Kata Warga Ibu Kota ISIS Atas Kematian al-Baghdadi

Tim Editor

Puing-Puing Kota Mosul (Dok. Reuters)

Jakarta, era.id - Kala itu, seorang pria yang asing bagi warga Mosul, Irak, naik ke mimbar salah satu masjid bersejarah bagi warga Irak. Namanya Masjid Al-Nuri. Ia adalah Abu Bakr al-Baghdadi yang dengan lantang memproklamirkan kekhalifahannya pada tahun 2014 silam. Saat itu, penduduk Mosul tak menyangka sepak terjang al-Baghdadi bakal membawa malapetaka.

"Pria aneh ini, yang belum pernah kami lihat sebelumnya naik mimbar sebagai ganti Imam kami yang biasanya," kata Fahd Qishmou (48), salah satu saksi mata pidato terkenal al-Baghdadi yang menyatakan diri sebagai khalifah ISIS seperti dilansir Reuters, Selasa (29/10/2019).

Masjid Al-Nuri sendiri merupakan salah satu simbol kebanggan kota Mosul. Masjid itu telah berusia 850 tahun, namun kini yang tersisa hanya tinggal reruntuhannya dan hancur sejak ISIS berdiri. "Dia datang ke masjid kami, tempat kedamaian kami, dan dia merubahnya menjadi neraka," tambah Qishmou.

Baca Juga : Bab Baru ISIS di Tangan 'si Profesor' 


Abu Bakr al-Baghdadi (BBC)

Menurut kesaksian warga, saat itu al-Baghdadi berbicara dengan tenang dan lantang. Pria 48 tahun itu juga selalu diapit para pengawalnya. Warga pun diminta untuk berbaiat kepadanya.

"Tiba-tiba, dia menyatakan Negara Islam telah lahir, dan meminta kita semua untuk menyatakan sumpah setia," kata Qishmou yang kini bekerja sebagai supir taksi, setelah toko yoghurtnya hancur selama perang untuk merebut kembali Mosul.

Baca Juga: Kematian Pimpinan ISIS Baghdadi dan Waspada Terorisme di Nusantara

Warga lainnya bernama Abu Omran merasa saat pidato, lulusan Doktor dari Universitas Baghdad itu akan membawa kehancuran bagi warga Mosul kelak. "Saya memberi tahu putra saya, pria itu akan membawa kematian dan kehancuran, dan omongan saya itu benar," kata Abu Omran.

Abu Omran merasa dalam masa perang atau saat ISIS berkuasa warga Mosul, harus hidup dalam kesengsaraan. "Karena dia, kami kelaparan, kami hidup dengan tepung dan air selama berbulan-bulan, serta meringkuk di ruang bawah tanah kami," kata Abu Omran.

Abu Orman mengemukakan perasaannya selama perang berkecamuk di tempat tinggalnya tersebut. Menurutnya, kematian al-Baghdadi tidak mengubah apa pun dalam hidupnya yang penuh derita setelah perang usai.

"Kamu bertanya apakah aku senang dia meninggal? Saya akan senang jika rumah saya tidak rubuh kena bom, jika saya tidak dicambuk dan ditembak (Oleh anggota ISIS), jika anak saya tidak terbunuh. Kami bahkan tidak pernah merasakan kemenangan, bagaimana kami bisa bahagia lagi?" tambah Abu Orman.

Dua kesaksian warga itu adalah gambaran bagaimana teror menghantui warga selama tiga tahun di dua negara. ISIS menyerbu Irak dan Suriah pada 2014 dan dikalahkan pada 2017. Mosul sendiri adalah ibu kota bagi ISIS.

Baghdadi sendiri telah dinyatakan tewas setelah pasukan khusus AS saat melakukan penyerbuan di persembunyiannya, kawasan yang berada di barat laut Suriah, Idlib. Kematian Baghdadi itu diumumkan Presiden AS, Donald Trump pada Minggu (27/10).

Tag: krisis moneter

Bagikan: