Budaya Mendunia, Mi Instan dan Sop Buntut

Tim Editor

Ilustrasi (era.id)

Jakarta, era.id - Makanan dalam pandangan sosial budaya, memiliki makna yang lebih luas dari sekedar sumber nutrisi. Yaitu, terkait dengan kepercayaan, status, prestise, kesetiakawanan dan ketentraman. Makanan memiliki banyak peranan dalam kehidupan sehari-hari suatu komunitas manusia. Makna ini selaras dengan nilai hidup, nilai karya, nilai ruang atau waktu, nilai relasi dengan alam sekitar, dan nilai relasi dengan sesama.

Bicara soal makanan tak lepas dari karakteristik suatu tempat dan kebiasaan masyarakatnya. Soal karakteristik tempat, misalnya, ubi menjadi makanan pokok Papua, karena di sana banyak ubi. Atau lalapan yang biasa dimakan masyarakat di Jawa Barat karena gampang ditemui. Kemudian soal kebiasaan, budaya memengaruhi cita rasa dalam sebuah makanan. Misalnya, rasa manis yang ada di Jawa Tengah, atau rasa pedas yang dominan untuk wilayah Sumatera Barat.

Lewat makanan ini, budaya suatu daerah bisa dikenal oleh orang lain. Mari kita mengenal makanan lokal yang mendunia.


(Ilustrasi/era.id)

Indomie

"Indomie, seleraku". Itu adalah slogan dari produk mi instan buatan Indonesia. Eits, ini bukan iklan ya. Tapi sedang membahas Indomie sebagai produk makanan Indonesia yang mendunia. 

Tapi beneran, mi instan ini bukan cuma disukai di Indonesia, negara seperti Australia, Selandia Baru, negara-negara Arab, bahkan beberapa negara di benua Asia, Amerika hingga Afrika, doyan mi yang dibuat sejak 1972 ini. Nigeria pun punya pabrik khusus untuk memproduksi Indomie di negaranya.

Tak percaya? Coba saja hidangkan Indomie di muka umum. Pasti kamu bakalan jadi pusat perhatian. Bule pun bisa dipastikan tergoda dengan aroma ini, baik mi goreng atau mi rebus. Bahkan, seperti sudah jadi budaya, saat hujan turun, saatnya menyantap Indomie.

Baca Juga : Kisah Negeri yang Alergi 'Ngak Ngik Ngok'

Bagaimana sebenarnya sejarah pembentukan mi instan yang legendaris ini? Ditelusuri dari laman resminya, Indonesia pertama kali mengenal mi instan di tahun 1969. Tapi, baru tiga tahun berikutnya, Sudono Salim, memperkenalkan Indomie sebagai mi instan dengan rasa sari ayam (kaldu ayam) dan sari udang (kaldu udang). Kala itu Indomie diproduksi oleh PT. Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd, yang akhirnya berganti nama menjadi PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

Dalam perkembangannya, Indomie tidak hanya terdiri dari varian kuah dan mi goreng orisinal. Tapi, Indomie mengakomodasi resep-resep lokal seperti rendang, iga penyet, dendeng balado, soto lamongan, sambal matah dan masih banyak lagi. Hingga hari ini, mi instan itu memiliki lebih dari 30 varian yang tersebar di Indonesia dan dunia. Dengan varian rasa yang lokal banget tadi, Indomie mencoba mengenalkannya ke dunia. Dengan Indomie dikenal dunia, maka juga membawa pesan budaya Indonesia. 

Sop Buntut

Nah, setelah Indomie, ternyata ada makanan yang mendunia lainnya. Maksudnya, mendunia secara rasa dengan bentuk kekhasan desa, sop buntut. Coba, bayangkan, bule-bule ditawarkan sop buntut. Iya, sop yang bahan utamanya bagian (maaf) pantat hewan. Mungkin, mereka bakalan jijik kalau tahu bahan pokok makanan ini. Tapi, untuk masyarakat Indonesia, makanan ini amat lezat di lidah.

Sop buntut adalah ternyata jadi salah satu kuliner lokal yang legendaris di Indonesia. Cukup banyak daerah di Indonesia yang memiliki olahan kuliner ini. Mulai dari yang berkuah kental, hingga cair dan berlemak. Bahan utama dari sop buntut adalah buntut sapi yang direbus selama beberapa jam agar empuk lalu dikombinasikan dengan sejumlah rempah seperti bawang putih, lada, jahe dan lainnya.

Baca Juga : Kesenian Jathilan Nyaris Punah, Salah Siapa?

Bicara soal sop buntut, Indonesia boleh berbangga karena ada satu brand yang terkenal baik secara nasional maupun internasional. Sop buntut Hotel Borobudur, ya itulah nama kuliner khas Indonesia yang banyak dinikmati turis lokal maupun internasional. Sejumlah media melansir, sop buntut ala Hotel Borobudur telah dikreasikan sejak 1974--Tak lama setelah hotel itu berdiri--. Kala itu, banyak pengunjung hotel yang lebih memilih untuk makan menu sop buntut di pedagang kaki lima ketimbang buffet di restoran hotel.

Tertarik dengan fenomena ini, manajemen Hotel Borobudur akhirnya mempelajari alasan di balik populernya sop buntut jalanan tersebut. Ternyata, rasa sop buntut kaki lima tersebut gurih dan enak. Hal inilah yang membuat manajemen Hotel Borobudur turun gunung dan bernegosiasi dengan penjual sop buntut. 

Damniloveindonesia melansir, setelah tarik-ulur yang cukup alot, para penjual sop buntut kaki lima tersebut bersedia memberikan pelatihan pada staf hotel terkait menu sop buntut yang legendaris ini. Akhirnya pada tahun 1974, dibukalah sebuah tempat kecil berbentuk gerobak yang menyediakan menu sop buntut. Tentu bukan sembarang sop buntut. Sop buntut kaki lima rasa bintang lima.

Dilansir dari laman resminya, sop ini diolah dengan ‘menu rahasia’ yang terus berevolusi sejak pertama kali didirikan. Manajemen hotel disebut-sebut kerap menerima berbagai masukan dari tamu asing maupun lokal terkait pengembangan resep menu legendaris ini. 

Seiring perkembangan jaman, menu sop buntut ini bahkan menjadi signature dish dari Hotel Borobudur. Rasanya yang gurih dan otentik menjadi senjata utama yang dijual pihak hotel. Hasilnya? Mulai dari artis seperti Cut Mini dan Mike Lewis, hingga pejabat seperti Adam Malik menyukai menu legendaris ini. Barang yang berasal dari bagian belakang hewan itu, jadi akrab di lidah tamu mancanegara.

Tag: era eksistensi budaya

Bagikan: