Boeing Taati Hasil Rekomendasi KNKT

Tim Editor

Lion Air (Foto: Twitter @LionAirID)

Jakarta, era.id - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah merilis hasil investigasi kecelakaan Lion Air JT610 pada Oktober tahun lalu. KNKT menemukan sembilan dugaan penyebab jatuhnya pesawat jenis Boeing 737-MAX8 tersebut setelah terbang selama 13 menit dari Jakarta menuju Pangkal Pinang, hingga mengakibatkan 189 orang meninggal dunia.

KNKT menyebut, penyebab jatuhnya pesawat itu karena kegagalan perangkat bernama Anti-Stall utama, dan ketergantungan pada sensor keseimbangan Angle of Attack (AOA) tunggal yang berdampak pada sistem Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Sistem MCAS ini lebih rentan terjadinya kegagalan.

Produsen pesawat Boeing 737 Max 8, Boeing Co., juga telah menerima rekomendasi dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT terkait kecelakaan pesawat Lion Air JT 610.

"Kami memuji Komite Keselamatan Transportasi Nasional Indonesia atas upaya luasnya untuk menentukan fakta-fakta kecelakaan ini, faktor-faktor penyebabnya, dan rekomendasi yang ditujukan untuk tujuan kita bersama agar hal ini tidak pernah terjadi lagi," kata Presiden & CEO Boeing Co. Dennis Muilenburg, lewat keterangan tertulis, Sabtu (29/10/2019).


Infografik (Ilham/era.id)

Boeing pun segera membahas hasil penyelidikan KNKT dan siap menaati semua rekomendasi yang dikeluarkan komite keselamatan asal Indonesia itu. "Kami sedang membahas rekomendasi keselamatan KNKT, dan mengambil tindakan untuk meningkatkan keselamatan 737 MAX untuk mencegah agar kondisi kontrol penerbangan yang terjadi dalam kecelakaan ini tidak terjadi lagi. Keselamatan adalah nilai abadi bagi semua orang di Boeing dan keamanan dari terbang di depan umum, pelanggan kami, dan para awak di pesawat," ucapnya.

Sembilan Faktor

Berdasarkan kerusakan itu, KNKT menyebut sembilan faktor yang saling berkaitan dalam kecelakaan itu sebagai berikut:

1. Asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 (MAX), meskipun sesuai dengan referensi yang ada ternyata tidak tepat.

2. Mengacu asumsi yang telah dibuat atas reaksi pilot dan kurang lengkapnya kajian terkait efek-efek yang dapat terjadi di kokpit, sensor tunggal yang diandalkan untuk sistem peringatan dini atau MCAS dianggap cukup dan memenuhi ketentuan sertifikasi.

3. Desain MCAS yang mengandalkan satu sensor rentan terhadap kesalahan.

4. Pilot mengalami kesulitan melakukan respon yang tepat terhadap pergerakan MCAS yang tidak seharusnya karena tidak ada petunjuk dalam buku panduan dan pelatihan.

5. Indikator penunjuk sikap atau Angle of Attack DISAGREE tidak tersedia di pesawat Boeing 737-8 (MAX) PK-LQP, berakibat informasi ini tidak muncul pada saat penerbangan dengan penunjukan sudut AOA yang berbeda antara kiri dan kanan, sehingga perbedaan ini tidak dapat dicatatkan oleh pilot dan teknisi tidak dapat mengidentifikasi kerusakan AOA sensor.

6. AOA sensor pengganti mengalami kesalahan kalibrasi yang tidak terdeteksi pada saat perbaikan sebelumnya.

7. Investigasi tidak dapat menentukan pengujian AOA sensor setelah terpasang pada pesawat yang mengalami kecelakaan dilakukan dengan benar, sehingga kesalahan kalibrasi tidak terdeteksi.

8. Informasi mengenai stick shaker dan penggunaan prosedur non-normal Runaway Stabilizer pada penerbangan sebelumnya tidak tercatat pada buku catatan penerbangan dan perawatan pesawat mengakibatkan baik pilot maupun teknisi tidak dapat mengambil tindakan yang tepat.

9. Kesembilan, beberapa peringatan, berulangnya aktifasi MCAS dan padatnya komunikasi dengan ATC tidak terkelola dengan efektif. Hal ini diakibatkan oleh situasi-kondisi yang sulit dan kemampuan mengendalikan pesawat, pelaksanaan prosedur non-normal, dan komunikasi antar pilot, berdampak pada ketidak-efektifan koordinasi antar pilot dan pengelolaan beban kerja. Kondisi ini telah teridentifikasi pada saat pelatihan dan muncul kembali pada penerbangan ini.
 

Tag: lion air jatuh

Bagikan: