Sarat Nuansa Politik, Ini Resensi Film Train To Busan 2: Peninsula

Tim Editor

Cuplikan film Train to Busan 2: Peninsula

ERA.id - Jika disuruh memilih, siapa yang lebih menegangkan, Train to Busan atau Train To Busan 2: Peninsula, maka ada beberapa pertimbangan, dari segi sinematografi, jalan cerita, dan lain-lain.

Karena ini resensi untuk semua kalangan, maka jalan cerita wajib diterakan. Hasilnya, kembali ke sisi subjektivitas masing-masing persona. Mari dikesampingkan dulu soal sinematografi menyangkut film Train To Busan 2: Peninsula.

Film Train To Busan 2: Peninsula, membawa keseruan tersendiri. Namun, ketegangan film itu agak lebih sedikit daripada yang pertama. Alasannya mengapa? Ada beberapa hal.

Ketegangan yang diciptakan zombie di Korea Selatan dalam Train to Busan 2: Peninsula, tidak terlalu kuat. Terkesan biasa saja. Yang kuat adalah pesan-pesan yang dibawa oleh orang-orang Eropa atau Amerika.

Di Train To Busan 2: Peninsula, ceritanya awalnya begini. Peninsula bercerita tentang empat tahun pasca peristiwa Train to Busan pertama. Sesuai dengan judulnya yang pertama, ada kereta api yang harus membawa seorang untuk pergi ke Busan, menjauh dari gigitan zombie.

Kali ini, dalam Train To Busan 2: Peninsula, tak ada kereta api. Hanya ada kapal laut, setumpuk mobil bekas yang rusak, serta kota yang mati. Ditampilkan pula wajah Hong Kong yang kumuh dan mereka yang tinggal di sana: Menepi dan terhimpit ledakan penduduk.

Pesan politik dalam film ini begitu kuat. Korea Selatan menunjukkan posisinya bahwa, mereka adalah sekutu loyal untuk Amerika yang sama sekali tidak ada hubungannya. Setidaknya, dalam beberapa frame, muncul orang Amerika sebagai pimpinan gangster, narasumber dalam acara televisi, serta komandan dalam sebuah kapal.

Yang mesti dilihat adalah, United Nation turut ambil peran dalam film ini dan sama sekali pekerjaannya bisa dilakukan orang-orang Korea. Jika tak percaya, cobalah menyimak Train To Busan 2: Peninsula, ihwal bagaimana pesan demi pesan menunjukkan kuasa Amerika Serikat di sana.

Itu sekelumit pesannya. Soal alur, tanpa spoiler, seperti ini. Seluruh semenanjung Korea sudah dijangkiti wabah Zombie. Kondisi negara juga sudah hancur dan mati. Di jalanan, banyak zombie yang berkeliaran.

Namun, ada seorang pemuda bernama Jung Seok (Kang Dong Won) dan beberapa orang yang berhasil selamat, Mereka melarikan diri dari Korea dan menuju Hong Kong.

Suatu hari, Jung Seok mendapatkan misi dari pemimpin gangster (Eropa) untuk kembali ke Korea demi mengambil uang dalam truk yang tertinggal di sana.

Karena ini adalah misi yang berbahaya, maka Jung Seok diberi imbalan sekisar Rp354,1 miliar. Jung Seok menyetujuinya dan berangkat menjalankan misi kembali ke semenanjung Korea bersama rekan-rekannya.

Saat sampai di Korea, Jung Seok kehilangan teman-temannya. Mereka semua diserang zombie. Satu temannya meninggal dalam momen yang lain, yang jika kamu ingin tahu, kamu harus menontonnya.

Jung Seok yang seorang mantan tentara, lalu menjadi melankolis saat dirinya diselamatkan oleh dua orang anak perempuan yang tangguh, dari gigitan zombie. Saat itu, Jung Seok kembali mengingat masa lalunya saat kabur meninggalkan Korea demi Hong Kong.

Dalam film ini, pesan kekeluargaan dan persahabatannya begitu kuat. Film ini tak cuma merawat ketegangan sampai akhir cerita. Bagi pencinta film keluarga, pesan yang dibawa film ini pasti mudah masuk ke kepala.

Pesan itu dibawa oleh sekelompok orang yang menangkap Jung Seok dan kawannya yang masih hidup untuk dijadikan tumbal dalam sebuah arena pertarungan.

Area pertarungan tersebut sangat berbahaya karena yang dirivalkan dalam pertarungan adalah zombie dan manusia. Film ini , akhirnya lebih memilih menjatuhkan dirinya didominasi laga sana-sini, sedikit horor dan pesan kuat tentang keluarga dan persahabatan. Nilainya cukup baik. Politik? Nonton saja, bagaimana pengaruhnya dan bandingkan dengan Train to Busan pertama.

Tag: film resensi film film horor

Bagikan: