Hari Kopi Internasional: Bisnis Kopi dan Nasib Malang Petani

Tim Editor

Ilustrasi (S. Hermann & F. Richter/Pixabay)

Jakarta, era.id - Hari Kopi Internasional yang jatuh pada hari ini telah mencatat sejarah baru bahwa kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban, termasuk di Indonesia. Keberadaan coffee shop, misalnya, bak jamur di musim penghujan. Berapa pun harga secangkirnya dibanderol kopi tak pernah kehilangan peminat.

Di tengah tingginya minat orang yang ambil bagian dari bisnis ini, nasib petani kopi masih jadi 'PR' bersama yang entah sampai kapai selesainya. Pendapatan petani kopi terus merosot seiring dengan anjloknya harga kopi dunia.


Ilustrasi (Pixabay)

Mirisnya nasib para petani kopi ini sempat diungkap Wakil Presiden Jusuf Kalla saat forum 'Aksi Bersama Mengatasi Krisis Harga Kopi dan Mencapai Produksi Kopi Berkelanjutan' di Markas Besar PBB, New York, beberapa hari lalu.

Pria yang akrab disapa JK itu mengatakan, sebanyak 1,8 juta petani kopi di Indonesia sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup di antara krisis harga kopi dunia. "Petani kecil adalah korban yang paling dirugikan," kata JK dilansir dari situs wapresri.go.id.

JK menuturkan, sejak 1982, harga biji kopi dunia turun hingga 70 persen. Penyebab paling mendasar adalah kelebihan pasokan produksi biji kopi dunia.

Dengan menurunnya harga kopi, petani kecil mengalami kerugian. JK bahkan mengatakan, menanam kopi tidak lagi menjadi sumber penghidupan yang diminati sehingga para petani memutuskan beralih ke sektor lain.


Ilustrasi (Pixabay)

Baca Juga : Haruskah Orang Tua Khawatir Anak Minum Kopi?

Sementara itu, konsumsi kopi nasional terus bertambah. Angka itu tercatat di Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian. Pada 2016, konsumsi kopi nasional mencapai sekitar 249. 800 ton. Sedangkan pada 2018, angkanya tumbuh menjadi 314.400 ton.

Pemerintah memprediksi, konsumsi kopi Indonesia terus tumbuh rata-rata sebesar 8,22 persen per tahunnya. Kemudian pada 2021, konsumsi kopi diprediksi mencapai angka 370.000 ton. Terus meningginya tingkat konsumsi kopi secara nasional inilah yang mendorong menjamurnya bisnis kopi.

Penasehat Asosiasi Kopi Specialty Indonesia (SCAI) Lisa Ayodhia bilang, gerai kopi sangat mudah ditemui dan saling bersaing menawarkan variasi rasa minuman kopi yang sesuai selera generasi muda, khususnya di kota-kota besar. Tak hanya konsumen yang muda, pelaku bisnisnya pun banyak dari kalangan milenial, bahkan ada yang dari generasi Z (rentang usia 15-24 tahun).

Fenomena itu tak mengherankan. Menurut Lisa, bisnis kopi sangat menjanjikan. Sebab, bahan bakunya melimpah dan pasarnya besar. Apalagi, Indonesia punya puluhan jenis kopi dari berbagai daerah.

"Maka, tidak heran kalau bisnis kopi berkembang, mulai dari 'starbike' (penjual kopi keliling pakai sepeda) yang harga kopinya cuma Rp3.000-Rp5.000 sampai ke kafe-kafe di mal yang menawarkan kopi spesial. Semua ada pasarnya," Lisa Ayodhia dilansir dari sindonews.com, belum lama ini.

Di tengah krisis harga kopi global, keuntungan bisnis kopi ini tidak sama dengan yang didapat petani kecil. Kalangan petani kopi dalam negeri tak bisa berbuat banyak menghadapi serangan pasokan kopi dari Brazil dan Vietnam, yang membuat harga kopi menjadi murah.

Fajar Sasora, salah satu pembina kelompok tani kopi di wilayah Tanggamus dan Lampung Barat, memandang pemerintah bisa memberikan bantuan dengan memberikan akses pupuk. Cara ini dianggapnya bisa sedikit mengurai permasalahan harga itu

"Harga kopi di petani di tingkat petani di kisaran Rp17.000 sampai Rp19.000 per kilogram, di eksportir Lampung harga basis asalan Rp20.500 per kilogramnya," katanya, dilansir dari Bisnis.com, Senin (30/10).

Baca Juga : Membangun Kuliner Jalanan dari Halte ke Halte

Sementara, dalam forum internasional, Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan beberapa usulan unutuk mengatasi masalah merosotnya harga kopi dunia.



Pertama, memperluas pasar kopi dan mengendalikan jumlah pasokannya. Dia mengatakan, berbagai laporan International Coffee Organization telah menyoroti potensi di sektor nontradisional. Antara lain, biji kopi sebagai bahan baku industri kesehatan.

Kedua, peningkatan kapasitas petani. Menurut JK, hal ini penting agar petani dapat menghasilkan kualitas kopi yang baik dan bernilai tambah.

Ketiga, perlu dibangun kemitraan antara industri dan petani kecil. Sebagai contoh, industri kopi besar memberikan CSR. JK memandang, ini bisa meningkatkan kapasitas petani kecil.

Keempat, penetapan harga kopi minumum. JK mengatakan, itu adalah salah satu contoh upaya menjaga keseimbangan harga kopi bagi petani, industri, dan konsumen. "(Ini untuk) masa depan yang adil dan sejahtera bagi petani kopi, industri, dan konsumen," katanya.

Tag: kopi gayo

Bagikan: