Indonesia Serius Tekan Kekerasan Seksual Anak

Tim Editor

Ilustrasi kekerasan seksual pada anak (Pixabay)

Jakarta, era.id – Direktur Jenderal (Dirjen) Rehabilitasi Sosial Kemensos, Edi Suharto menggarisbawahi soal eksploitasi dan kekerasan seksual anak di dunia siber. Anak di bawah umur merupakan objek yang rawan jadi korban eksploitasi dan kekerasan seksual di dunia maya. 

Perlindungan dini dari orang tua sudah pasti sangat diperlukan. Tapi upaya negara untuk menekan angka eksploitasi dan kekerasan ini juga jangan abai. Edi usul negara dapat bekerjasama dengan ASEAN dalam mengatasi masalah tersebut.

"Untuk menangani eksploitasi dan kekerasan seksual secara online kami mendorong partnership di tingkat lokal nasional dan regional melalui networking dan pengorganisasian," kata Edi saat memberikan Keynote Speech dalam Inter-Sectoral Dialogue on Integrated National Responses to End Sexual Exploitation and Abuse of Children Online in ASEAN di Jakarta, Rabu (7/02/2018).

Yang tak kalah penting, perlu juga penguatan kebijakan good parenting, upaya pengoptimalan orang tua untuk mendidik sekaligus melindungi anaknya secara optimal. Termasuk untuk melindungi anak dari eksploitasi dan kekerasan sosial di dunia siber.

"Mendokumentasikan dan berbagi praktik-praktik terbaik, dan memperkuat sumber daya manusia dan mekanisme pengumpulan data," Edi menjelaskan.

Edi menekankan pentingnya upaya-upaya ini guna mengakhiri ekspolitasi dan kekerasan seksual di bidang siber di kawasan ASEAN. Pasalnya, Indonesia dan negara-negara berkembang ASEAN memiliki angka yang tinggi dalam ekspolitasi dan kekerasan sesksual.

"Negara-negara berkembang menjadi target, selain Indonesia juga Filipina sangat rentan. Kasusnya cukup tinggi dan ini cukup mengkhawatirkan," ujar Edi. 

"Ini sudah lintas regional, saya menerima laporan dari Direktur Anak betapa kasus-kasus ini tidak hanya di dalam negeri tapi mereka korban perdagangan lintas kawasan," tambahnya.

Dalam dialognya, Edi juga menyampaikan laporan yang diterima Telepon Layanan Sosial Anak (Tepsa). Berdasar data, angka kekerasan seksual pada anak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2015 tercatat 15 kasus, 2016 melonjak menjadi 254 kasus, dan 2017 juga kembali naik menjadi 398 kasus.



Hasil penelitian Kementerian Sosial tahun 2017 menunjukkan, kekerasan seksual anak 41 persen terjadi karena terpapar pornografi.

Oleh karenanya, menurut Edi lagi, perlu diambil langkah strategis antara lain melakukan pemblokiran situs-situs yang mengandung unsur pornografi.

"Menurut saya yang paling penting juga adalah imunisasi sosial. Memperkuat ketahanan anak-anak bagaimana memanfaatkan internet secara baik, bijak dan sesuai usianya," tegasnya.

Bagikan: