Kerap Dialami Artis, Kenali Penyebab, Ciri-Ciri, dan Terapi Gangguan Kepribadian Ambang

| 31 Aug 2020 08:14
Kerap Dialami Artis, Kenali Penyebab, Ciri-Ciri, dan Terapi Gangguan Kepribadian Ambang
Ilustrasi wanita (Foto: Unsplash/Anthony Tran)

ERA.id - Borderline Personality Disorder (BPD) atau Kepribadian Gangguan Ambang (GKA) pernah dialami beberapa artis Tanah Air, seperti Ariel Tatum dan Cerelia Raissa. Perasaan gangguan kepribadian ambang memiliki perasaan yang kuat berupa amarah, kesedihan, dan kecemasan yang tiba-tiba berubah.

Angka kejadian Kepribadian Gangguan Ambang (GKA) sekitar 1,6 hingga 5,6 persen pada populasi umum, 6 persen di pusat layanan primer, 10 persen di antara individu yang berkunjung ke klinik jiwa rawat jalan, 20 persen di rawat inap psikiatri, dan 30-60 persen di antara pasien-pasien dengan gangguan kepribadian ganda.

Pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, dr. Sylvia Detri Elvira mengatakan kondisi GKA kerap tidak diketahui atau disadari oleh mereka yang mengalami dan lingkungan orang terdekatnya. 

"Gangguan Kepribadian Ambang (GKA) adalah kondisi yang sering dijumpai dalam praktek klinis. Ada pun gejala-gejala dengan tampilan klinis yang dramatis," ungkap dr. Sylvia melalui konferensi pers via Zoom pada peluncuran dan bedah buku berjudul 'Mengenal dan Menyikapi Gangguan Kepribadian Ambang', Minggu (30/8/2020).

Tanda-tanda GKA di antaranya yang pertama disregulasi mood, yang ditandai dengan impulsivitas. Di mana perilaku bisa merusak diri sendiri (termasuk suicidal). Kedua adalah kemarahan yang tidak wajar. Ketiga ada mood yang labil (disforia episodik, iritabilitas, ansietas), dan beride paranoid saat menghadapi stres.

"Dalam kehidupan sehari-hari, pasien dengan gangguan kepribadian ambang biasanya sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Mulai lebih tampak dan dirasakan saat remaja. Lebih nyata saat dewasa, yakni ketika mulai bekerja dan berumah tangga. Yang amat merasa terganggu biasanya orang-orang dan lingkungan terdekat mereka," papar dr.Sylvia.

Dampak pandemi COVID-19, GKA mengalami situasi dengan berbagai kondisi yang kurang nyaman karena emosi yang tidak stabil, mudah berganti dalam hitungan hari, jam, bahkan menit. 

"Dapat memunculkan berbagai pikiran dan perasaan bersifat negatif. Lalu, menimbulkan emosi negatif pada diri sendiri. Misalnya, rasa kaget, takut, cemas, curiga, kecewa, marah, sedih atau bahkan stres yang tidak bisa dikendalikan," kata dr.Sylvia.

Perilaku yang dialami GKA, bisa menjadikan pengidap tidak lagi mudah beradaptasi. Belum lagi, pengidap akan merasakan munculnya berbagai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. 

"Individu dengan gangguan kepribadian ambang di masa pandemi, seseorang harus di rumah, tapi mereka tidak nyaman meski bertemu keluarga. Mereka juga tak mengerti emosi, tidak bisa ke sekolah,kampus,kantor,mal, atau restoran dan muncul rasa hampa yang makin bertambah. Nantinya, pengidap dilanda rasa stres, muncul pikiran 'capek hidup mending mati saja," jelas dr.Sylvia.

Banyak penelitian membuktikan kontribusi pelecehan fisik dan seksual dialami oleh 60 persen pasien GKA saat masih anak-anak. Faktornya juga bisa karena pengabaian oleh pengasuh, atau lingkungan rumah yang kacau tidak konsisten.

"Pada proses perkembangan, seorang anak dalam kondisi dibawah tekanan, akan memperkembangkan representasi (gambaran) dari dunia dalam dirinya. Anak akan menemukan sendiri dirinya dari sorot mata ibu dan pengasuhnya, yakni sebagai figur orangtua akan mengembalikan hal yang mereka lihat pada anak," tuturnya.

"Bila orangtua atau pengasuh gagal menyediakan pengalaman, figur pengasuh yang menakutkan atau yang takut bakal diserap oleh anak sebagai bagian dari struktur self-nya," lanjutnya.

Bagaimana terapinya?

dr.Sylvia mengatakan jika pasien pengidap Gangguan Kepribadian Ambang (GKA) harus melakukan terapi, seperti psikoterapi, dan terapi obat.

"Psikoterapi adalah terapi utama pada GKA (pemilihan tergantung kondisi pasien, dan preferensi terapisnya). Selain itu, terapi obat diperlukan agar bisa menyetabilkan kembali kondisi kimia dan fungsi otak. Kombinasi psikoterapi dengan terapi obat adalah pilihan utama pada tata laksana GKA," tutupnya. 

Rekomendasi