20 Tahun Reformasi: Janji Habibie Lepaskan Sri Bintang Cs

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi para tahanan politik (Ayu/era.id)

Jakarta, era.id - Presiden BJ Habibie benar-benar mau mengubah tampilan wajah pemerintah. Dari yang begitu otoriter ke arah demokrasi. Salah satunya soal rencana untuk membebaskan para tahanan politik.

Terdakwa kasus subversi Ketua Umum Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) Sri Bintang Pamungkas dan Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Muchtar Pakpahan rencananya mau dibebaskan Senin, 25 Mei 1998. Pengumuman ini disampaikan langsung Presiden BJ Habibie. Itulah salah satu peristiwa penting yang terjadi 20 tahun lalu, 24 Mei 1998.

Dorongan untuk segera membebaskan para tahanan politik salah satunya datang dari Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Amien Rais usai bertemu dengan anggota Majelis Amanat Rakyat (MARA) di kediaman Arifin Panigoro, Minggu (24/5) malam. Pertemuan itu dihadiri juga tokoh-tokoh pro reformasi, seperti; Albert Hasibuan, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Mohammad Sadli, FX Mudji Sutrisno, Dawam Rahardjo, Sarwono Kusumaatmadja, Nursyahbani Katjasungkana, dan Toety Heraty Noerhadi.

Amien mendorong pemerintah untuk membebaskan seluruh tahanan politik yang telah menjadi korban UU Anti-Subversif dari Orde Baru. Tahanan politik lainnya yang diusahakan dibebaskan adalah aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), Budiman Sudjatmiko cs.

Sikap pemerintah

Pemerintah, melalui Menteri Kehakiman, Muladi menegaskan pembebasan tahanan politik dan narapidana politik (napol) sudah menjadi prioritas Habibie. Pembebasan tapol dilakukan secara selektif. Diperkirakan ada 10 tahanan yang bakal menghirup udara bebas.

Baca juga: Pangab Wiranto Instruksikan Cari Orang Hilang

Baca juga: Kerusuhan Hingga Operasi Tim Mawar

"Tidak semua tapol akan dibebaskan, seperti yang melakukan perbuatan kriminal, pemberontakan bersenjata atau PKI," kata Muladi seperti dikutip dari Harian Kompas.

Di LP Cipinang, para tahanan ini menolak mendapat pembebasan seperti cara di atas. Yang mereka mau adalah pemerintah memberikan pembebasan tanpa syarat. Para tapol tersebut antara lain Muchtar Pakpahan, Sri Bintang Pamungkas, Nuku Sulaiman, Budiman Sudjatmiko, aktivis PRD, hingga Xanana Gusmao.

"Saya merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Apa yang selama ini saya sampaikan, adalah tuntutan reformasi yang kini jadi perhatian semua orang," kata Muchtar Pakpahan.

Mereka yang terpenjara

Sri Bintang Pamungkas adalah salah satu tokoh oposisi yang sangat militan. Dia dipenjara karena dituduh melanggar UU Anti-Subversi. Tuduhan itu diberikan karena di awal tahun 1997, Sri Bintang memproklamirkan diri sebagai calon presiden untuk pemilu1998. 

Muchtar Pakpahan adalah Guru Besar Ilmu Perburuhan dari Universitas Kristen Indonesia (UKI). Dialah tokoh buruh Indonesia sekaligus pendiri serikat buruh independen pertama, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Muchtar pernah 7 kali ditahan di masa Orde Baru dengan berbagai tuntutan. 

Budiman Sudjatmiko ditangkap rezim Orde Baru dengan tuduhan mendalangi peristiwa 27 Juli 1996. Sebuah peristiwa penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia di Jl. Diponegoro yang dilakukan oleh pecahan PDI versi Suryadi. Rezim Orde Baru memberinya vonis 13 tahun. Tapi Budiman cuma menjalani hukuman selama 3,5 tahun setelah diberi amnesti Presiden Abdurrahman Wahid pada 10 Desember 1999. 

Baca juga: Cerita Mengerikan Pius Lustrilanang Saat Diculik


Infografis para tahanan politik di era Orde Baru (Ayu/era.id)

 

Tag: peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: