Penyebab Lonjakan Kasus Korona di Jawa Timur

| 22 May 2020 08:56
Penyebab Lonjakan Kasus Korona di Jawa Timur
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (Dok. Pemprov Jatim)
Jakarta, era.id - Jumlah kasus positif korona di Jawa Timur terus meningkat dan membayangi DKI Jakarta yang menempati posisi puncak. Pada 21 Mei 2020, 502 dari 973 kasus baru secara nasional dilaporkan berasal di provinsi tersebut.

Jawa Timur mengalami kenaikan jumlah kasus baru virus korona. Pada Kamis (21/5), jumlah total kasus di provinsi itu mencapai 2.998.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meminta dinas kesehatan di kabupaten dan kota di Jawa Timur melakukan lebih banyak tes cepat di kawasan-kawasan beresiko tinggi.

"Bagaimana testingnya ini dipercepat, ini sangat banyak tergantung kepada Dinas Kesehatan di kabupaten kota masing-masing. Seberapa sensitif untuk bisa menyisir daerah-daerah kerumunan rata-rata potensi kemungkinan terkonfirmasi positifnya tinggi. Titik mana yang berisiko tinggi. Maka sensitivitas dengan mekanisme mitigasi yang terukur itu akan sangat membantu percepatan kita melakukan test kit, apakah melalui rapid test atau melalui PCR test," katanya, Kamis (21/5).

Khofifah kembali mengingatkan masyarakat untuk lebih disiplin menjaga diri dengan mematuhi protokol kesehatan. Kedisiplinan dan kepedulian akan bahaya virus korona akan meringankan tugas tenaga medis.

"Seberapa pun banyak dokter penyakit paru yang kita punya, seberapa banyak bed, seberapa banyak rumah sakit, kalau tidak ada kedisiplinan untuk bisa menjaga wajib pakai masker, physical distancing, tinggal di rumah, cuci tangan dengan menggunakan air mengalir, kalau ini tidak berseiring, maka tidak nutut (mencapai), dari seluruh rumah sakit, seluruh bed, seluruh dokter, dan seterusnya," ucapnya. 

Sedangkan, Ketua Gugus Tugas Provinsi Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi, menyebut ada dua kemungkinan penyebab meroketnya angka penularan COVID-19 harian.

"Ada dua, bisa masifnya kita tracing, bisa juga memang casenya naik. Ya harus kita pelajari lebih detail. Jadi dua-duanya, kita kan PSBB sehingga pemeriksaannya kan masif, tetapi masih ada kluster-kluster yang tumbuh, yang muncul. Memang bisa dengan mass test naik casenya, bisa, dan itu tidak masalah. Sehingga kita bisa tahu lebih detail, mana-mana yang harus diisolasi. Jadi, naiknya kasus kalau itu karena tracing kita yang lebih bagus, ya memang itu yang dikehendaki, nanti kita langsung isolasi. Pelan dan pasti nanti akan menurun," jelasnya.

 

Rekomendasi