Penulis Prancis Rela Bayar Denda 'PSBB' Asal Toko Buku Tetap Buka

Tim Editor

Toko buku Shakespeare and Co. yang ada di Paris, Prancis. (Foto: Jeevan Jose)

ERA.id - Sekelompok penulis asal Prancis bersedia membayar berapapun denda yang muncul akibat dibukanya toko-toko buku selama masa karantina wilayah total atau lockdown, di Prancis.

Pernyataan tersebut dibuat oleh seorang penulis buku terkemuka Prancis, Alexandre Jardin, yang mengaku bahwa para penulis buku sepakat untuk membantu keberlangsungan toko-toko buku di tengah krisis COVID-19, seperti dilaporkan The Guardian, (16/11/2020).

Negara Prancis sendiri, setidaknya hingga tanggal 1 Desember, hanya mengijinkan dibukanya sejumlah toko yang dianggap 'esensial', dan toko buku oleh pemerintah Prancis tak masuk dalam kategori esensial tersebut.

Jardin, yang anggota keluarganya meninggal karena COVID-19 bulan lalu, mengaku tak memandang remeh ancaman kesehatan selama wabah virus ini, namun, ia juga khawatir terhadap masa depan toko-toko buku independen. "Kami tak akan membiarkan toko-toko buku kami tutup," kata dia pada BFMTV.

"Kita tak bisa membiarkan polisi menutup toko-toko buku itu."

Saat ini, toko buku masih bisa berjualan, namun, hanya melalui pemesanan secara online, yang mana ini memberikan kesulitan tersendiri bagi toko-toko berskala kecil.

Berdasarkan pernyataan Jardin, penulis pemenang penghargaan Prix Goncourt tahun 1994, bernama Didier van Cauwelaert, sudah bersedia untuk membayar denda untuk toko-toko buku di kota Cannes, Prancis.

"Sistemnya adalah saya akan membiayai pembayaran denda suatu toko buku, dan Anda akan membayari denda toko buku yang lain," kata Jardin yang merupakan penulis novel romantis Le Zèbre dan Fanfan.

"Tak ada negara yang secara moral berhak menutup toko-toko buku," kata Jardin.

Gerakan penyelamatan toko buku ini sudah coba dimulai ketika lockdown di Prancis dimulai lebih dari dua pekan yang lalu. Kala itu walikota Paris Anne Hidalgo berupaya, namun gagal, agar toko-toko buku diperbolehkan oleh pemerintah Prancis untuk tetap buka.

Ia juga meminta warga Paris untuk tidak menggunakan layanan buku online seperti Amazon. Seruan ini juga digaungkan oleh Presiden Prancis terdahulu, François Hollande.

Toko-toko buku adalah "benteng terbaik (Prancis) dalam menghalangi terjangan gelombang sikap tak-mau-tahu", seperti disebutkan kritikus sastra François Busnel. Baginya, penutupan toko buku bisa berakibat buruk bagi kultur masyarakat Prancis.

"Seperti kita lihat pasca lockdown yang pertama (Maret-April), bahwa jutaan orang di negara ini berbondong-bondong mencari buku; mereka haus akan bacaan. Sehingga, menutup toko buku sama saja dengan menghimpit satu bagian dalam ekonomi budaya dan, dalam hal ini, membuatnya kehabisan nafas," kata Busnel, saat itu dalam wawancara TV France 5.

Tag: prancis buku pandemi COVID-19

Bagikan: