Dipicu WFH dan Sekolah Daring, Penderita Rabun Jauh Bertambah

Tim Editor

Ilustrasi: Karantina total selama pandemi COVID-19 memperparah kondisi rabun jauh di usia muda. (Foto: Li Lin/Unsplash)

ERA.id - Semakin banyak orang, terutama anak-anak, mengalami rabun jauh penglihatan (miopia) akibat pembatasan total (lockdown) yang menyebabkan kurangnya waktu di area luar ruangan serta meningkatnya jam penggunaan peranti digital, demikian dilaporkan koran Deutsche-Welle (DW).

Selama lockdown, pembelajaran sekolah hingga pekerjaan dilakukan via daring, dan masyarakat menghabiskan waktu yang melimpah di rumah, memandang ke layar peranti digital. Hal ini menyebabkan mata terus-menerus melihat obyek dalam jarak dekat, dan kurang divariasikan dengan memandang obyek-obyek jauh.

Anak-anak, utamanya, mendapatkan dampak yang paling berat. Selama pembatasan total mereka cenderung mengurangi waktu olahraga, termasuk olahraga mata. Hal ini bisa ditunjukkan oleh penelitian di Belanda dan China. Penelitian yang dirilis di di JAMA Ophthalmology, (14/1/2021) bahkan menyebut fenomena ini sebagai 'miopia karantina'.

Sehubungan dengan itu, data dari 120.000 anak sekolah di China menunjukkan bahwa anak usia 6-8 tahun punya risiko mengalami rabun jauh pada 2020, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di rentang usia ini, mata minus mereka berpotensi bertambah 0,3 diopter (satuan kemampuan penglihatan manusia).

Melansir DW, diagnosa rabun jauh di usia muda cukup disayangkan, karena sekalinya mengalami kondisi demikian, "hal ini sulit berubah". Di banyak kasus, rabun jauh dimulai semasa pendidikan dasar dan memburuk seiring bertambahnya umur. Semakin awal mulainya, dampaknya makin berat.

Rabun jauh yang terlalu berat bahkan bisa memicu kondisi terlepasnya retina (retinal detachmen) hingga katarak akibat tekanan yang terlalu berat di dalam mata, bahkan menimbulkan kebutaan di usia tua.

Brien Holden Vision Institute, sebuah organisasi nonprofit asal Australia, memprediksi bahwa di sekitar tahun 2050 nanti sekitar lima miliar orang, atau setengah dari populasi dunia, akan menderita rabun jauh. Hal ini terutama sangat mungkin terjadi di negara-negara industri, di mana angka penderita rabun jauh meningkat pesat selama beberapa dekade terakhir.

Negara-negara Asia sendiri termasuk yang memiliki tingkat rabun jauh di atas rata-rata di kalangan anak dan remaja. Setelah era Perang Dunia II, sebagai contoh, hanya ada sekitar 20-30% anak muda usia 20an tahun di Hong Kong, Taiwan dan Korea Selatan yang menderita rabun jauh. Saat ini, angka tersebut melejit menjadi 80 persen.

Di China, 4 dari 5 orang anak mudanya saat ini menderita rabun jauh. Di negara-negara Asia lainnya, angka miopia di kalangan anak muda mencapai 95 persen.

Melansir DW, risiko rabun jauh bisa dikurangi dengan tidak memandang terlalu lama benda-benda berjarak dekat, entah itu ponsel atau buku. Seseorang perlu rutin melihat ke kejauhan sesekali saat sedang bekerja menggunakan gadget atau laptop.

Beraktivitas di luar ruangan juga bisa mengurangi risiko rabun jauh karena cahaya alami cenderung mengurangi pertumbuhan bola mata, yang bisa menyebabkan miopia. Sebuah studi di Skandinavia menunjukkan bahwa miopia semakin parah selama musim dingin yang gelap, dan bisa distabilkan ketika musim-musim yang lebih terang.

Tag: pandemi COVID-19 lockdown

Bagikan: