40 Hari Merekayasa Solusi di Tanah Abang

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Penataan Tanah Abang di Jalan Jatibaru (era.id)

Jakarta, era.id - Tanah Abang begitu jadi momok di 100 hari pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Kondisinya saat ini sungguh bikin banyak pihak pusing kepala.

Sejak dulu, Tanah Abang memang kerap memercik keriuhan. Masalah persaingan usaha, PKL liar, premanisme hingga berbagai persoalan maladministrasi yang kerap meilbatkan aparat negara adalah sekelumit kisah Tanah Abang yang begitu khas.

Namun, kali ini agak berbeda. Upaya penataan yang dilakukan Pemprov DKI di bawah komando Anies justru jadi persoalan. Keputusan Anies merelokasi para PKL liar ke ruas Jalan Jatibaru di depan Stasiun Tanah Abang dikritik banyak pihak.

Niat Anies mungkin baik, merapikan trotoar dari lapak-lapak dagangan. Tapi, kebijakan itu nyatanya bertentangan dengan sejumlah peraturan.

Sebut saja Undang-undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang pada Pasal 28 Ayat 1 menyebut: Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan dan/atau gangguan fungsi jalan.

Entah apa Anies bisa begitu saja disalahkan dalam persoalan ini. Sebab, pelaksanaan kebijakan ini pun merupakan diskresi Anies sebagai gubernur, yang juga dijamin oleh Pasal 25 Ayat 1 Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum yang menyebut: Gubernur menunjuk/menetapkan bagian-bagian jalan/trotoar dan tempat-tempat kepentingan umum lainnya sebagai tempat usaha pedagang kaki lima.


(Infografis: Yuswandi/era.id)



Menyulut persoalan lain

Selasa (30/1), tepat 40 hari kebijakan ini bergulir. Bukan tanpa konsekuensi, kebijakan Anies menata PKL di Jalan Jatibaru berimbas pada berbagai aspek lain di sekitar alam raya Tanah Abang. Ragam masalah menyala, tersulut kebijakan ini. 

Keluhan pedagang Blok G misalnya, yang mengaku kecewa berat pada Anies. Deswita, seorang pedagang pakaian di Blok G yang mengaku sebagai pendukung Anies betul-betul patah hati, melihat pemprov justru memprioritaskan kepentingan para pedagang liar di atas kepentingan para pedagang yang jelas-jelas patuh terhadap peraturan daerah (perda).

"Saya sebagai pedagang Blok G dan pendukung Pak Anies sangat kecewa," cetusnya.

Kini, para pedagang mengakali dengan menggelar 'Pasar Malam'. Trotoar pun kembali dijadikan lapak berdagang di malam hari. Kondisi itupun memicu pedagang lain yang tak kedapatan tenda dagang di Jalan Jatibaru untuk menempati trotoar. 

Bukan hanya pedagang Blok G. Para pengemudi angkutan kota (angkot) yang biasa beroperasi di trayek bersinggungan Tanah Abang pun ikutan gerah. Kebijakan ini jelas merugikan mereka. Kini, hamparan aspal yang jadi sumber rezeki mereka telah ditutup tenda-tenda pedagang.

Satu-satunya kendaraan yang diizinkan melintas di Jalan Jatibaru sekarang hanya Bus TransJakarta berlabel Tanah Abang Explorer. 

Alhasil, para sopir angkot kini hanya punya malam hari, dan selipan waktu di luar pukul 08.00-18.00 WIB yang menjadi waktu beroperasinya pasar tumpah Jalan Jatibaru. 

Di hari ke-39 bergulirnya kebijakan ini, kekesalan para sopir membuncah. Mereka turun ke jalan. Ruas jalan di underpass Jatibaru dipadati puluhan angkot yang ditinggalkan pengemudinya.

Di depan Stasiun Tanah Abang, sejumlah unit bus Tanah Abang Explorer tampak tertahan, tak kuasa menerobos kerumunan sopir angkot yang berdemo memprotes kebijakan Pemprov DKI soal penataan kawasan Tanah Abang.

Dari ranah parlemen, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana (Lulung) angkat suara. Lulung mengaku paham betul keresahan para sopir. Sebab, ia pernah berdialog langsung secara mendalam dengan perwakilan para sopir. Menurutnya, para sopir masih tak menerima keberadaan PKL di ruas Jalan Jatibaru.

Menurut Lulung, permintaan para demonstran kali ini cenderung berbeda dengan permintaan sebelumnya. Jika dahulu mereka ingin rekayasa dilakukan ke atas jalan layang, kini mereka menyatakan keinginan untuk diizinkan kembali melintas di Jalan Jatibaru.

"Sekarang, pokoknya (permintaan mereka) PKL Jatibaru itu pergi. Jangan berdagang lagi. Dari kemarin sampai sekarang beda lagi, nih. Mereka (kemarin) minta ke atas, sekarang minta (Jalan Jati Baru) dibuka total" kata Lulung.

Selain itu, para sopir juga mengeluhkan arogansi Satpol PP yang mereka nilai kerap menghalangi upaya mereka mencari penumpang. "Mereka bilang, kalau kami diusilin di sana, kami enggak dapat uang. Tapi, kalau kami lewat pasar, terus diusirin tiga sampai empat lima detik kami dapat dua sampai empat penumpang," ungkap anggota Fraksi PPP itu.

Lulung mengakui, meski alokasi lahan dagang PKL di Jalan Jatibaru melanggar aturan, namun Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta memiliki hak diskresi yang juga dinaungi payung hukum.

Aksi protes sopir angkot beberapa hari belakangan membuat TransJakarta akhirnya memilih untuk menghentikan sementara pelayanan bus gratis Tanah Abang Explorer. 

Menurut pantauan era.id di lokasi, Selasa (30/1), sejak pukul 09.40 WIB, sejumlah angkot yang biasa beroperasi di kawasan Tanah Abang mulai kembali beraktivitas seperti biasa.

Aksi para sopir nampaknya menimbulkan hasil. Meski tak berbentuk solusi, koordinator aksi demo angkot, Rosyid, menyebut berhentinya operasional Tanah Abang Explorer memberi dampak positif pada omzet angkutan umum. 

"Keuntungan ada. Explore itu gratis, kalau penumpang itu diangkut satu orang tiga ribu. Sehari satu bus itu itu 100 (penumpang) kalau 20 bus? Itu duit sopir loh, secara tidak langsung," ujar Rosyid yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir angkot M 08 itu.

Terkait itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut terhentinya operasional Tanah Abang Explorer menyebabkan kerugian. Meski kecewa, Sandi mengaku dapat memahami keresahan para sopir angkot. 

Karenanya, pemprov, bersama Organda dan Dishub akan segera duduk bersama untuk mencari solusi guna menyelesaikan persoalan ini. "Sampai nanti teman-teman (Dishub dan Organda) ini bisa ada mekanismenya. Ada beberapa usulan. Itu nanti kita tampung semua," tutur Sandi. (Agatha, Bagaskara, Diah, Jafriyal, Leo, Yohanes, Yasir)

Tag: tanah abang kepemimpinan anies-sandi 100 hari anies-sandi

Bagikan: