Penebar Sampah di Lautan

| 21 Feb 2018 19:08
Penebar Sampah di Lautan
Ilustrasi (Pixabay)
Jakarta, era.id - Indahnya potensi pantai dan laut Indonesia tak perlu dibantah. Absolut. Hampir se-absolut hasil penelitian Jenna Jambeck, seorang profesor teknik lingkungan dari University of Georgia.

Dalam penelitian Jambeck yang dibagikan oleh Word Wide Fund for Nature (WWF) disebutkan Indonesia merupakan negara penyumbang sampah laut terbesar kedua di dunia, di bawah China yang sedikit lebih kurang ajar dalam pengelolaan sampah dan tingkah laku masyarakatnya.

Setiap tahunnya, 8,8 juta ton sampah dibuang ke laut-laut di seluruh dunia. Setengah dari sampah lautan itu datang dari lima negara di Asia, yakni China, Indonesia, Filipina, Vietnam dan Sri Lanka.

Angka itu jauh lebih besar dari perkiraan yang diperhitungkan dalam periode-periode penelitian sebelumnya. Tak hanya di Asia, buruknya pengelolaan sampah juga dialami Amerika Serikat, yang jadi aib negara barat sebagai negara paling banyak menyumbang sampah di kalangan dunia barat.

Jambeck dalam penelitiannya turut menyebut, jika negara-negara penyumbang sampah terbesar --yang mayoritas terdiri dari negara berkembang di Asia-- tidak mengambil langkah serius membenahi pengelolaan sampahnya, Jambeck memprediksi sampah laut akan mencapai 170 juta ton pada 2025.

Prediksi tersebut dihitung berdasar tren pertumbuhan populasi dan berlanjutnya masalah pengelolaan sampah. Berbeda dengan dunia barat yang permasalahan pengelolaan sampah ada pada faktor manusianya, negara-negara Asia wajib melakukan pembenahan lebih serius karena kesalahan pengelolaan sampah terjadi secara kolektif.

Masalah sampah di Indonesia

Terkait buruknya pengelolaan sampah di Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengakui beratnya membenahi persoalan pengelolaan sampah di Indonesia.

Menurut Siti, Kementerian LHK tak bisa sendiri. Sebab pembenahan pengelolaan sampah harus melibatkan semua pihak, termasuk masyarakat. Masuk akal, sebab pengelolaan sampah dimulai dari membuang sampah pada tempat sampah.

Selain masyarakat, sinergitas juga harus dibangun di seluruh tingkat pemerintahan, mulai dari pemerintah pusat hingga pelaksana pemerintahan di tingkat kelurahan dan desa-desa.

”Masalah sampah di Indonesia ini berat, saya dan jajaran KLHK tidak bisa kalau sendiri. Kita harus gerak bersama untuk jaga Indonesia bersih. Mari kita terus tingkatkan upaya menyayangi bumi dengan membersihkan dari sampah ," kata Siti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/2/2018).

Siti Nurbaya menuturkan, saat ini pemerintah tengah bekerja untuk mengembangkan langkah bersama, termasuk merancang regulasi dan ketentuan terkait pengelolaan sampah di Indonesia. 

Kementerian LHK, dikatakan Siti, berkomitmen untuk mengakomodasi segala kepentingan terkait upaya menjaga bumi lewat kebijakan dan rancangan peraturan. Gerakan Tiga Bulan Bersih Sampah yang dimulai sejak 21 Januari 2018 misalnya. Gerakan tersebut dijalankan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya menjaga bumi dari kontaminasi sampah. 

Selain itu, Kementerian LHK telah berhasil melibatkan 1.031.007 partisipasi masyarakat di dalam 367 kegiatan di 18 provinsi melalui sistem informasi Pengelolaan Sampah Nasional.

Lewat program itu, pemerintah juga mengklaim telah berhasil mengelola 118.942 kilogram sampah anorganik dan 189.659 sampah organik serta 75.784 residu yang diangkut ke TPA.

“Sesuai mandat perundangan, urusan penanganan sampah secara langsung yang terdekat atau eksternalitas ada pada pemerintah kabupaten dan kota. Dengan demikian maka perlu kerja bersama-sama pada berbagai tingkat strata pemerintahan," imbuhnya.

Ya, apapun klaim pemerintah, riset Jenna Jambeck harus dijadikan refleksi betapa Indonesia berperan sangat buruk dalam pencemaran lingkungan, terutama laut.

Ironis, sebab, sebagai negara maritim dengan potensi laut yang begitu besar, Indonesia harusnya jadi negara terdepan yang menjaga kelestarian laut dan keberadaan seluruh ekosistemnya.

WWF, dalam rilis yang dibagikan lewat akun Instagram @wwf_id menyebut pencemaran laut tentu membawa kerugian besar secara ekologi dan ekonomi bagi Indonesia. 

"Hal ini tentunya membuat Indonesia mengalami kerugian ekologi dan ekonomi yang besar karena rusaknya keanekaragaman hayati dan sumber daya laut," tulis WWF.

 

Rekomendasi