Menghitung Hari Baik Pernikahan, Masih Perlu?

Tim Editor

Ilustrasi (Mahesa/era.id)

Jakarta, era.id - Pasangan muda Ozza G Patria (24) dan Puni Putrilarasati (23) terpaksa mengurungkan niatnya melangsungkan akad nikah pada tanggal 18, bulan 8, tahun 2018. Semua karena bertentangan dengan pilihan orang tuanya yang menentukan hari baik pernikahan --berdasarkan konsultasi orang pintar-- pada 1 Agustus 2018. 

Bukan cuma Ozza dan Puni yang mungkin masih mengikuti kepercayaan orang tua zaman dulu dalam menentukan hari baik pernikahan. Ada beberapa metode menghitung hari baik yang dipercaya masyarakat, seperti perhitungan adat Jawa yang dilakukan Ozza, misalnya.

"Waktu itu ditanyain ke keluarga bokap di Lamongan yang diitung adalah angka wetonnya --hari lahir seseorang dengan pasaran bulan Jawa-- lalu disesuaikan dengan jumlah weton gue dan Puni," tutur Ozza kepada era.id.


Pernikahan adat Jawa. (Ilustrasi/era.id)

Metode menghitung hari baik pun tidak melulu pasti. Sebelum akhirnya membulatkan tekad menikah pada 1 Agustus 2018, Ozza juga sempat dibikin pusing dengan perbedaan pendapat antara perhitungan dari ibunya --yang juga bertanya kepada orang pintar-- dengan keluarga ayahnya di Lamongan. 

Keluarga ayahnya memilih tanggal 18 Agustus 2018 sebagai hari baik pernikahan. Tapi hari baik itu ditolak orang pintar kenalan ibunya. 

"Ternyata tanggal itu enggak bagus, karena ada di penghujung bulan Jawa, yang katanya bisa mengakibatkan kesialan," timpalnya. 

Katanya, jika Ozza nekad menggelar akad pada hari itu, maka kejadian buruk akan menimpa dirinya dan Puni beserta orang tua, dan keluarganya secara acak. Kemudian orang itu menyarankan untuk menikah di tanggal 1 Agustus karena dianggap hari baik.

Berbagai literasi mencatat, kepercayaan kepada "tanggal baik" dan "tanggal buruk" tidak hanya dianut oleh adat Jawa. Adat Sunda misalnya, masih ada yang menggunakan referensi "tanggal baik" sebagai rujukan untuk melaksanakan pernikahannya.


Ilustrasi (Mahesa/era.id)

Pemilihan tanggal baik di adat Sunda mengacu kepada penanggalan hijriah atau penanggalan agama Islam. Biasanya orang-orang yang berasal dari Sunda memilih bulan Haji dan bulan Syawal untuk melaksanakan pernikahan. 

Sementara dalam budaya Tionghoa, ada metode perhitungan yang digunakan untuk menghitung hari baik dan buruk. Yakni menghitung Xiu. Seperti dilansir dari Forum Budaya Tionghoa web.budaya-tionghoa.net, Xiu yang berjumlah 28 itu sebenarnya adalah konstelasi-konstelasi bintang. 

Untuk mengetahui Xiu, bisa melihat almanak atau Tongshu yakni kalender khusus penanggalan Tiongkok. Menurut almanak Tionghoa, masing-masing hari memiliki Xiu-nya sendiri-sendiri. 
 
Kepercayaan penentuan hari baik sudah turun-temurun dipercaya masyarakat. Konon katanya terdapat konsekuensi apabila tidak mengikuti anjuran tersebut, salah satunya akan tertimpa kesialan. Di beberapa kepercayaan, baik agama maupun adat sebetulnya tidak secara eksplisit menyebut adanya hari sial. Artinya semua hari sebetulnya baik, tinggal bagaimana perhitungan matematisnya dijalankan, maka semua kesialan bakal terhindar.

Tag: era-nya nikah milenial

Bagikan: