Basarnas Gunakan Pemindai Sonar Cari KM Sinar Bangun

Tim Editor

Ilustrasi KM Sinar Bangun (Rachmad Bagus/era.id)

Simalungun, era.id - Tim SAR masih melakukan pencarian terhadap KM Sinar Bangun dan sejumlah korban yang tenggelam di perairan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara Senin (18/6) lalu. Berbagai cara telah dilakukan, termasuk penggunaan sejumlah alat canggih.

Bahkan, multibeam side scan sonar atau pemindai sonar turut dilibatkan dalam operasi pencarian, sejak Jumat (22/6) pagi. Namun, hingga Sabtu (23/6) malam, peralatan milik TNI Angkatan Laut (AL) yang didatangkan dari Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun itu belum menemukan apa pun.

Jangankan korban tenggelam, keberadaan bangkai KM Sinar Bangun pun belum ditemukan. Sejak operasi pencarian dilakukan, baru 22 korban yang berhasil ditemukan. Tiga korban tewas, 19 lainnya selamat, termasuk nahkoda kapal.

Untuk mempercepat proses pencarian korban dan bangkai kapal, Badan SAR Nasional (Basarnas) berencana kembali mendatangkan peralatan scan sonar dari Kantor SAR Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dalam waktu dekat. Dengan dua pemindai sonar, Basarnas berencana memperluas area pencarian dalam radius 10 hingga 20 kilometer. 

Hingga hari keenam operasi, Basarnas telah melakukan pencarian, dari permukaan air hingga melakukan pencarian di kedalaman. Kata Kepala Basarnas, M. Syaugi, mencari bangkai kapal jadi hal penting, sebab banyak korban yang diperkirakan terjebak di dalam kapal yang karam.

Selain pemindai sonar, Basarnas pun telah mengerahkan helikopter untuk menyisir seluruh permukaan danau toba, termasuk pinggiran danau yang dikelilingi tujuh kabupaten.

Basarnas juga melakukan pengumpulan data dari masyarakat, nelayan, serta saksi lain yang menyaksikan tenggelamnya kapal yang berlayar dari Pelabuhan Tigaras di Simalungun ke Pelabuhan Simanindo di Samosir.

Cara kerja pemindai sonar


Tim SAR melakukan pemetaan (Foto: Istimewa)


Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan menjelaskan, dalam operasionalnya, pemindai sonar dibawa dan diletakkan di sebuah kapal, sebelum diturunkan menggunakan alat sejenis crane ke wilayah perairan Danau Toba.

Pemindai sonar digunakan untuk menyapu wilayah perairan Danau Toba guna melihat posisi kapal. Pemindai sonar berfungsi untuk mendeteksi benda dan elemen-elemen yang berada di bawah permukaan air. 

Berbekal citra yang ditangkap pemindai sonar, nantinya Tim SAR akan menindaklanjuti dengan melakukan pengecekan lokasi.

"Apakah orangnya atau kapalnya? Urusan belakangan. Yang penting ditemukan dahulu titik lokasi," kata Budiawan, dilansir Antara, Sabtu (24/6/2018).

Kendala


Situasi operasi pencarian korban KM Sinar Bangun (Foto: Istimewa)


Operasi pencarian di Danau Toba ini memang bukan sekadar operasi. Kesulitannya luar biasa. Selain luasnya wilayah pencarian, besarnya ombak juga jadi kendala. Ombak, disebut-sebut dapat membawa para korban hingga tercerai-berai ke titik-titik yang jauh dari lokasi tenggelamnya kapal.

Belum lagi kendala cuaca, di mana kabut kerap menyelimuti lokasi kala malam turun. Selain itu, berbeda dengan lautan yang berair asin, kondisi perairan Danau Toba yang merupakan air tawar disebut-sebut membuat korban lebih mudah tenggelam.

Dari segi teknis, kedalaman Danau Toba membuat penyelaman jadi mustahil dilakukan. Berdasar pengalaman  teknis selama ini, kemampuan maksimal manusia untuk menyelam hanyalah 50 meter. Sedang kedalaman Danau Toba diperkirakan lebih dari itu.

Nah, itulah kenapa pemindai sonar jadi elemen penting dalam pencarian. Sebab, pemindai sonar diketahui mampu mendeteksi benda-benda hingga kedalaman 600 meter. Karenanya, harapan untuk menemukan para korban masih ada.

Korban


Evakuasi korban KM Sinar Bangun (Foto: Istimewa)


Dari data posko penanganan, diketahui identitas tiga korban tewas adalah Tri Suci Wulandari (24), warga Aceh Tamiang; Fajryanti (47), warga Kota Binjai; dan Indah Juwita Saragih (22), warga Sidamanik, Simalungun.

Sedang 19 korban selamat adalah:

1. M. Fikri (21) warga Indrapura, Kabupaten Batubara;
2. Heri Nainggolan (23) warga Panei Tingkah, Kabupaten Simalungun
3. Jamuda (17) warga Bunga-bunga
4. Hernando Lingga (24) warga Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang
5. Sri Santika (26) warga Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara
6. Rahma Saputra (22) warga Indrapura, Kabupaten Batubara
7. Rini Sijabat (26) warga Kota Pinang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan
8. Tinambung Situmorang (16) warga Aeknopan, Kabupaten Labuhan Baru Utara,
9. Hermanto Turnip (27) warga Tigaras
10. Santi Sianturi (23) warga Lubuk Pakam, Kabupaten Deliserdang
11. Dedi Setiawan (22) warga Lubuk Pakam
12. Hafni (29) warga Pematang Siantar
13. Toni (29) warga Kota Pinang
14. Roni (17) warga Raja Nihuta
15. Rudi Wibowo (22) Kota Binjai
16. Josua Sinaga (18) warga Kota Binjai
17. Juwita Morga (24) warga Aceh Tamiang
18. Suhendra (22) warga Kota Pematang Siantar
19. Nahkoda (tidak dipublikasikan).

Seluruh korban yang ditemukan dibawa ke RSUD Tuan Rondahaim di Pematang Raya, Kabupaten Simalungun untuk dirawat dan diidentifikasi.

Tag: kapal tenggelam di danau toba kecelakaan infrastruktur tenggelam

Bagikan: