Peringatan 20 Tahun Reformasi: Dari Soeharto ke Habibie

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Soeharto dan BJ Habibie (Foto: Reuters)

Serial panjang peringatan 20 tahun reformasi dari era.id masih berjalan. Tapi hari ini, adalah puncak dari semuanya. Sistem politik dan demokrasi bangsa ini berubah total. Namun dengan sebuah harga yang begitu mahal. Tim redaksi sudah mengupas tuntas peringatan 20 tahun reformasi dari berbagai aspek sejak tanggal 21 April lalu. Bukan cuma melalui tulisan berbasis riset, ada juga grafis, motion hingga podcast. Yang mau tahu lebih banyak soal reformasi, silakan klik di sini.

Ini bukan tanggal merah. Tapi hari ini begitu penting bagi perjalanan Indonesia. 21 Mei 1998, sebuah sejarah telah tertulis. Perjalanan panjang Presiden Soeharto memimpin negeri ini terhenti. Desakan mahasiswa, situasi politik yang kacau balau, hingga kondisi perekonomian di titik nadir, menjadi pematiknya.

Jakarta, era.id - Kesibukan di Istana Merdeka sudah menggeliat sejak subuh. 21 April, 20 tahun lalu, sejarah baru diprediksi akan tertulis di gedung ini.

Beberapa protokoler bersiap menyambut tamu-tamu penting. Para wartawan, baik dalam dan luar negeri pun hadir lebih awal untuk meliput peristiwa paling penting selama 32 tahun terakhir ini. Waktu terasa begitu cepat berjalan. Pukul 08.25 WIB, Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie tiba di lingkungan istana menggunakan mobil bernomor polisi B-2. Lima menit berselang, giliran Presiden Soeharto yang hadir. 

Presiden Soeharto tidak sendiri kala itu. Dia didampingi putri sulungnya, yang juga menjabat sebagai Menteri Sosial, Siti Hardijanti Rukmana atau biasa disapa Mbak Tutut. Kemudian pada pukul 08.40 WIB, giliran pimpinan MPR/DPR yang hadir menyusul. Saat itu, Menteri Kehakiman Muladi, Menteri Penerangan Alwi Dahlan, Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursjid serta Menteri Pertahanan Keamanan yang juga Pangab Jenderal Wiranto juga tampak hadir.

Sekitar 8 Km dari Istana, di Gedung MPR/DPR, ratusan ribu mahasiswa masih bertahan. Sudah hampir sepekan terakhir, mereka menjadi 'penguasa' di gedung rakyat. Tapi kali itu, mimbar bebas berisi orasi politik, jauh berkurang. Banyak dari mereka yang memilih berkumpul di sudut-sudut gedung parlemen. Menanti di depan layar kaca sebuah pengumuman maha penting. Kabar tersiar, Presiden Soeharto akan segera mengundurkan diri.

Kembali ke Istana. Gelombang tuntutan reformasi akhirnya terjawab. Terhitung mulai pukul 09.00 WIB, Kamis 21 Mei 1998, Indonesia punya presiden baru setelah 32 tahun. Soeharto berhenti dari jabatannya dan digantikan oleh wakilnya, Bacharuddin Jusuf Habibie.

"Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998," ujar Soeharto di Ruang Credential Istana Merdeka. Pidato bersejarah itu disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI. 

Simak podcast kami untuk bisa merasakan lebih jelas seperti apa pidato Soeharto dan BJ Habibie kala itu.


Presiden Soeharto saat membacakan surat pengunduran dirinya (Foto: Reuters)

Naiknya Habibie sebagai presiden sesuai dengan aturan konstitusi Pasal 8 UUD 1945. Seharusnya, pergantian kepemimpinan dilakukan di hadapan pimpinan DPR/MPR RI. Namun untuk menghindari kekosongan pimpinan, pemerintah harus segera melaksanakan ucap sumpah jabatan presiden di hadapan MA.

"Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden RI dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. memegang teguh UUD 1945 dan menjalankan segala Undang-Undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa," ucap Habibie saat diambil sumpahnya.

Kembali ke Gedung MPR/DPR. Mahasiwa bersuka cita. Tangis bahagia pecah seketika begitu tahu salah satu permintaan mereka akhirnya dapat terwujud. Mereka berteriak sambil mengibarkan panji almamaternya.

Baca juga: Rencana Reshuffle Presiden Soeharto

Baca juga: Perkosaan Massal dan Ita Martadinata


Siap jalankan agenda reformasi

Di hari yang sama, pukul 19.30 WIB, Habibie menyampaikan pidato pertamanya sebagai Presiden RI. Dalam pidato yang disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI itu, Habibie menjelaskan dirinya terbuka tentang segala perubahan yang terjadi, terutama terkait tugas beratnya mengembalikan stabilitas politik, ekonomi dan keamanan Indonesia.

"Saya dengan segala kerendahan hati membuka diri terhadap semua masukan dan kritik dari masyarakat untuk mempercepat proses reformasi, menuju kesejahteraan bangsa dari negara yang kita cita-citakan bersama. Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut, saya sekali lagi mengharapkan dukungan sepenuhnya dari semua pihak, Saya menyadari bahwa tugas ini sangat berat," ujar Habibie kala itu.

Di awal kepemimpinannya, Habibie bersiap untuk menyerap dan mempraktikan aspirasi reformasi yang selama ini telah diperjuangkan. "Peningkatan kehidupan politik yang sesuai tuntutan zaman dan generasinya, pemerintahan yang bersih dari inefisiensi dan praktik-praktik KKN serta kehidupan ekonomi yang lebih memberi peluang berusaha secara adil, telah saya tangkap sebagai aspirasi rakyat," ujar Habibie.

Tag: presiden soeharto peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: