Trump dan Wakil Presiden AS Pecah Kongsi, Gedung Putih Makin Tak Kondusif?

ERA.id - Menyusul peristiwa penyerbuan Gedung Kongres AS pada Rabu lalu, Presiden Donald Trump dan wakil presidennya, Mike Pence, dikabarkan belum saling berkomunikasi satu sama lain pada Sabtu malam, demikian dilaporkan media CNN, Minggu.

Pence menyadari adanya "dendam amarah dari Presiden AS", sebut sumber CNN, (11/1/2021).

Sumber Gedung Putih lainnya mengatakan bahwa Trump marah terhadap wakil presidennya tersebut, dan Pence merasa kecewa dan sedih dengan seluruh sikap yang ditunjukkan Trump sebelum dan pascaterjadinya pemberontakan di Gedung Capitol, yang menewaskan 5 orang termasuk 1 petugas kepolisian Distrik Capitol.

Semula Trump mendesak wakil presidennya itu untuk membatalkan hasil pemilihan presiden AS 2020 pada sidang bersama Kongres AS, Rabu. Saat Wakil Presiden Pence menyatakan tak bisa membantu Trump dan mengirim surat ke Kongress bahwa ia akan mengikuti Konstitusi, Trump membakar semangat demonstrasi massa pro Trump untuk pergi ke Capitol Hill.

Pence dikabarkan sangat marah terhadap Presiden Trump karena ia dan keluarganya berada di tengah kerusuhan Gedung Capitol, hari Rabu lalu.

Reporter CNN, Jim Acosta dan Pamela Brown, menulis bahwa ini merupakan pertama kalinya Pence terlihat tidak setuju dengan Trump secara publik.

"Pence selama ini selalu menjadi salah satu pembela sang Presiden. Sering kali ia menjadi penengah retorika kasar Trump dan melakukan lobi terhadap prioritas kerja (Trump) di Kongres," sebut mereka.

Saat ini, melansir CNN yang mewawancarai sumber Gedung Putih, Pence dan tim penasihatnya berfokus untuk menjembatani transisi kepemimpinan dan sebisa mungkin membantu tim transisi Presiden-terpilih Joe Biden mempersiapkan penanganan pandemi COVID-19 di AS.

Pence mengonfirmasi akan datang dalam inagurasi Joe Biden pada tanggal 20 Januari.

Hubungan antara Trump dan Pence juga berpotensi meruncing, terutama terkait bahwa sang wakil presiden AS dikabarkan tak menutup kemungkinan diaktifkannya Amandemen ke-25 Konstitusi AS. Amandemen ini memberi kuasa pada wakil presiden dan mayoritas kabinet AS untuk melengserkan seorang presiden bila ia dinilai "tidak mampu mengemban tugasnya."

Namun, Pence dan timnya berhati-hati mengenai risiko pengaktifan Amandemen ke-25 atau pemakzulan. Mereka tidak ingin proses ini justru memberanikan Trump membuat keputusan-keputusan makin kontroversial di sembilan hari terakhirnya menjabat di Gedung Putih, demikian ditulis Acosta dan Brown via CNN.