Peringatan 20 Tahun Reformasi: Inggris Desak Soeharto

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi desakan dunia internasional kepada Presiden Soeharto (Wildan/era.id)

20 tahun lalu, dunia internasional mulai meminta Presiden Soeharto tidak lagi menunda reformasi politik. Posisi Soeharto kian terjepit karena situasi dalam negeri yang makin chaos. 16 hari jelang kejatuhan Soeharto, era.id spesial menggarap serial panjang Peringatan 20 Tahun Reformasi. Dan ini adalah seri yang terbaru.

Jakarta, era.id - Menteri Keuangan Inggris kala itu, Gordon Brown bertemu Presiden Soeharto di Jakarta, 6 Mei 1998. Dalam peringatan 20 tahun reformasi ini, kami jelaskan bagaimana dunia internasional mulai mengomentari kondisi Indonesia yang semakin terpuruk. 

Saat itu, Brown bilang kepada Soeharto, Indonesia perlu segera melakukan reformasi politik demi mengembalikan kepercayaan masyarakat internasional. Malah Brown meminta juga agenda reformasi politik seperti apa yang bakal dijalankan Soeharto nantinya.

"Saya juga mengatakan bahwa dalam pandangan saya, dukungan masyarakat internasional akan menjadi lebih baik bila ada reformasi politik," ujar Brown setelah melakukan pertemuan dengan Soeharto seperti dilansir dari Harian Pikiran Rakyat, 7 Mei 1998.

"Sejauh berbagai peristiwa di seluruh kawasan Indonesia yang memprihatinkan.. saya kira keseluruhan dari kita di masyarakat internasional sepakat bahwa tidak perlu tindakan represif," lanjut Brown menyinggung pengamanan aksi demonstrasi yang dilakukan aparat keamanan.

Selain reformasi politik, reformasi ekonomi juga dibutuhkan Indonesia untuk memulihkan kepercayaan pasar. Dengan syarat, Indonesia mampu untuk menjalankan semua program reformasi dengan benar dan konsisten. Menurut Brown, Inggris mendukung setiap langkah reformasi politik dan ekonomi yang dilakukan Indonesia untuk keluar dari krisis moneter. Salah satunya adalah peran negeri itu mengawasi IMF terkait bantuan dana talangan kepada negara-negara yang terkena krisis moneter.


Ilustrasi serial Peringatan 20 Tahun Reformasi (Hilmy/era.id)

Kerusuhan di Medan makin membesar

Kita kembali ke Kota Medan yang terjadi kerusuhan setelah kebijakan harga BBM dan tarif listrik naik resmi diberlakukan. Kerusuhan Medan tidak selesai dalam satu hari saja. Kerusuhan ini malah makin membesar dan melebar hingga ke pinggiran kota. Daerah tersebut antara lain Kecamatan Lubuk Pakam, Tanjung Morawa, Galang, Pertumbukan, Beringin, dan Kabupaten Deli Serdang. 

Peristiwa ini menimbulkan kerusakan di sejumlah bank dan ratusan toko. Di antaranya BCA, Lippo, BRI, Bank Mestika hingga BDNI. Selain itu, beberapa kendaraan motor dibakar dan penjarahan toko-toko pun terjadi kala itu.

Menteri Pertahanan/Pangab Jenderal Wiranto beserta stafnya mendarat di Medan untuk mencari tahu permasalahan kerusuhan. Wiranto langsung menggelar rapat di Markas Komando Bukit Barisan. Wiranto juga sempat melihat langsung lokasi-lokasi kerusuhan. Selain hancurnya beberapa toko dan kendaraan, dikabarkan sekitar 10 orang meninggal dunia dalam kerusuhan tersebut.



Selain di Medan, konsentrasi massa juga terjadi di Jakarta, Jember, dan Makassar. Di Jakarta, mahasiswa kembali menggelar aksi gabungan. Aksi mahasiswa Unas, UI, STEKPI, dan IISIP di kampus Unas ini bentrok dengan aparat keamanan. Mahasiswa dicegat aparat keamanan agar tidak keluar kampus. Demo ini diwarnai aksi pelemparan batu hingga bakar ban. Dari kejadian itu, 16 mahasiswa mengalami luka-luka.

Dari uraian di atas, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menemukan kerusuhan di Jakarta, Solo, Medan mempunyai kesamaan pola. Sedangkan kerusuhan di Palembang secara umum memiliki kesamaan dengan kerusuhan di Jakarta, Solo, Medan namun punya ciri spesifik di mana provokator dan "penumpang gelap" sukar dibedakan. Adapun kerusuhan yang terjadi di Lampung dan Surabaya, pada hakekatnya menunjukkan sifat-sifat yang lokal, sporadis, terbatas dan spontan.

Tag: peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: