Italia 'Disiplinkan' 13 Dokter yang Sebut Vaksin COVID-19 'Tidak Berguna'

| 29 Dec 2020 13:30
Italia 'Disiplinkan' 13 Dokter yang Sebut Vaksin COVID-19 'Tidak Berguna'
Ilustrasi: ruang operasi di rumah sakit. (Foto: Pixpoetry/Unsplash)

ERA.id - Tiga belas dokter di Roma, Italia, mendapatkan hukuman disipliner karena mendukung gerakan anti-vaksin dan menyangsikan kebenaran wabah Coronavirus Disease (COVID-19) yang telah merenggut 71.925 nyawa di Italia.

Media Italia, ANSA, pada Senin (28/12/2020), mengabarkan bahwa dokter-dokter tersebut sempat menyebutkan vaksin COVID-19 dan vaksin lainnya tidak ada gunanya. Bahkan mereka juga menyatakan kalau pandemi COVID-19, yang telah menjangkiti lebih dari 81,3 juta orang di seluruh dunia berdasarkan penghitungan Universitas Johns Hopkins, adalah fenomena fiktif atau bahwa penyakit ini hanya flu biasa.

Dokter-dokter tersebut menggunakan platform TV dan media sosial untuk menyebarkan pandangan mereka.

Kepala serikat dokter di Roma, Antonio Magi, mengatakan bahwa perilaku para dokter tersebut tidak akan dibiarkan.

Dunia kedokteran dan farmasi telah memulai riset terhadap genom virus SARS-CoV-2, penyebab COVID-19, sejak Januari 2020. Meski riset vaksin biasanya memerlukan waktu selama bertahun-tahun, para peneliti berupaya agar vaksin ditemukan dalam waktu dekat.

Beberapa vaksin COVID-19 kini telah mendapatkan ijin penggunaan darurat (EUA) di beberapa negara berdasarkan analisa awal uji klinis yang menjanjikan. Vaksin buatan Pfizer dan Moderna, misalnya, dinyatakan memiliki tingkat kemanjuran 94,5-95 persen.

Kedua vaksin tersebut telah melewati uji vaksin tahap akhir (Fase 3) yang menganalisa kemanjuran sebuah produk vaksin terhadap sampel relawan dalam jumlah besar.

Saat ini ada 5 kandidat vaksin COVID-19 yang tengah menjalani Fase 3 ini, demikian dilaporkan koran New York Times.

Italia, dengan lebih dari 2 juta kasus COVID-19, adalah salah satu negara yang paling terdampak wabah COVID-19. Pada November lalu, media The Guardian melaporkan bahwa ruang-ruang Unit Perawatan Intensif (ICU) di Italia terancam kewalahan dengan membludaknya pasien korona di rumah sakat. Pada 17 November lalu, ada 3.612 pasien korona yang harus dirawat di ruang ICU di Italia.

Vaksin COVID-19 pun menjadi salah satu amunisi Italia untuk mengendalikan pandemi ini. Program vaksinasi di Italia dimulai pada hari Minggu lalu, demikian disampaikan Voice of America.

Perawat berusia 29 tahun disuntik vaksin di Lazzaro Spallanzani National Institute for Infectious Disease di Kota Roma. Ia menjadi orang Italia pertama yang menerima vaksin, diikuti para tenaga kesehatan di rumah-rumah sakit di seluru Italia.

Pemerintah Italia berencana mendahulukan program vaksinasi bagi staf kesehatan dan penghuni panti-panti werdha. Warga berumur 80 tahun didahulukan, diikuti warga usia 70an dan 60an tahun, kemudian warga dengan penyakit kronis.

Lebih dari 50 persen warga Italia bersedia menerima vaksin COVID-19. Angka tersebut terus meningkat, dan pemerintah Italia berharap di bulan kesembilan program imunisasi COVID-19, Italia akan mencapai tingkat kekebalan komunitas (herd immunity) sebesar 70 persen dari total populasi, atau sekitar 42 juta orang.

Rekomendasi