Iran Bertekad Balas Dendam Atas 'Serangan Israel' ke Fasilitas Nuklir Natanz

| 13 Apr 2021 19:45
Iran Bertekad Balas Dendam Atas 'Serangan Israel' ke Fasilitas Nuklir Natanz
Fasilitas pengayaan uranium Natanz, Iran. (Foto: Middle East Online)

ERA.id - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan bahwa negaranya akan "balas dendam" atas serangan yang merusak kompleks program nuklir Natanz di Iran. Pihaknya menuduh Israel dalang atas serangan tersebut.

Dilansir dari BBC, (13/4/2021), pejabat pemerintahan Iran menyebut bahwa fasilitas pengayaan uranium Natanz menjadi target "terorisme nuklir" pada Minggu, meski sebelumnya mereka menglaim insiden yang terjadi sekadar masalah kelistrikan.

Kompleks Natanz adalah fasilitas yang baru saja ditambahi beberapa mesin sentrifugal mutakhir yang bisa digunakan untuk pengayaan uranium, material utama dalam teknologi nuklir.

Israel tidak menanggapi tuduhan pemerintahan Iran soal insiden hari Minggu, namun, radio publik setempat menyatakan ada sumber intelijen yang menyebut bahwa operasi siber Mossad, badan intelijen Israel, mendalangi insiden itu.

Insiden tersebut menyebabkan terjadinya ledakan besar yang menghancurkan sebuah sistem kelistrikan independen di Natanz, demikian seperti dilaporkan New York Times mengutip sumber intelijen Amerika Serikat. Sumber tersebut menaksir dibutuhkan waktu 9 bulan agar proses pengayaan uranium bisa dilanjutkan.

Kantor berita Nour News, yang terafiliasi ke Dewan Keamanan Nasional Iran, mengabarkan bahwa Kementerian Intelijen negara tersebut telah berhasil mengidentifikasi "pelaku utama" insiden pada hari Minggu. Kini, sebuah operasi penangkapan tengah dilangsungkan terhadap pelaku tersebut.

Beberapa waktu belakangan ini Israel telah mewanti-wanti komunitas internasional terkait program nuklir Iran, meski AS di bawah Presiden Joe Biden berusaha membangkitkan lagi persetujuan nuklir 2015 yang dicampakkan presiden terdahulu, Donald Trump.

Kini pembicaraan terus berlangsung bagaimana kesepakatan itu bisa hidup kembali. Namun, Iran dan lima negara lain yang bergabung dalam kesepakatan - China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris - masih belum sepakat mengenai bagaimana AS bisa menyetop sanksi, dan Iran bisa kembali membatasi program nuklirnya.

Pejabat AS dan Iran tengah melakukan pembicaraan secara tidak langsung di Vienna guna menemukan solusi. Diplomat Eropa dalam hal ini bertindak sebagai perantara.

Sekretaris Pertahanan AS Lloyd Austin, yang saat ini sedang berada di Israel, mengatakan ia telah mendengar berita insiden di Natanz. Ia menyebut pemerintahan Biden bakal tetap mengutamakan upaya diplomatik dalam memperbaiki hubungan dengan Iran.

Rekomendasi