Anies Baswedan, Kasus Pertama Korona, dan Frustasi dengan Kemenkes

Tim Editor

Anies Baswedan (Dok. Pemprov DKI)

Jakarta, era.id - Pemerintah provinsi DKI Jakarta mengaku sudah mulai memantau dan melacak kasus-kasus potensial virus korona baru pada Januari, atau lebih dari sebulan sebelum Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus infeksi pertama pada 2 Maret.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengungkapkan pada 6 Januari silam, setelah mendengar tentang kasus pertama virus yang berasal dari Wuhan itu dilaporkan mulai mewabah, ia mengumpulkan perwakilan dari semua rumah sakit di Jakarta.

"Kami sudah mulai mengadakan pertemuan dengan semua rumah sakit di Jakarta, memberi tahu mereka tentang apa yang pada waktu itu kami menyebut 'pneumonia Wuhan'," ujar Anies saat wawancara dengan Sydney Morning Herald, dan dikutip Senin (11/5/2020).

Sejak saat itu, orang dengan gejala mirip terinfeksi virus SARS baru tersebut dilaporkan makin meningkat. "Jumlahnya terus meningkat pada bulan Januari, pada bulan Februari, dan kemudian segera kami di pemerintah provinsi, semua diberi tugas untuk menangani COVID ini," kata Anies.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini lantas menyinggung pernah tak diizinkan untuk melakukan tes mandiri oleh Kemenkes dan wajib mengumpulkan spesimen ke Balitbang Kemenkes.

"Jadi, setiap kali kami memiliki kasus, kami mengirimkan sampel ke lab nasional (milik Kemenkes)," ungkapnya.

Anies mengaku terkejut saat tahu hasilnya semua negatif, padahal, semua spesimen berasal dari suspek atau PDP korona. Sepanjang Januari dan Februari, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto berulang kali menyangkal Indonesia memiliki kasus korona.

Anies juga tak sepakat bila dikatakan kurva kasus penularan COVID-19 di Indonesia sudah melandai. "Saya belum yakin apakah kita akan merata. Kita harus menunggu beberapa minggu ke depan untuk menyimpulkan apakah trennya sedang atau kita masih bergerak naik," katanya.



Dok. Pemprov DKI Jakarta

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Indonesia telah memprediksi Indonesia akan ke kehidupan normal 'yang baru' pada bulan Juni atau Juli. Tapi tampaknya akan mundur hingga Agustus.

"Mengapa saya tidak ingin membuat prediksi? Karena saya melihat data, itu tidak mencerminkan sesuatu yang akan segera berakhir. Itulah yang dikatakan oleh para ahli epidemiologi. Ini adalah waktu di mana para pembuat kebijakan perlu memercayai ilmu pengetahuan," kata Anies.

Mantan Rektor Universitas Paramadina, Jakarta itu juga mengaku frustrasi dengan kinerja Kementerian Kesehatan karena kurangnya transparansi.

"Dari pihak kami, bersikap transparan dan memberi tahu (warga) apa yang harus dilakukan sebagai bentuk memberikan rasa aman. Tetapi Kementerian Kesehatan merasakan sebaliknya, bahwa transparansi akan membuat (warga) panik. Itu bukan pandangan kami," ucapnya.

Jakarta mencatat 5,195 kasus penularan COVID-19, 453 orang meninggal dan baru 836 pasien yang sembuh.
 

Tag: anies baswedan jadi capres

Bagikan: