Perebutan Kursi Gubernur di Provinsi Terkaya

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Grafis (era.id)

Jakarta, era.id – Semua partai politik ingin menyapu bersih kemenangan pada pemilihan kepala daerah di Jawa. Alasannya karena jumlah pemilih di Pulau Jawa sangat besar, lebih dari separuh jumlah pemilih nasional.

Namun, di luar Jawa, provinsi di kepulauan lain juga memiliki keunggulan untuk jadi target kemenangan pilkada. Salah satunya Riau, provinsi terkaya di Indonesia yang pada 2012 mencatat total pendapatan mencapai Rp91 triliun. Mengelola provinsi terkaya bakal jadi tantangan tersendiri untuk kepala daerah terpilih.

Kekayaan Riau berasal dari minyak bumi, gas alam, karet, hingga kelapa sawit. Namun, pada 2016 KPK memberi perhatian kepada enam provinsi terkait tingkat kerawanan korupsi. Riau masuk dalam salah satu provinsi tersebut karena kekayaan daerah dan otonomi yang cukup besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Tahun 2010, jumlah penduduk Riau mencapai 5.543.031 jiwa di 10 kabupaten dan dua kota. Jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di Riau mencapai 4.208.306 jiwa pada Pilpres 2014.



Pilkada Riau 2018 diikuti empat pasangan calon. Nomor urut pertama adalah Syamsuar–Edy Nasution yang diusung PAN,  Nasdem, dan PKS, dengan modal 13 kursi DPRD.

Syamsuar lahir di Bangko, 1 Juni 1954, dan berpengalaman sebagai Bupati Siak. Adapun Edy adalah anggota TNI berpangkat terakhir Brigadir Jenderal. Dia lahir di Bengkalis, 29 Mei 1961, dan terpanggil maju pada pilkada setelah selesai karier militernya.

Cagub dengan nomor urut dua, Lukman Edy–Hardianto diusung PKB bersama Gerindra dengan total 13 kursi DPRD. Lukman adalah mantan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal pada kabinet Indoneia Bersatu dan mantan Sekjen PKB. Dia pernah menjadi Ketua DPW PKB termuda dalam sejarah partainya saat berusia 29 tahun dan terpilih menjadi anggota DPRD Riau pada usia 28 tahun. Sementara Hardianto adalah politisi Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur.

Untuk nomor urut tiga dimiliki pasangan cagub-cawagub Firdaus–Rusli Efendy yang diusung PPP bersama Partai Demokrat dengan 14 kursi DPRD. Firdaus adalah Wali Kota Pekanbaru yang menjabat sejak 22 Mei 2012. Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN tersebut adalah kader Partai Demokrat. Sedangkan Rusli Efendi adalah politisi PPP, berpengalaman sebagai anggota DPRD Rokan hilir, dan DPRD Provinsi Riau.

Cagub-cawagub nomor empat, Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno diusung Partai Golkar, PDIP, dan Hanura dengan total 28 kursi DPRD. Arsyadjuliandi atau yang sering disapa Andi Rachman adalah pejabat definitif Gubernur Riau menggantikan Annas Maamun yang diberhentikan karena terjerat kasus suap alih fungsi lahan.

Andi Rachman adalah pengusaha yang mengelola beberapa sektor usaha seperti SPBU, transportasi, dan pemilik PO Bus Sinar Riau.  Sedangkan Suyatno adalah politisi PDIP yang saat ini menjabat sebagai Bupati Rokan Hilir.
 
 
 

Tag: pilihan asyik pilkada riau pilkada 2018

Bagikan: