Emosi Dengar Orang Ngunyah? Waspada Kena Misophonia

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Pernah enggak sih kamu merasa terganggu saat mendengar suara orang mengunyah dengan keras, atau merasa kesal ketika dengar orang menyeruput kopi dengan suara nyaring? Kalo pernah bisa jadi kamu punya masalah neurologis yang nyata tuh. Tapi tenang, masalah ini tidak hanya melanda kamu saja kok.

Buat kalian yang belum tahu, kondisi ini biasa disebut dengan Misophonia. Misophonia ini didefinisikan sebagai kepekaan yang sangat parah terhadap suara, seperti mengunyah, batuk, menguap, dan lain sebagainya.

Dilansir Antara, beberapa orang ternyata punya kasus misophonia yang lebih parah dibandingkan orang lain. Bahkan, mereka bisa berada dalam posisi terganggu karena suara itu, dan harus mendapatkan terapi perilaku kognitif.

Misophonia ini juga telah secara resmi menjadi salah satu masalah neurologis sejak tahun 2001. Tapi, ternyata masih banyak kelompok skeptis yang mempertanyakan apakah kondisi misophonia ini nyata.


(Ilustrasi/ Foto: Pixabay)

Namun sejak tahun lalu, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biologi menunjukkan kalau mereka yang mengidap gejala misophonia ini ternyata memiliki kelainan di lobus frontal otak mereka, sehingga menimbulkan reaksi terhadap suara keras. Bahkan, reaksi terparah bisa memicu timbulnya keringat berlebih dan detak jantung lebih cepat.

"Saya berharap ini akan menenangkan para penderita," kata Professor Neurologi Kognitif di Universitas Newcastle dan Universitas Collage London dalam siaran pers. "Saya adalah bagian dari komunitas skeptis sampai kami melihat pasien di klinik dan mengerti betapa mirip ciri-cirinya." 

Dari hasil penelitian lainnya pada bulan Februari yang lalu ternyata Misophonia juga dapay mempengaruhi kemampuan seseorang dalam belajar. Dalam jurnal Applied Cognitive Psychology, suara yang halus seperti kunyahan permen karet ternyata cukup mempengaruhi kinerja akademis.

"Beberapa orang sangat sensitif terhadap suara latar belakang yang relatif halus seperti mengunyah, dan kepekaan ini dapat mengganggu cukup banyak untuk merusak pembelajaran," tulis Logan Fiorella, asisten profesor kognisi terapan dan pengembangan di University of Georgia.

Dalam penelitian, para peneliti mengajak 72 mahasiswa yang tengah mempelajari makalah tentang migrain dan mereka duduk dalam satu ruangan. Kemudian setengah dari jumlah itu duduk sambil mengunyah permen karet, dan yang lainnya tidak. Mereka kemudian mengambil tes dalam suasana hening. Ternyata, para penderita Misophonia mendapatkan nilai tes lebih rendah.


Ilustrasi/ Foto: Pixabay)

Fiorella mencatat, secara klinis tidak ada siswa yang menderita misphonia parah, tapi mereka masih saja terdampak dengan kebisingan itu.

"Ini mungkin sangat penting bagi siswa dengan tingkat sensitivitas misophonia yang lebih tinggi untuk menghindari belajar di tempat-tempat di mana ada banyak suara 'pemicu', seperti orang lain yang sedang mengunyah, batuk, memencet pena, atau menggesek-gesek kertas," ucap Fiorella.

"Ketika itu tidak dapat dihindari, beberapa strategi yang disarankan oleh peneliti lain termasuk menggunakan penutup telinga, fokus pada suara seseorang, atau menggunakan dialog internal yang positif," tambah dia.

Tag: yang unik kesehatan

Bagikan: