Bendera Setengah Tiang Untuk Ruth Bader Ginsburg, Hakim Agung AS dan Ikon Feminis

Tim Editor

Ruth Bader Ginsburg menghadiri pidato Barack Obama di depan Kongres AS di Washington D.C. pada 24 Februari, 2009. (AFP/Pablo Martinez Monsivais)

ERA.id - Bendera di kompleks Gedung Putih diturunkan setengah tiang pada Jumat (18/9/2020) malam, setelah Hakim Agung Ruth Bader Ginsburg wafat di usia 87 tahun. Dalam masa 27 tahun bekerja di institusi kehakiman AS, ia dikenal gigih melindungi hak-hak perempuan.

Ratusan orang dikabarkan berkumpul di depan gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat di Washington untuk mengekspresikan dukacita mereka atas kepergian Hakim Ginsberg.

Karena Jumat malam juga merupakan hari pertama Tahun Baru Yahudi, seorang pengunjung, menurut laporan Reuters, juga menyanyikan lagu dukacita bangsa Yahudi, "Kaddish", di pelataran gedung, mendekati tengah malam.

Banyak warga AS merasa kepergian Hakim Ginsberg sebagai suatu kehilangan besar. Selama hidupnya ia telah menjadi ikon perlindungan terhadap cita-cita demokrasi Amerika.

Dinominasikan sebagai hakim agung oleh Presiden Bill Clinton pada tahun 1993, Ginsburg kerap berbeda pendapat dengan mayoritas hakim yang cenderung lebih konservatif, apalagi untuk hal-hal yang menyangkut hak perempuan. Seorang penulis di majalah New Yorker bahkan menjuluki Hakim Ginsberg sebagai "ikon feminis, seorang superhero dalam cerita komik."

Julukan itu tak main-main karena ia dikenal sangat kritis dan bekerja tak kenal waktu.Mungkin obituari yang ditulis Godfrey Hogson di koran The Guardian bisa menjelaskan prinsip dasar dalam karir kehakiman Ginsburg.

"Sepanjang karirnya yang panjang, ia memegang erat dua keyakinan ini: bahwa wanita menjadi korban diskriminasi di Amerika Serikat (dan di manapun), dan bahwa diskriminasi tersebut melanggar konstitusi Amerika."

Salah satu contoh pendapat Hakim Ginsburg bisa dilihat pada momen tahun 1996, ketika ia menulis bahwa kebijakan Institut Militer Virginia untuk hanya merekrut calon tentara laki-laki adalah melawan hukum. Seluruh hakim Mahkamah Agung lantas menyetujui pemikiran itu.

Pada tahun 2015, Hakim Ginsberg juga berperan mendukung legalisasi pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat.

Kisah hidup Ginsberg juga menjadi topik film dokumenter "RGB" (2018) dan ternyata mengundang banyak penonton. Satu film lainnya, On the Basis of Sex (2018) juga mengisahkan kisah kehidupannya.

Pada tahun 2018, tiga tulang rusuknya patah karena ia terjatuh, namun, ia kembali bekerja beberapa hari kemudian. Di tahun 2020, ia juga masih mengikuti diskusi Mahkamah Agung meski baru saja mendapat perawatan kantong empedu dan harus dirawat di rumah sakit. Selama masa-masa itu ia terus menyimak perkembangan isu kesehatan reproduksi perempuan, aborsi, hukuman mati, dan hak suara warga AS.

Tag: amerika serikat

Bagikan: