Sulbar Pontang-Panting Berantas Stunting: Cuma Ada 1 Ahli Gizi di Tiap Puskesmas

Tim Editor

Ilustrasi: Seorang anak menjalani pemantauan kesehatan di Rwanda, Afrika. Problem stunting, atau gizi buruk, bisa menimpa anak-anak yang kurang asupan gizi atau stimuli sosial. (Foto: CIAT/Flickr)

ERA.id - Tenaga gizi kesehatan di Provinsi Sulawesi Barat jumlahnya terbatas sehingga menyulitkan penanganan kasus masalah gizi kronis (stunting) yang menimpa 40,38 persen anak yang lahir di daerah tersebut.

"Jumlah tenaga gizi hanya satu orang pada setiap puskesmas sehingga menjadi kendala dalam upaya pencegahan stunting di Sulbar," Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat Dr Muhammad Ikhwan di Mamuju, Rabu, (14/4/2021), dikutip ANTARA.

Ia mengatakan, tenaga gizi yang dimiliki puskesmas tersebut memiliki tugas yang banyak dalam rangka pelayanan puskesmas sehingga tenaga gizi untuk program pemberantasan stunting perlu ditambah.

Menurut dia, program penanganan stunting di Sulbar telah dilakukan pemerintah dengan membentuk jaringan 'relawan kesehatan' untuk membantu pemerintah melakukan penanganan stunting.

Kadinkes Sulawesi Barat
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sulbar dr Muhammad Ikhwan. ANTARA/dokumen 

Namun lanjutnya, terdapat kendala yang dihadapi pemerintah dalam penanganan stunting yakni masih lemahnya pemahaman masyarakat dalam penanganan stunting tersebut.

"Butuh peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai pemahaman stunting dengan pemberian asi ekslusif kepada anak," katanya.

Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar, mengatakan angka penderita stunting di Sulbar mencapai 40,38 persen.

Ia mengatakan penderita stunting di Sulbar tertinggi kedua di Indonesia sehingga program pembangunan sektor sumber daya manusia perlu dilakukan dalam rangka menekan angka stunting tersebut.

Menurut dia, sangat diperlukan kepedulian semua pihak dan kerjasama multi sektor untuk melakukan penanganan masalah stunting.

Tag: gizi buruk Sulawesi Barat stunting

Bagikan: