Tak Ada Gas Air Mata saat Demo Kawal Pelantikan Anggota DPR

Tim Editor

Aksi kawal pelantikan Anggota DPR (Diah/era.id)

Jakarta, era.id - Aksi unjuk rasa aliansi mahasiswa yang tergabung dalam BEM Seluruh Indonesia pada hari pelantikan Anggota DPR periode 2019-2024, Selasa (1/10) kemarin terjadi tanpa berujung ricuh.

Tak ada gas air mata yang mesti ditembakan polisi. Tak ada pula mahasiswa yang pulang ke rumah dengan pakaian basah karena disemprot air dari mobil meriam air.

Dari awal, koordinator aksi mahasiswa wilayah Jakarta, sekaligus Ketua BEM UNJ Muhamad Abdul Basit sudah menegaskan dalam oratornya, tak ada niatan mereka datang merusuh. 

Selama demo, seluruh mahasiswa yang hadir diwajibkan mengenakan almamater kampusnya masing-masing. Mereka juga membuat barisan yang ketat agar tak ada perusuh yang menyusup. 

"Tolong rapatkan barisan kita kawan-kawan. Jika ada yang tidak memakai almamater universitas, jangan diberi kesempatan untuk mendekat ke barisan kita," kata Abdul dalam orasinya di bawah flyover Ladokgi, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Selasa (1/10).

Abdul menjelaskan tujuan mahasiswa kembali menggelar ini sebagai gong pengawalan terhadap anggota DPR yang akan menjalankan tugasnya selama lima tahun ke depan.

Mereka punya sejumlah tuntutan untuk 575 anggota parlemen baru, di antaranya menuntut pemberantasan KKN, restorasi demokrasi, reforma agraria, kesatuan bangsa, dan penyelesaian kasus HAM.

"Kita fokus terkait tuntutan reformasi. Dari awal kita mengambil momentum di pelantikan DPR hari ini, DPR hari ini harus mau menerima atau menyelesaikan PR yang belum diselesaikan DPR sebelumnya," jelas dia.

Mereka juga punya tagar atau hashtag khusus terkait aksi untuk diramaikan di media sosial, yakni #TuntaskanReformasi dan #KawalDariAwal. Abdul mengajak rekan mahasiswa menggunakan hashtag ini di media sosialnya.

"Kita ramaikan dua hashtag ini di media sosial, silakan narsis dan upload foto dengan hashtag yang telah kita tentukan," seru Abdul.

Penggunaan tagar ini ditujukan agar aksi mereka tak ditunggangi kelompok yang memiliki kepentingan tertentu, termasuk di media sosial sekalipun.

"Kita tidak setuju terkait dengan adanya ditunggangi. (Tagar) #TurunkanJokowi pun tidak termasuk dalam narasi kita," tegas Abdul.

Selain berorasi dan menyanyikan lagu serta yel-yel khas perjuangan di kalangan mahasiswa, mereka juga menyerahkan bunga kepada aparat yang berdiri tegak memblokade jalan agar mereka tak mendekati Gedung DPR. Bahkan, ada mahasiswa yang tak segan memberi pelukan hangat kepada aparat, yang dibalas dengan senyum tipis.


Aksi kawal pelantikan Anggota DPR (Diah/era.id)

Di sela-sela orasi, mahasiswa juga melakukan aksi teatrikal. Satu mahasiswa terubujur kaku dengan taburan bunga di atasnya. Satu orang membacakan doa tahlilan, dan tiga mahasiswa lainnya meratapi dengan raut muka kesedihan.

Mereka juga meletakkan tiga buah batu nisan. Satu nisan sebagai bentuk ungkapan belasungkawa terhadap rekan mahasiswa meninggal dalam bentrokan di Kendari, Immawan Randi dan Yusuf Qodari, dua nisan bertuliskan 'RIP KPK' sebagai simbol pelemahan KPK sejak revisi UU KPK diketok palu beberapa waktu lalu.

Hingga petang menjelang, aparat kepolisian yang sebelumnya berdiri mengadang barisan mahasiswa, mulai mundur dan mengambil posisi istirahat. Tak ada pembubaran paksa kepada mahasiswa.

Benar saja, mahasiswa menepati janji mereka untuk melakukan aksi damai ini. Sejak pukul 18.00 WIB, mahasiswa tampak membubarkan diri satu per satu untuk pulang. Hingga sekitar pukul 20.00 WIB, tak ada lagi mahasiswa pendemo yang masih berada di lokasi aksi.

Tag: ketua dpr demo peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: