Jangan Salah Fokus Melihat Tahi di Tameng Polisi

Tim Editor

Seorang anggota polisi membersihkan seragam dan tameng dari tahi (Dok. Polda Sultra)

Jakarta, era.id - Mahasiswa Kendari melempari polisi dengan tahi dalam bentrokan Senin (28/10) lalu. Bentrok bermula dari demonstrasi menuntut kepolisian mengungkap pelaku penembakan Muhammad Yusuf Kardawi dan Randi, dua mahasiswa Universitas Halu Oleo. Di tempat lain, enam polisi dihukum sanksi disiplin. Semoga kisah Yusuf dan Randi berujung pada keadilan, tak berhenti di cerita polisi yang bermandi tahi.

Long march ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Sultra Bersatu (Formasub) terhenti di perempatan jalan menuju Polda Sulawesi Tenggara di Jalan Haluoleo, Kendari. Di sana, mereka terlibat bentrok dengan kepolisian. Meriam air dan gas air mata polisi dibalas mahasiswa dengan lemparan batu dan tahi sapi yang mereka bungkus dalam kantong-kantong plastik bening.

Tahi-tahi itu berceceran di seragam, helm, dan tameng aparat. Menurut laporan Kompas.com, bau busuk tahi merebak di lokasi hari itu. Noda-noda kotornya melekat pada para aparat kepolisian. Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara AKBP Harry Goldenhardt mengonfirmasi kabar itu. “Itu beberapa dokumentasi kotoran/tinja yang dilemparkan massa pengunjuk rasa ke personel pengamanan,” ungkap Harry, Senin (28/10) lalu.

Bentrokan juga melukai sejumlah anggota kepolisian, termasuk Direktur Polisi Air Polda Sulawesi Utara Kombes Pol Andi Anugerah. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani perawatan medis. Andi dikabarkan mengalami luka di kepala dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Seorang anggota polisi membersihkan seragam dan tameng dari tahi (Dok. Polda Sultra)


Aksi mahasiswa langsung jadi perbincangan di media sosial. Maman Suherman alias Kang Maman, jurnalis yang juga dikenal sebagai akademisi mempertanyakan keberadaban mahasiswa. Selain Kang Maman, linimasa Twitter juga diwarnai berbagai pandangan lain. Akun @salaamitusalam, misalnya yang mengkritisi intelektual para mahasiswa yang notabene adalah kaum berpendidikan.
 
 

Di sisi lain, para pengguna Twitter justru membela para mahasiswa. Menurut mereka, apa yang dilakukan polisi kepada Yusuf, Randi, dan korban demonstrasi lain --baik meninggal ataupun luka-- jauh lebih tak dapat diterima. Beberapa akun bahkan menyindir para pembela polisi yang menurut mereka salah fokus dalam melihat kasus ini.
 
 

Mencari akhir adil

Sekitar satu kilometer dari lokasi bentrokan, Propam Polda Sulawesi Tenggara menggelar sidang. Dalam sidang itu, enam polisi dijatuhi sanksi disiplin karena senjata api mereka menewaskan Yusuf dan Randi. Keenam polisi disebut tak menaati perintah karena membawa dan menyalahgunakan senjata api di tengah tugas pengamanan demonstrasi mahasiswa menolak UU KPK dan RUU KUHP bermasalah bulan lalu.

Dalam keterangan pers, polisi mencantumkan identitas dari keenam polisi. Nama pertama adalah perwira di Polda Sulawesi Tenggara, AKP Diki Kurniawan. Selain Diki, ada nama Bripka Muhammad Arifuddin, Bripka Muhammad Iqbal, Brigadir Abdul Malik, Briptu Hendrawan, serta Bripda Fatur Rochim Saputro.

Sesuai Pasal 4 Huruf d, f, dan r PP RI Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Polri, keenam polisi dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, penundaan kenaikan gaji berkala selama satu tahun "..., penundaan pendidikan selama satu tahun, dan penempatan di tempat khusus selama 21 hari," tertulis dalam keterangan pers Polda Sulawesi Tenggara.

Sanksi ini ditolak tegas oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Sanksi disiplin bagi enam polisi yang menyebabkan tewasnya Yusuf dan Randi jelas tak setimpal. Beka Ulung Hapsara, komisioner, mendesak polisi memperberat sanksi bagi keenam polisi. Akhir yang adil jelas belum ditemukan dalam kasus kematian Yusuf dan Randi.

"Hukuman disiplin kepada enam orang ini harus setimpal dengan kesalahan yang sudah diperbuat," kata Beka ditulis Antara, Selasa (11/10).

Tak cuma memperberat hukuman, pengusutan lebih dalam juga harus dilakukan kepolisian. Bagi Komnas HAM, kasus ini belum selesai. Polisi harus memastikan siapa di antara enam orang polisi tervonis yang melakukan penembakan. Hal ini penting agar proses pidana terhadap keenam polisi --khususnya penembak-- dapat dijalankan di samping peradilan jalur Propam.

"Kesalahan yang diperbuat ini, pertama kan harus dijawab, apakah enam orang ini benar yang menembak dua orang itu. Itu yang kemudian kami ingin ketahui lanjut," tutur Beka.

Menurut penelusuran yang dilakukan, Komnas HAM memastikan Randi tewas karena tembakan peluru. Sementara Yusuf dikabarkan kehilangan nyawa akibat luka yang disebabkan benda tumpul. Ia sempat kritis sebelum meninggal dunia.

Beka Ulung Hapsara juga mengingatkan kemungkinan adanya korban lain dalam rentetan kericuhan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada September lalu. Beka memastikan data terkait jumlah korban masih akan bertambah.

"Masih simpang siur (jumlah korban). Karena ada data yang masuk ke kami, meninggal tiga orang di Jakarta Barat. Tapi, namanya berbeda. Nah ini kami sedang mengonfirmasi," kata Beka.

Tag: aksi mahasiswa 23-24

Bagikan: