Sejarah Hari Ini, Mandela Dibebaskan Apartheid

Tim Editor

Mural Nelson Mandela di sebuah tembok. (Pixabay)

Jakarta, era.id - 11 Februari 1990, Nelson Rolihlahla Mandela tidak dapat melupakannya. Dia menghirup udara bebas setelah dibui pemerintahan Apartheid Afrika Selatan selama 27 tahun. 

Menggunakan setelan jas dihiasi dasi berwarna cokelat muda, mantan tahanan politik itu disambut istrinya Winnie Madikizela di pintu kebebasan. Awak media yang mengabadikan lambaian tangan Mandela saat keluar Rumah Tahanan Victor Vester jadi saksi sejarah.

Sekejab, mobil BMW yang menjemputnya tiba di balai kota Cape Town. 50 ribu orang telah menunggu Mandela, siap mendengarkan pidato perdananya setelah puluhan tahun dipenjara karena dianggap menodai konstitusi orang kulit putih.

"Saya telah berjuang melawan dominasi kekuatan kulit putih, dan saya telah melawan dominasi kulit hitam," kata Mandela mengupayakan rekonsiliasi di tengah semangat pembangkangan.

Ketenangan Mandela kala itu meluluhkan publik yang melihat langsung. Namun, tetap saja, rentetan gemuruh tepuk tangan ribuan orang menggelegar di akhir pidatonya. Kekhusyukan pidatonya disambut meriah. Bahkan sempat diiringi bentrokan warga sipil dengan aparat keamanan.

Empat tahun berlalu, tepatnya 10 Mei 1994, Mandela resmi menjabat sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan. 

Diangkatnya pemenang Nobel Perdamaian untuk perjuangan di Afrika Selatan setelah negosiasi alot dengan pemerintahanan kulit putih. Proses awalnya diperbolehkan ikut pemilu perdana multirasial pada 1994, kemudian dipilih rakyat melenggang menjadi presiden.

Mandela menjabat sebagai presiden selama satu periode. Sisa masa hidupnya dijalani Mandela menjadi negarawan, berkeliling dunia menyuarakan kampanye melawan AIDS dan akhirnya pensiun dari kegiatan publik pada 2004. 


Nelson Mandela mendapat sentuhan tangan di bagian pipi. (Twitter @NelsonMandela)

Mandela muda yang lahir pada 1918 hidup berkecukupan. Dia anak dari kepala suku Tembu yang berpeluang meneruskan tugas ayahnya. Namun, tokoh yang beberapa kali memakai batik Indonesia ini lebih memilih melanjutkan studinya di universitas dan menjadi pengacara.

Selama masa hidupnya, Mandela aktif di ANC, organisasi politik yang memperjuangkan hak-hak warga mayoritas kulit hitam Afrika Selatan. Dibungkamnya hak kulit hitam ketika negara itu menerapkan sistem apartheid pada 1948 membuat anggota ANC meningkat. Mandela kemudian menjadi salah satu pemimpin ANC.

Perjalanan ke-aktivis-an Mandela berlanjut ketika 1952, dia tepilih menjadi wakil presiden ANC. Dari situ dia mengupayakan perjuangan tanpa kekerasan dengan jalan boikot, aksi jalan kaki dan mogok kerja. 

Pada 1960, pembantaian 69 demonstran di Sharpeville membuat ANC membentuk organisasi sayap perlawanan bersenjata. Dibentuknya organisasi sayap militer ANC membuat fasilitas pemerintah Afrika Selatan yang kebanyakan diduduki kulit putih disabotase. 

Akibat tindakannya Mandela dicokok kemudian diadili dengan tuntutan pengkhianatan terhadap negara. Namun, dia dibebaskan. Kemudian ditangkap lagi pada 1962 dengan tuduhan meninggalkan negara secara ilegal. Mandela dijatuhi hukuman lima tahun penjara di Pulau Robben.

Pada 1964, Mandela kembali disidang atas tuntutan sabotase negara. Di pertengahan tahun, dia dijatuhi hukuman kurungan seumur hidup. Setelah puluhan tahun dipenjara, Mandela dibebaskan pada 11 Februari 1990.


 

Bagikan: