Menikmati Seni atau Mencari Eksistensi?

Tim Editor

Suasana Art Jakarta (Foto: Tasya/era.id)

Jakarta, era.id - Gelaran acara Art Jakarta 2018 dibuka untuk umum sejak Kamis (2/8/2018) di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta. Di hari pertama acara tersebut, tim era.id mendapat kesempatan untuk berkeliling di sekitar venue.

Fair Consultant Art Jakarta, Gil Schneider mengajak kami menyambangi sejumlah booth galeri seni. Seperti  The Columns Gallery yang berasal dari Korea, galeri milik ROH Project dari Indonesia, serta beberapa galeri lainnya yang berasal dari dalam maupun luar negeri.


Fair Consultant Art Jakarta, Gil Schneider (Tasya/era.id)

Di booth The Columns Gallery, kami berkesempatan melihat lukisan karya Chung Sang Hwa, seniman dari Korea. Menurut Don--pemilik galeri--lukisan kanvas itu sepenuhnya dilukis dengan menggunakan cat akrilik berwarna biru dan menggunakan pisau hingga membentuk motif. Lukisan ini dibuat pada 1987 dengan ukuran 91,5 cm x 73,5 cm.

Berlanjut ke booth ROH Project yang menampilkan lukisan milik Syagini Ratna Wulan. Lukisan ini berjudul Susurrus--yang berarti desir atau gemerisik--sebuah kiasan untuk bunyi lamat-lamat, tak jelas, dan samar. Menurut Nenty, penjaga booth, lukisan ini mengandung makna tentang sesuatu yang kita dengar saat mendengar suara angin. Ya, karya ini mengajarkan kita untuk menyimak, mencari, dan mengamati dari dekat. Menarik bukan?

Lukisan ini dibuat dengan media plexyglass yang kemudian dilapisi resin. Dengan menggunakan teknik digital print, warnanya tampak samar-samar sehingga untuk mengetahui makna dari lukisan ini kita harus menyimak dan mengamatinya dari dekat. 


Nenty, booth ROH Project (Tasya/era.id)

Tapi diam-diam, kami juga mengamati orang-orang yang ada di acara ini. Seraya bertanya dalam hati, 'Mereka datang ke sini buat menikmati seni atau hanya mencari eksistensi?'. Bukan apa-apa. Dengan berpenampilan artsy seakan benar-benar penikmat seni mereka malah sibuk berpose di depan kamera. Sampai-sampai--sayangnya momen ini tak terekam kamera kami--ada seorang wanita yang tengah berfoto secara tak sengaja menjatuhkan sebuah display salah satu karya seni. Alhasil, semua mata pun tertuju kepadanya.

Tapi sejujurunya, enggak adil juga menghakimi semua yang hadir di sana cuma mencari eksistensi. Buktinya, seorang pengunjung yang saya wawancarai, Arya menyebut dia selalu datang ke acara Art Jakarta selama tiga tahun terakhir untuk menikmati lukisan.

"Sudah tiga tahun saya ikut terus acara ini dan acaranya yang ditampilkan makin bervariatif dan makin menarik, karena sebelumnya ya monoton," kata Arya kepada era.id

"Saya sih sukanya lukisan-lukisan yang surealis sama lukisan yang ekspresionis. Banyak main warna dan feelingnya lebih berasa," ungkap pekerja kantoran ini.


Arya, salah satu pengunjung Art Jakarta (Tasya/era.id)

Pagelaran Art Jakarta memang menarik. Di hari pertama saja sudah dikunjungi banyak orang. Hal ini menunjukkan, meski kali ini diberlakukan harga tanda masuk sebesar Rp 50ribu tak sedikit pun memengaruhi langkah para penikmat seni. Ya, sebelumnya acara ini selalu gratis.

Apakah memang antusiasme penikmat seni sudah semakin tinggi? Sepertinya iya. Sebab, ketika Museum Macan yang menampilkan karya instalasi seni dari Yayoi Kusama digelar Mei lalu para penikmat seni pun rela membayar Rp100 ribu, baik demi menikmati seni maupun untuk sekadar numpang berfoto.

Baca Juga : Art Jakarta, Ajang Kumpul Pecinta Seni
 

Tag: lifestyle

Bagikan: