Mama Emi Siapkan Solusi Cegah Human Trafficking

| 25 May 2018 15:03
 Mama Emi Siapkan Solusi Cegah <i>Human Trafficking</i>
Emilia Nomleni (Foto: Istimewa)
Jakarta, era.id - Cawagub Nusa Tenggara Timur (NTT) Emelia Julia Nomleni ikut berempati dengan banyaknya kasus human trafficking atau perdagangan manusia yang melibatkan anak dan perempuan yang terjadi di wilayah NTT.

Mama Emi, sapaan Emelia, pun mengakui penyumbang terbesar kasus human trafficking adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan  (TTS).

Demi mencegah kasus perdagangan manusia tersebut, Mama Emi telah menyiapkan program berupa bantuan modal, terutama untuk para perempuan dan pemuda NTT agar bisa membuka usaha.

"Kasus penjualan orang, di Timor Tengah Selatan (TTS) paling banyak. Dan kita selalu saja menerima jenazah orang-orang kita yang bekerja di luar. Untuk itu, kami menyiapkan modal bagi para perempuan dan pemuda, agar mereka bisa membuka usaha dan bekerja di sini," kata Mama Emi saat mengunjungi masyarakat di Molo Barat, TTS, NTT, Rabu (23/5/2018).

Menurutnya, menyiapkan modal kepada masyarakat akan terwujud dalam bentuk program Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera (Anggur Merah).

"Namun untuk kali ini, angkanya kita naikkan menjadi Rp 500 juta per desa per tahun. Tentu dengan berbagai evaluasi. Saya percaya, jika penguatan-penguatan modal ini disiapkan pemerintah dan dikelola masyarakat, angka human trafficking akan berkurang," jelasnya.

Selain pemberian modal, pengawasan kepala desa kepada warganya pun merupakan salah satu faktor terpenting dalam pencegahan masalah human trafficking tersebut.

"Catat warga desa yang ke luar desa dan mencari kerja di tempat lain agar kita bisa tahu siapa saja yang ke luar desa. Karena yang terjadi sekarang ini, para perekrut akan menggunakan berbagai cara dalam menjaring korban human trafficking," tandasnya.

Mama Emi menjelaskan, pengawasan ini juga upaya yang dapat dilakukan guna memperkecil gerak para oknum perekrut TKI Ilegal di NTT.

Menurutnya, para oknum tidak dengan begitu saja berhenti merayu orang untuk menjadi TKI ilegal, karena keuntungan yang mereka dapatkan sangat besar.

"Orang sekarang cari satu kepala seharga Rp 12 juta. Jadi misalnya dia rekrut sepuluh orang saja, dia sudah dapat Rp 120 juta. Bayangkan, dia yang dapat senang, anak kita yang sengsara," tuturnya.

Kasus human trafficking memang banyak terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Salah satu wilayah dengan angka perdagangan manusia tertinggi adalah TTS.

Dilansir dari penelitian Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) di NTT, faktor kemiskinan menjadi pemicu terjadinya perdagangan manusia di NTT.

Untuk itu, Mama Emi sangat yakin, jika pemerintah menyiapkan modal, keinginan masyarakat mencari kerja ke luar daerah akan berkurang, dan kasus human trafficking di TTS bisa teratasi.

Rekomendasi