Tak Akan Ada Lagi Iklan Politik di Twitter

Tim Editor

Ilustrasi (pixabay)

Jakarta, era.id - Twitter telah menjadi salah satu media sosial populer di dunia. Dalam platform dengan ikon burung biru ini kita bisa menemukan berbagai informasi menarik termasuk iklan. Tapi kini, tak sembarang iklan bisa lolos di Twitter. Sebab, mulai November mendatang seluruh iklan politik akan dilarang.

Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Eksekutif Twitter Jack Dorsey yang mengatakan rincian penghentian iklan politik akan diumumkan bulan depan dan diberlakukan mulai 22 November. 

"Kami telah membuat keputusan untuk menghentikan semua iklan politik di Twitter. Kami percaya jangkauan pesan politik sewajarnya diperoleh, bukan dibeli," katanya, dikutip Reuters, Kamis (31/10/2019).

Aturan ini nantinya bakal melarang seluruh jenis iklan mengenai masalah politik dan juga pada kandidat politik. Iklan politik di Twitter dinilai mampu digunakan untuk memengaruhi suara dan memengaruhi kehidupan jutaan orang.
 

Keputusan itu dilakukan karena iklan di internet sangat kuat dan efektif untuk pengiklan komersial. Kekuatan ini juga yang membawa risiko signifikan bagi politik. Kebijakan lebih lanjut akan dirilis pada 15 November.

Twitter juga menilai iklan politik akan berseberangan dengan usaha mereka untuk memerangi informasi yang menyesatkan. "Jika seseorang membayar kami untuk menargetkan dan memaksa orang untuk melihat iklan politik mereka, artinya, mereka bisa mengatakan apa pun yang mereka mau."

Keputusan Twitter ini sangat kontras dengan yang dilakukan Facebook sejauh ini. Dalam pidatonya di Georgetown University pada Oktober lalu, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan bahwa Facebook mempertimbangkan untuk melarang iklan politik, tetapi ia percaya bahwa perusahaan tak boleh memutuskan pidato apa yang dapat diterima atau tidak. Zuckerberg juga menyiratkan bahwa Facebook diciptakan untuk membantu aktivis anti-perang dalam konten di platformnya.

"Kami sedang bekeja keras untuk menghentikan orang-orang yang mempermainkan sistem kami, yang digunakan untuk menyebarkan informasi menyesatkan," ujar Dorsey.

Baca Juga: Kirim Kicauan Rasis, Akun Bos Twitter Diretas

Platform media sosial seperti Twitter dan Facebook telah menghadapi tekanan yang semakin besar untuk berhenti menerima iklan yang dapat menyebarkan informasi palsu yang dinilai dapat menggiring suara pada pemilihan.

Melihat langkah besar yang diambil oleh Twitter ini, analis memperkirakan hal tersebut secara signifikan akan mengurangi bisnis Twitter. Di mana saham akan turun hingga 1,9 persen. Namun, Kepala Keuangan Twitter Ned Segal membantah langkah itu hanya akan memiliki dampak yang kecil. 

"Keputusan ini didasarkan pada prinsip, bukan uang. Sebagai konteks, kami telah mengungkapkan bahwa pengeluaran iklan politik untuk semester tengah AS 2018 adalah kurang dari 3 miliar dolar," katanya dikutip AFP.

Langkah Twitter ini juga dikomentari oleh manajer kampanye Trump 2020 Brad Parscale. Ia menuturkan keputusan media sosial itu bodoh dan menurutnya keputusan itu membuat mereka harus kehilangan potensi pendapatan hingga ratusan juta dolar. "Twitter bari saja meninggalkan ratusan juta dolar. Keputusan yang sangat bodoh untuk pemegang saham mereka," ujarnya.

Tag: twitter lite

Bagikan: