Profesi Ini Berpotensi Terpapar Gangguan Kejiwaan

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Bandung, era.id - Para pekerja sosial yang sering kali harus berhadapan langsung dengan masyarakat dianggap rentan terpapar gangguan kejiwaan. Alasannya karena para pekerja sosial ini harus rela melihat, mendengar dan merasakan langsung keluhan ataupun peristiwa yang dialami masyarakat.

Semua hal itu menyebabkan pekerja sosial secara tidak langsung diwajibkan mengesampingkan kepentingan pribadinya, baik secara fisik dan batin. Menurut anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Teddy Hidayat, profesi pekerja sosial yang rentan terpapar gangguan kejiwaannya ini seperti anggota SAR, pemadam kebakaran, relawan bencana, PMI serta polisi dan lain sebagainya.

"Mereka itu harus melihat secara langsung kejadian yang sebenarnya karena pekerjaan mereka. Seperti melihat darah, ceceran bagian tubuh yang terpisah, mengangkat korban kecelakaan yang sedang trauma. Bahkan ada pula yang dimarahi masyarakat karena dianggap tidak sempurna dalam menjalankan tugas," kata Teddy Hidayat di Bandung, Jumat (22/2).

Teddy menjelaskan, dampak gangguan kejiwaan akibat ikut menjalani peristiwa yang tidak normal saat bertugas, tidak serta merta langsung terdeteksi. Karena biasanya bagi seseorang yang pertama kali melihat persitiwa traumatis, hanya berdampak pada perubahan kegiatan rutin sehari-harinya.

Namun kata dia, dampak umum gangguan kejiwaan yang dialami oleh para pekerja sosial itu terlihat dari pola makan, tidur dan lambat laun dalam perilakunya. 


Infografis (era.id)

"Yang biasanya senang mengkonsumsi daging, akhirnya berhenti karena sehari sebelumnya melaksanakan tugas evakuasi mayat. Kalau manusia normal tidur nyenyak, pekerja sosial ini sering bermimpi dengan kejadian-kejadian traumatik sebelumnya. Namun karena tuntutan pekerjaan maka seluruh kejadian abnormal itu menjadi hal lumrah," ujar Teddy.

Paparan peristiwa traumatik itu, jelas Teddy, akan mengubah perilaku bahkan gaya hidup seseorang, seperti halnya para pekerja sosial. Awalnya, mereka tidak menyadari adanya gangguan jiwa tersebut.

Tetapi seiring waktu, gangguan jiwa itu dapat dilihat dari apa yang sehari-hari dilakukan. Seperti adanya ketergantungan atas suatu minuman atau makanan, sering bermimpi hal yang sama secara berulang, bahkan yang parah adalah sering berhalusinasi.

"Seperti suka mendengar suara-suara di sekitarnya yang sebenarnya tidak ada. Gangguan jiwa akut lainnya adalah berbicara seakan ada teman yang sedang berhadapan," jelas Teddy.

Ganggguan kejiwaan tersebut dipicu akibat tidak adanya lagi saringan kejadian atau informasi yang diterima karena tuntutan pekerjaan yang tidak boleh dipilah. Pada dasarnya setiap kejadian, informasi maupun peristiwa memiliki prioritas yang primer.

Tak hanya para pekerja sosial yang rentan terpapar gangguan kejiwaan, profesi jurnalis juga menurut Teddy, berpotensi memiliki penyimpangan kesehatan jiwa. "Para pekerja media ini menerima apapun bentuk informasi dalam skala tak penting sampai sangat penting. Alasannya ya tuntutan pekerjaan. Ada bencana datang, ke pusat keramaian datang tanpa mengindahkan kepentingannya sendiri," jelas Teddy.


Ilustrasi (Pixabay)

Berdasarkan sampel dari puluhan jurnalis di kota Bandung tahun 2016 jelas Teddy, pada umumnya dinyatakan tidak mengalami gangguan kejiwaan. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan tahap pertama penanggulangan gangguan jiwa dan usaha bunuh diri, saat dia menjadi Kepala Ruangan Bagian Psikatri Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. 

Teddy menjelaskan meski dianggap telah terbebas dari gangguan jiwa, yang pada dasarnya profesi jurnalis sangat rentan terpapar penyimpangan kejiwaan.

"Saya pikir jurnalis banyak dibanjiri oleh berbagai permasalahan. Itu menyebabkan gegar kognisi, gegar psikologis, sementara kita sendiri tidak siap. Wartawan pasti begitu, karena dia memang mencari informasi. Jadi selalu dia buka informasi yang tiap detik masuk," tutur Teddy.

Teddy mengaku jika berpatokan terhadap standar Kementerian Kesehatan RI yang menyatakan, satu dari lima orang yang berkumpul mengalami gangguan kejiwaan. Dengan catatan ke lima orang itu bekerja di luar dunia jurnalistik atau pekerja kantoran biasa. Apalagi profesi jurnalis yang tidak mengenal batas waktu kerja. 

Tetapi Teddy menyebutkan, dalam jumlah yang sama standar penelitian dengan profesi jurnalis, dipastikan sebanyak 40 persen mengalami gangguan kejiwaan. Itu dapat dilihat dari gaya hidup para jurnalis yang tidak terpola normal. 

Seperti kecanduan terhadap minuman beralkohol. Namun Teddy menambahkan, kecanduan minuman beralkohol ini masih dalam tingkatan terendah. Karena jika sudah kecanduan zat psikotropika atau narkoba, vonis terjangkit gangguan kejiwaan sudah dapat dipastikan.

"Seperti herion, sabu, kokain malahan rokok yang memiliki juga zat adiktif tidak termasuk kategori barang yang mencirikan seseorang terganggu jiwanya. Ya kalau minum alkohol sebatas mengkonsumsi sewajarnya dan tidak ada ketergantungan bukan termasuk itu," jelas Teddy.

Tiga tahun lalu, Bagian Psikatri RSHS bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung melakukan pemeriksaan kesehatan kejiwaan jurnalis yang menjalankan tugasnya di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini.

Tag: kesehatan mental

Bagikan: