyebut sosok putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, sebagai pemilik perusahaan yang diduga dialiri modal dari politisi pemilik perusahaan tambang. 


Dandhy D Laksono (Foto: Twitter @Dandhy_Laksono)

Dokumenter Sexy Killers merupakan hasil Ekspedisi Indonesia Biru berkeliling Indonesia satu tahun. Selain film ini, Watchdoc telah memproduksi dokumenter yang memotret masalah lingkungan lain seperti Samin vs Semen soal Pabrik semen di Jawa Tengah, Kala Benoa tentang Teluk Benoa di Bali, dan Asimetris tentang sawit.

Pada 2017, Dhandy juga pernah dilaporkan karena tulisannya yang berjudul Suu Kyi dan Megawati yang membuatnya dilaporkan Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur, organisasi sayap PDI Perjuangan karena dianggap menghina Megawati Sukarnoputri. 

Sementara, satu orang yang ditangkap oleh polisi hari ini adalah Ananda Badudu. Dia punya latar belakang yang sama dengan Dandhy, yakni seorang jurnalis. Cucu dari tokoh Bahasa Indonesia Jus Badudu ini pernah bekerja di majalah Tempo dan saat ini bekerja di VICE Indonesia. 

Selain seorang jurnalis, Ananda juga dikenal sebagai musisi. Ia bersama Rara Sekar mendirikan duo bernama Banda Neira pada akhir tahun 2012 di Bandung. Ananda menjadi gitaris, pencipta lagu, sekaligus vokalis. 


Ananda Badudu (Foto: Instagram @anandabadudu)

Banda Neira banyak dikenal publik khususnya anak muda. Band ini berhasil membuat dua album bertajuk Di Paruh Waktu (2013) dan Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti (2016). Namun pada Desember 2016, duo ini memutuskan berpisah. 

Pagi tadi, dia ditangkap polisi karena menggalang dana untuk mahasiswa yang beberapa hari lalu menggelar aksi demonstrasi menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK. Dalam demo mahasiswa di DPR ini ia juga turut menyatakan tuntutannya. Ia menilai beberapa RUU yang akan disahkan oleh DPR menciderai demokrasi. 

Tag: uu ite polri aktivis mahasiswa

Bagikan: