Duka dari Sleman di Hari Kepanduan Internasional

| 22 Feb 2020 16:35
Duka dari Sleman di Hari Kepanduan Internasional
Siswi SMPN 1 Turi (Dok. BNPB)
Jakarta, era.id - Hari Kepanduan Sedunia diperingati tepat pada hari ini, Sabtu (22/2/2020). Gerakan kepanduan di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan pramuka.

Sebutan praja muda karana (pramuka) digagas oleh Presiden Soekarno sejak 14 Agustus 1961, yang juga dikenal dan dirayakan setiap tahunnya dengan Hari Pramuka.

Robert Baden-Powell yang lahir di Inggris pada 22 Februari 1857, merupakan tokoh pencetus gerakan kepanduan untuk melatih keterampilan, cara bertahan hidup, dan kebersamaan. 

Dicetuskan pada 1907, kini Gerakan Panduan memiliki lebih dari 50 juta anggota di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang tergabung dalam Gerakan Pramuka Indonesia.

Tapi kabar duka datang dari anggota pramuka dari SMPN 1 Turi Sleman. Ada delapan orang anggotanya tewas saat melakukan kegiatan susur sungai. Kegiatan yang sejatinya sangat mulia untuk membersihkan sungai, malah menjadi malapetaka. Delapan siswi tewas, dua orang lagi belum ditemukan dan 23 siswi menderita luka-luka. Sedangkan 239 siswi lainnya selamat.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan pihak sekolah yang dinilai ceroboh dalam kegiatan susur sungai yang melibatkan ratusan siswa dan siswi SMPN 1 Turi. Pihak sekolah diduga mengabaikan peringatan BMKG sehingga tidak menghitung faktor risiko dengan melakukan kegiatan susur sungai di musim hujan.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan seharusnya guru dan pelatih memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai tentang alam termasuk mempertimbangkan kondisi cuaca, jalur evakuasi, kemudahan naik dan turun ke badan sungai, dan debit sungainya, sebelum mengadakan kegiatan.

"Artinya perlindungan anak dan keselamatan anak-anak harus menjadi faktor utama dan pertama yang dipertimbangkan dan diperhatikan," ujar Retno melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (22/2/2020).

KPAI, kata Retno, menilai bahwa kegiatan susur sungai bagi anak-anak usia SMP tidak tepat, apalagi di musim hujan seperti saat ini. Idealnya, kegiatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, bukan anak dan remaja.

"Orang dewasa yang dimaksud adalah mereka yang telah memiliki keterampilan. Seperti TNI, Mapala, komunitas sungai, mereka-mereka yang telah terbiasa," tutur Retno.

Tags : banjir
Rekomendasi