Refleksi Aksi 411: Massa yang Kian Turun, Tuntutan yang Kian Tinggi, dan Agenda yang Kian Kabur

| 07 Nov 2022 14:42
Massa Aksi Bela Islam 411 berkumpul di depan Patung Kuda, Jakarta, Jumat (4/11). (ERA/Agus Ghulam)

Ketika ditanya kebijakan Jokowi yang paling gagal, seorang pria yang mengaku bernama Yono hanya berteriak-teriak, "Jokowi pembohong penipu rakyat kita nggak butuh presiden yang nggak punya kejujuran, malu, malu!"

ERA.id - Masjid Istiqlal terpantau ramai Jumat (4/11) lalu, sedikit lebih ramai dari Jumat biasanya, dengan jemaah yang lebih beragam, sebagian besarnya berseragam putih-putih. Tampak beberapa murid SMPN 4 Jakarta baru pulang sekolah, mereka menunduk sopan saat melewati sebarisan orang-orang bersepatu lars putih yang duduk-duduk di pinggiran kolam.

"Saya dari Purwakarta Mas,” jawab salah seorang pria bersepatu lars itu kepada ERA. “Rombongan satu bus dari sana,” lanjutnya. Ia memakai topi baret putih dengan lencana FPI yang sudah berubah nama jadi Front Persaudaraan Islam, nama yang terdengar lebih ramah ketimbang sebelumnya. Seorang anggota FPI dari Bekasi mengaku datang bersama sekitar 80 laskar lain.

Beberapa laskar Front Persaudaraan Islam (FPI) menunggu salat Jumat di Masjid Istiqlal menjelang Aksi 411. (ERA/Agus Ghulam)

 

Diperkirakan ratusan orang datang ke Istiqlal Jumat kemarin untuk melaksanakan agenda tahunan sejak 2016, aksi 4 November atau 411. Pada aksi pertamanya, FPI masih bernama Front Pembela Islam sebelum dibubarkan paksa, jumlah massa aksi mencapai puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu, mereka menuntut agar Ahok diadili sebagai penista agama, dan tuntutan itu pada akhirnya terpenuhi.

Enam tahun berlalu sejak saat itu, nyala api para simpatisan dan pendukung Habib Rizieq Shihab masih menyala, tapi baranya terasa kian redup, dan panasnya tak akan mampu membakar ibu kota seperti pertama kali. Andai saja aksi 411 tahun ini masih bergelora seperti dulu, mungkin teras Istiqlal penuh sesak seperti Padang Arafah saat musim haji.

Namun, Jumat kemarin, orang-orang yang datang dari Jakarta atau luar kota untuk ikut aksi 411 masih menyisakan banyak ruang kosong di Istiqlal. Ruang yang cukup luas untuk dilewati murid-murid SMP, para wali murid, atau kucing kampung yang melenggang di teras masjid seperti model pameran busana. Ketika jumlah massa kian menurun jauh, tuntutan mereka justru kian terbang di awan dan terdengar nyaris mustahil. Mereka menuntut Jokowi turun dari tahtanya dan jadi rakyat biasa.

Di atas mimbar, khatib berkhutbah tentang persatuan umat. Pelantang suara menggemakan pertanyaan sang khatib, “Apakah perbedaan pendapat itu dilarang dalam Islam?” Tepat pukul 12.00 dan bayang-bayang meredup, lonceng di Katedral Jakarta berdentang menandakan dimulainya ibadah Jumat Agung, menyelingi suara sang khatib. Belasan pasang sepatu lars meneduh di bawah pohon besar menunggu pemiliknya selesai Jumatan.

Beberapa anggota FPI di tepian menyimak khutbah sambil merokok, mereka biarkan kancing seragamnya terbuka untuk menampung angin sejuk dan memperlihatkan kaos bergambar Habib Rizieq. Setelah ikamah melantang, yang merokok mematikan baranya, yang di luar menggelar sajadahnya, dan semua segera menghadap satu kiblat yang sama.

Massa aksi yang berkumpul di samping penitipan sandal Masjid Istiqlal membentangkan poster tuntutan aksi. (ERA/Agus Ghulam)

 

Doa penghabisan imam salat Jumat membubarkan jamaah yang berangsur-angsur menuju gerbang utama. Di samping penitipan sandal, beberapa ibu-ibu mengenakan baju dan rompi hitam menenteng berbagai poster dari kardus bertuliskan: PRESIDEN CACAT MORAL WAJIB MUNDUR; JOKOWI PEMBOHONG & PENIPU RAKYAT; GAK BUTUH PRESIDEN BONEKA RRC. Seorang pria yang mengaku mewakili rakyat waras mengomando ibu-ibu itu menyanyikan yel-yel Jokowi Mundur. Massa aksi mulai membuat barisan seperti gerbong kereta api. Kalimat tahlil, takbir, dan selawat mengantar kepergian mereka menuju Patung Kuda di tengah panas terik menyala.

Kegamangan tuntutan Aksi 411

Meski jauh lebih sedikit ketimbang aksi pertamanya, massa aksi 411 tahun ini masih mampu menguasai jalanan sepanjang menyisir Jl. Katedral hingga Patung Kuda. Puluhan baris laskar FPI bergandengan lengan membuka jalan bagi mobil komando dan ambulans di belakangnya. Karena massa aksi bergerak melawan arus kendaraan, sederet mobil menumpuk panjang di depan Katedral Jakarta, hanya menyisakan celah untuk dilewati pedagang asongan. Sebagian peserta memilih mengiringi long march itu dari trotoar.

Alfian Tanjung dan beberapa pria berjubah putih berdiri di atas mobil komando yang merangkak pelan, mereka bergantian mengingatkan tujuan aksi kepada seluruh peserta yang mendengar. "Kita menuntut agar saudara Jokowi untuk mundur secara konstitusional!" seru Alfian Tanjung yang disambut takbir orang-orang. "Kita tidak akan sekadar menjadikan gerakan ini aksi karnaval, aksi pawai biasa," lanjutnya.

Namun, sebetulnya memang agak sulit membedakan aksi 411 Jumat kemarin dengan karnaval tujuh belasan. Tanpa bendera-bendera tauhid yang dikibarkan, tanpa berbagai poster dan spanduk turunkan Jokowi, sepasang mata siapa pun mungkin akan salah mengira mereka sebagai barisan paskibra.

Mobil komando Aksi 411 lewat di depan Monas, tampak Alfian Tanjung memegang mik. (ERA/Agus Ghulam)

 

Selain laskar-laskar berseragam lengkap, banyak juga ibu-ibu yang turun ke jalan, sebagian membawa anak mereka panas-panasan. Di atas aspal yang tak kalah panas, mereka dengan fasih menyanyikan lagu bela Islam berulang-ulang:

Aksi bela Islam
Aksi bela Islam
Aksi bela Islam
Allah Allahu Akbar

Sesampainya di bundaran Patung Kuda, massa aksi mulai mengelilingi mobil komando yang terparkir, ada yang menggelar tikar di pinggiran jalan seperti sedang piknik bersama keluarga, dan sebagian lain mengistirahatkan kaki mereka di pelataran kolam air mancur. "Ini airnya bisa buat wudhu kan?" tanya seorang peserta mendekati waktu asar kepada ibu-ibu yang sedang bersantai.

Saat itu, ERA bertemu dengan Bu Rosi yang mengaku datang bersama 30-an ibu-ibu dari Majelis Taklim At-Taqwa. "Kita ini majelis istigasah, jadi tiap bulan kita ada pengajian, mendoakan negara kita aman, biar merdeka, rakyat juga gak sengsara," ucap Bu Rosi menjelaskan perkumpulannya. "Tiap bulan kegiatan kita silaturahmi ke kiai-kiai, minta petunjuklah, gimana menurut Pak Kiai kita emak-emak ikut begini? Gak papa katanya."

Bu Rosi mengeluhkan harga BBM dan sembako yang terus naik. Seorang temannya lalu menyeloroh dari samping, "Kita harapannya Jokowi turunlah. Mudah-mudahan turun, diganti dengan pemimpin yang baru, Anies Baswedan," katanya menggebu-gebu. "Yang ini (Jokowi) gak usah, mendem aja."

Ibu-ibu dan beberapa massa Aksi 411 beristirahat di pinggir kolam air mancur Patung Kuda. (ERA/Agus Ghulam)

 

Di tengah gaung presiden tukang bohong, setiap peserta yang ditemui ERA tak bisa benar-benar menjawab alasan Jokowi harus mundur di tengah jalan. Ketika ditanya kebijakan Jokowi yang paling gagal, seorang pria yang mengaku bernama Yono hanya berteriak-teriak, "Jokowi pembohong penipu rakyat kita gak butuh presiden yang gak punya kejujuran, malu, malu, ngaku Pancasila tapi bohong, nindas rakyat, saatnya Jokowi…" ibu-ibu yang berkumpul di sekitarnya lalu menyahut, "MUNDUR!"

Selepas salat Asar berjamaah, seorang orator yang naik ke atas mobil komando mengungkit-ungkit kabar ijazah palsu Jokowi, dan menyatakan pencalonannya jadi presiden otomatis tidak sah. Para menantu Habib Rizieq juga diundang naik untuk berorasi, dan mereka berulang kali mengingatkan soal TAP MPR yang mengharuskan pemimpin gagal untuk mundur, di saat bersamaan, mereka tak menjelaskan TAP MPR mana yang dimaksud, dan apa isinya.

Salah satu peserta Aksi 411 memakai kaos bertuliskan Usut Tuntas KM 50 di Masjid Istiqlal. (ERA/Agus Ghulam)

 

Sebelumnya, ketika massa aksi baru berkumpul di Istiqlal dan menunggu azan Jumat, tampak beberapa laskar FPI yang membuka seragamnya karena kegerahan memakai kaos bertuliskan USUT TUNTAS KM 50, sebuah tragedi yang membunuh enam laskar FPI saat mengawal Habib Rizieq dari kejaran polisi Desember 2020 lalu. Namun, sepanjang aksi berlangsung dan dalam pantauan ERA, kasus KM 50 tak pernah disebut-sebut, dan gaungnya kian tenggelam setelah kaos-kaos itu kembali ditutupi seragam putih.

“Saya dari Jawa Tengah,” ucap seorang pria paruh baya saat perwakilan dari daerah menyampaikan orasi. Ia datang seorang diri naik bus ke Jakarta dan turun di terminal Lebak Bulus. Pria itu mengaku baru pertama kali ikut aksi seperti ini. “Penasaran bagaimana rasanya,” ungkap pria itu kepada ERA. Kalau masih diberi umur, katanya ia mungkin bakal datang lagi tanggal 2 Desember nanti.

Seperti buih dihapus air hujan

Menjelang magrib, langit di atas Monas jadi abu-abu dan menggelap lebih dini dari waktunya. Permukaan kolam air mancur mulai beriak kecil pertanda gerimis. Beberapa peserta aksi pamit lebih dulu menghindari nasib basah jika harus menunggu lebih lama. Namun, sebagian besar masih bertahan di bundaran Patung Kuda, dan yang lain sudah menyiapkan jas hujan dari rumah.

Massa Aksi 411 berjamaah salat magrib di bundaran Patung Kuda. (ERA/Sachril)

 

Hujan menderas ketika masuk waktu magrib, mengguyur massa aksi yang berjamaah salat magrib bersajadahkan aspal. Tak berapa lama seusai berdoa, mereka membubarkan diri. Hujan baru mereda selepas isya. Saat itu, bundaran Patung Kuda sudah sepi dari orang-orang berseragam putih dan pedagang kaki lima.

Tak lagi terdengar gaung-gaung turunkan Jokowi. Poster-poster aksi yang dibagikan sepanjang jalan sudah jadi sampah. Para peserta yang datang dari luar kota sibuk merenungi tiket kereta atau bus untuk pulang. Sementara Jokowi mungkin hanya mendengar berita itu sekilas lalu dari kamarnya, sambil mempersiapkan kunjungan kerja berikutnya pada tanggal 2 Desember.

Tak ada yang benar-benar peduli tentang aksi 411. Di perjalanan pulang ke kantor ERA, sopir ojol yang kebasahan mengutuki aksi itu karena menutup banyak ruas jalan. Saat kami tanya kenapa ia tidak ikut aksi sekalian, sopir ojol itu tertawa di balik helmnya. “Waduh Mas, saya sibuk mikir cari duit,” jawabnya keras agar suaranya terdengar di tengah deras hujan.

Massa Aksi 411 membubarkan diri selepas salat Magrib dan hujan yang kian deras. (ERA/Sachril)

 

Kami membayangkan ratusan orang yang berkumpul Jumat lalu ibarat buih, sebanyak apa pun akan hilang dihapus hujan. Andai saja mereka mau berpikir lebih jernih, alih-alih menuntut Jokowi untuk turun, mereka bisa menyuarakan keadilan bagi enam laskar FPI yang mati ditembak tanpa kejelasan dua tahun silam, hingga kematian mereka tak terasa sia-sia.

Rekomendasi