Melihat Kembali Surat-Surat Tokoh Pendiri Bangsa

Tim Editor

    Pameran Surat Pendiri Bangsa (Tasya/era.id)

    Jakarta, era.id - Museum Nasional tengah memamerkan sejumlah surat yang ditulis langsung para tokoh pendiri bangsa. Di antara surat-surat yang dipamerkan dalam pameran bertajuk 'surat pendiri bangsa itu’ ada surat yang ditulis oleh Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Agus Salim dan Kartini.

    Pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bersama dengan Historia.id dalam rangka Hari Pahlawan ini, menampilkan 25 lembar surat yang ditulis langsung para tokoh pendiri bangsa.
     
    Sejarawan Bonnie Trianna, selaku kurator mengatakan bahwa surat-surat tulisan tangan ini dikumpulkan dari berbagai penjuru dunia. Bahkan surat yang ditulis dari Bung Karno saat menjadi tahanan politik, didapatkannya dari luar negeri.

    "Sebagaian besar surat Bung Karno yang kita pamerkan di sini merupakan surat yang dikirim dari dalam penjara. Ada dari Banceuy penjara Bung Karno pertama dan ada dari Ende," ungkap Bonnie, dalam pameran 'Surat Pendiri Bangsa' di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (17/11/2018).

    Surat-surat tersebut dikumpulkannya dari koleksi berbagai instansi mau pun koleksi pribadi, antara lain Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Museum Taman Siswa, Museum Peranakan Tionghoa, Arsip Nasional Belanda dan Internasional Institute voor Sociale Geshiedenis di Belanda.



    Sementara Koleksi pribadi ada dari keluarga Mohammad Hatta yang dimiliki Gemala Hatta, surat Sutan Sjahrir dari koleksi Guru Besar Sastra dan Peradaban Belanda di Universitas Sorbone, Paris hingga surat yang ditulis oleh Tan Malaka dari sejarawan Harry Poeze.

    Surat-surat yang dipamerkan merupakan surat asli dan otentik dari para tokoh pendiri bangsa. Tiap lembar suratnya menyimpan banyak sejarah yang membuat penasaran pengunjung pameran. Tak sedikit surat yang ditulis dalam Bahasa Belanda maupun asing pada goresan tintanya. 

    "Penasaran, mau lihat surat dari Bung Karno," ungkap Bernie, salah satu pengunjung pameran.



    Bung Karno Suka Membaca di Toilet

    Dalam acara 'Bicara Sejarah Tentang yang Tersirat dan Tersurat dari Pemikiran Bung Karno' di Muesum Nasional, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengungkapkan kebiasaan unik yang dilakukan oleh Bung Karno dalam menambah wawasan dan literasinya.

    "Saya harus sampaikan permohonan maaf kepada Ibu Mega. Di kamar mandi beliau (Bung Karno) ada meja, di mana meja dalam toilet itu berisi buku-buku yang harus Bung Karno baca ketika ia berada di dalam toilet," kata Basarah mewakili Megawati Soekarnoputri yang berhalangan hadir.

    Menurut Basarah, seperti yang pernah diceritakan oleh Megawati, Bung Karno gemar membaca buku berbahasa asing seperti Bahasa Belada, Jerman dan Prancis. Di dalam toilet itu pula, Bung Karno menuliskan catatan-catatan kecil dari buku-buku yang dibacanya.



    Belakangan diketahuinya, cara seperti itulah yang dilakukan oleh Bung Karno dalam memperkaya literasi dan pengetahuannya. Secara otodidak, Bung Karno belajar melalui buku-buku di luar dari apa yang dipelajarinya semasa mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung atau yang dulunya bernama Technische Hoogeschool pada tahun 1920.

    "Sebagai seorang yang berlatar belakang insinsyur karena Bung Karno kuliah di ITB, Bung Karno menguasai berbagai macam ilmu, berbagai macam ideologi. Teori politik sosial ekonomi, dan sebagainya. Jadi Bung Karno mengetahui berbagai macam teori itu dengan cara otodidak," tutup Basarah.

    Buat kalian yang penasaran dengan surat-surat dari tokoh pendiri bangsa tak perlu khawatir, karena pameran masih akan terus berlangsung hingga 22 November 2018. 

    Kalian bisa datang sendiri maupun bersama teman-teman, karena pameran ini tak dipungut biaya. Tapi perlu diingat, datang ke Museum Nasional sesuai dengan jam operasional, yakni mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.
     
     

    Tag: megawati soekarnoputri kereta bandara soekarno-hatta

    Bagikan :