Tak Lolos Tes Kesehatan, Sopir Bus Tak Boleh Antar Pemudik

Tim Editor

Pemeriksaan kesehatan di Terminal Kampung Rambutan. (Diah/era.id)

Jakarta, era.id - Sopir bus yang bertugas mengantar pemudik meninggalkan Jakarta diharuskan mengikuti tes kesehatan. 

Tujuannya, agar para sopir terbebas dari gejala yang bisa menurunkan konsentrasinya dalam mengemudi bus yang bisa mengakibatkan kecelakaan.

"Kita sediakan posko kesehatan. Tadi kita sudah lihat kesiapannya, meski penggunaan miras narkoba nol, tapi tensi tinggi. Masih kita juga lakukan tes urin," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno saat meninjau posko kesehatan di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Minggu (10/6/2018).

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi Priharto menegaskan, bagi sopir yang tidak lolos tes kesehatan akan diistirahatkan sementara waktu. Setelah kondisinya membaik, sopir itu baru boleh mengantar penumpang.

"Tensi nya tinggi, atau yang gula darahnya tinggi, tp kalau dia bisa diturunkan dengan istirahat, dia bisa diperbolehkan untuk berangkat, tapi kalau dia tidak bisa diturunkan dengan istirahat dan obat, dia tidak diperbolehkan untuk berangkat," kata Koesmedi.

Tak hanya kesehatan sopir, syarat pemberangkatan bus juga didasarkan pada uji kelayakan operasi bus yang akan diberangkatkan. 


Pemeriksaan kesehatan di Terminal Kampung Rambutan. (Diah/era.id)

Kepala Dinas Perhubungan DKI Andri Yansyah menjelaskan bahwa melakukan uji kelayakan melalui berbagai macam tahapan, yang pertama sopir harus memiliki SIM, STNK, buku KIR, dan kartu pengawasan yang masih berlaku.

"Setelah itu kita cek unsur utama, unsur utama disini ada sistem pengereman, disini ada ban, trus kaca, weeper, terus ban, baru di situ nanti ada unsur pendukung, yaitu gas emisi," tutur Andri.

Andri menjelaskan, berdasarkan data, sudah ada 990 bus yang lolos dari uji keyakan angkutan bus mudik lebaran dari total 1.680 bus yang sampai saat ini sudah diperiksa.

"Sampai dengan saat ini, yang sudah diuji 1.680, yang tidak lolos 690, tetapi yang tidak lolos ini banyak yang namanya bersyarat, artinya ketidaklolosanya bukan unsur utama, seperti dia tidak ada pemecah kaca, nah itu kita minta kepada PO agar segera melengkapi. Tetapi kalau tidak lolosnya itu unsur utama , seperti ban, pengereman, dengan sangat terpaksa tidak kita perbolehkan," terangnya.

Hingga H-6 lebaran, 28.703 pemudik telah berangkat dari Terminal Kampung Rambutan terhitung sejak Kamis, 7 Juni 2018 atau H-8 lebaran. 

Jumlah pemudik semakin meningkat menjadi 8.744 pemudik pada Jumat 8 Juni 2018, dan pada sabtu kemarin sudah ada 13.734 pemudik. Sedangkan, total armada bus yang berangkat sebanyak 1.238 bus.

Tag: mudik lebaran 100 hari anies-sandi pemprov dki jakarta

Bagikan: