Hellboy, Aksi Brutal yang Tersendat

Tim Editor

Ilustrasi (Istimewa)

Jakarta, era.id - Bocah neraka itu kembali dengan wajah baru. Film yang menceritakan tentang penyelidik supranatural kini mendapatkan sentuhan baru. Lebih fresh, gelap, komikal, serta lebih sadis dari unsur aksi. 

Dengan rating PG 13, tentu banyak sekali adegan berdarah di setiap aksinya yang diselingi dengan humor gelap yang membuat penonton bisa tersenyum di tengah adegan darah yang muncrat di mana-mana. Sayangnya, aksi tersebut tersendat dengan gangguan kebijakan lokal.

Setelah gagal meneruskan sequel dari Hellboy II: Golden Army (2008), pihak produser yang terdiri dari Lawrence Gordon, Michael Richardson, dan Lloyld Levin kini menggarap kisah reboot dari bocah neraka tersebut. Tentu saja dengan merombak seluruh tim serta para pemeran yang terlibat. Tidak ada lagi Guillermo Del Toro sebagai sutradara, atau Ron Perlman yang memakai riasan merah Hellboy. 

Ketidakikut sertaan sang sutradara dalam proyek ini membuat sang aktor menolak tawaran tersebut. Padahal rumor beredar akan ada sekuel ketiga dari Hellboy. Ketidakikutsertaan sang aktor membuat pihak produser untuk membuat reboot dengan meng-casting David Harbour sebagai pengganti Ron Perlman. 

Sementara pihak sutradara diserahkan kepada Neil Marshall (Doomsday, Tales of Helloween) dan menyerahkan produksinya kepada Lionsgate, Milleniums Film, dan tentunya Dark Horse Entertainment, rumah pertama dari tokoh Hellboy. 

Selain David Harbour, ada beberapa nama lain yang membanjiri kisah yang diangkat dari komik Hellboy garapan Mike Mignola terbitan Dark Horse Comics pada 1993 lalu. Di antaranya, Milla Jovovich, Ian McShane, Sasha Lane, Daniel Dae Kim, Douglas Tait, Sophie Okonedo, dan beberapa nama lainnya. 

Film ini bercerita tentang sepak terjang, sang penyelidik kasus supranatural dalam bentuk cambion (anak iblis menurut mitologi dan folklore) yang diberi nama Hellboy (David Harbour). Saat ia diminta oleh ayah asuhnya, Trevor Bruttenholm (Ian McShane) untuk mewakili Bureau for Paranormal Research and Defense (B.P.R.D) bertandang ke Inggris menemui Osiris Club, organisasi rahasia serupa dalam rangka memburu raksasa. 

Ternyata hal itu hanya perangkap yang membuat Hellboy terluka parah. Hellboy pun mendapat pertolongan dari Alice (Sasha Lane), remaja yang pernah ditolak oleh Hellboy di masa lalu dan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan arwah. 

Melalui Alice, Hellboy pun tahu bahwa ada ramalan akan kiamat yang melibatkan dirinya dengan Vivian Nimue (Milla Jovovich), penyihir jahat dari abad ke-5 yang telah dimutilasi oleh Raja Arthur menggunakan Excalibur. 

Penyihir itu akan bangkit dengan memperdaya salah satu pengikutnya Guargach (Douglas Tait), penjahat berwujud babi hutan yang mengumpulkan seluruh potongan tubuh sang penyihir agar bisa kembali hidup dan menyebarkan wabah penyakit. 

Bersama Alice dan salah satu pimpinan B.P.R.D Major Ben Daimio (Daniel Dae Kim), Hellboy pun bergerak memburu sang penyihir dan pengikutnya sebelum ramalan kiamat menjadi kenyataan. 


Ilustrasi (Istimewa)

Tersendat karena sensor

Kisah King Arthur dan Merlin muncul dalam kisah ini setelah sebelumnya muncul di pelbagai cerita. Seperti biasa, semuanya dikaitkan dengan apa yang terjadi di film ini. Bahkan dihubung-hubungkan dengan sang tokoh sendiri. Hal itu bisa dilihat dari adegan prolog yang menunjukkan proses pembantaian terhadap sang penyihir yang dilakukan Raja Arthur. 

Tentu saja tone dan mood yang disuguhkan berbeda dengan dua film sebelumnya. Gaya bengal Hellboy-nya David Harbour sedikit berbeda dengan Ron Pelrman. Selain sarkas dan urakan, tentu lebih humoris. 

Kehadiran Milla Jovovich sebagai sang penyihir pun membuat film gelap ini sedikit bercahaya meskipun banyak adegan yang siap membuat penonton mual. Tentu gaya Deadpool atau The Punisher; Warzone banyak tersuguhkan di sini. 

Sayangnya hal itu semua dirusak dengan lembaga sensor setempat. Hal itu membuat para penonton, khususnya yang menghadiri gala premiere Hellboy di XXI Senayan City, Jakarta pada Selasa malam (9/4), mengeluhkan banyak adegan yang hilang dari kisah tersebut. Tentunya yang diprotes adalah lembaga sensor setempat. 

Mulai dari adegan prolog, adegan eksposisi, sampai adegan kilmaks semuanya dihilangkan dengan cara yang tak lazim dan tidak rapi. Hal ini berbeda dengan kejadian di film Deadpool yang masih banyak memperlihat adegan pertarungan berdarah. 

Yang paling banyak disensor tentu saja bagian eksekusi, bukan adegan hasil akhirnya. Contohnya adegan ketika Hellboy melempar seorang vampir ke sebuah palang besi. Seketika adegan tertusuknya sang vampir itu dihilangkan. Termasuk ketika adegan Hellboy ditikam dari belakang yang dihilangkan dan langsung ke adegan ketika dirinya terjatuh dari kuda karena menahan rasa sakit itu. 

Terlepas dari sensor, film ini juga bermasalah dalam pengambilan angle kamera serta dialog yang terlalu hiperbola. Dialog yang diucapkan Hellboy kepada ayahnya di markas B.P.R.D terasa mengganggu. Termasuk adegan basa-basi sang penyihir kepada Hellboy, atau ketika Hellboy bertemu dengan jasad Merlin yang bisa berbicara. 

Dengan kerusakan film tersebut, banyak pihak yang pesimis akan keberhasilan film yang mulai tayang 12 April mendatang. Apalagi setelah orang masih menikmati kisah Shazam yang lebih ringan ditambah euforia menyambut film pertarungan superhero terbesar tahun ini, Avengers Endgame. Mungkin akan menjadi catatan khusus bagi lembaga sensor film Indonesia untuk memperhatikan kinerjanya. 6.5/10 untuk film Hellboy.
 

Tag: hari film nasional 2018 resensi film

Bagikan: