Uni Eropa Mendesak Agar WHO Dirombak

Tim Editor

Ilustrasi: Tedros Adhanom Gheybreyesus, Direktur Jenderal WHO. (Foto: Lin Jing/Twitter)

ERA.id - Uni Eropa ingin Badan Kesehatan Dunia (WHO) lebih transparan lagi perihal situasi darurat kesehatan di negara-negara dunia. Hal ini tercantum dalam draf usulan perombakan atas badan PBB tersebut menyusul sejumlah kritik terhadap cara China menangani wabah COVID-19 di awal pandemi.

Dipimpin oleh pemerintahan Jerman, negara-negara anggota Uni Eropa menggagas draf perombakan WHO lantaran kegagalan organisasi tersebut dalam hal pendanaan, pengelolaan, dan kekuatan otoritas hukum.

Dokumen bertanggal 19 Oktober, yang didapatkan oleh Reuters, mendesak WHO untuk menerapkan protokol agar semua negara anggota WHO patuh terhadap Aturan Kesehatan Internasional. Hal ini nantinya akan mewajibkan anggota WHO untuk secepat mungkin melaporkan adanya situasi darurat kesehatan di kawasan masing-masing.

Selama ini, WHO kerap dikritik oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena terlalu memihak China di kala awal pandemi, meski negara itu terhitung lamban dalam membagi informasi mengenai kemunculan virus korona baru di kota Wuhan.

WHO berulang kali membantah tuduhan Trump tersebut.

Badan kesehatan ini juga belum merespon mengenai proposal dari Uni Eropa, kata Reuters.

Pemerintah Jerman sendiri menolak berkomentar mengenai isi proposal tersebut lantaran status dokumen yang masih berupa draf.

Uni Eropa dan negara-negara anggotanya merupakan pendonor utama WHO, dan berpeluang menjadi pendonor terbesar bila Amerika Serikat benar-benar menarik keanggotaannya dari badan kesehatan ini.

Berdasarkan laporan Reuters, draf tersebut menyatakan dukungannya kepada WHO dan menekankan peran sentral badan tersebut dalam menanggulangi tantangan kesehatan global.

Namun, draf itu juga membeberkan sejumlah masalah transparansi yang menjadi tantangan utama dari badan PBB tersebut, selain juga masalah dalam pendanaan yang lebih berkelanjutan.

Dilatari desakan perombakan WHO "yang lebih ambisius" dari pemerintah Jerman, draf tersebut berisi permintaan agar WHO membentuk sistem reportase yang lebih efektif antara negara anggota dengan sekretariat WHO. Hal ini  tampak menyinggung China dan negara-negara lainnya yang tidak melaporkan situasi berkait pandemi secara tepat waktu.

Direktur Umum WHO Tedros Adhanom Gheybreyesus, dalam sebuah rapat dengan menteri kesehatan negara-negara Uni Eropa, mengatakan bahwa UE harus melihat pandemi COVID-19 sebagai 'momen penggugah'. Ia juga mengakui sedang meninjau bagaimana aturan telah diterapkan oleh negara-negara anggota WHO.

 
 

 

 

Tag: pbb uni eropa pandemi COVID-19

Bagikan: