Nonton Wayang Potehi dari Dalang Pribumi

Tim Editor

    Wayang Potehi (Nurul Tryani/era.id)

    Jakarta, era.id - Dari dulu, wayang identik dengan seni pertunjukan dari Jawa dan Bali serta beberapa wilayah di Indoensia yang terpengaruh budaya Jawa dan Hindu. Selain wayang golek dan wayang kulit dari Jawa ada juga wayang Potehi dari China. 

    Potehi berasal dari kata Pou yang berarti kain, Tay yang berarti kantung, dan Hay berarti pertunjukan. Berbeda dengan wayang Jawa yang berbentuk ukiran dan tipis yang terbuat dari kulit, wayang Potehi terbuat dari kain dan dimainkan dengan memasukkan tangan pemain ke dalam kain mirip boneka tangan (Hand puppet).


    Wayang Potehi (Nurul Tryani/era.id)

    Pertunjukan Wayang Potehi berasal dari wilayah China Selatan dan dibawa oleh perantau etnis Tionghoa ke berbagai wilayah Nusantara pada masa lampau. Keberadaan Wayang Potehi sendiri konon sudah ada sejak 3.000 tahun yang lalu. Biasanya pementasan ini akan menampilkan cerita-cerita tentang kerajaan dan dinasti di China. 

    Tepat pada pukul 14.00 WIB pertujukan wayang Potehi dimulai di salah satu mal di Jakarta Barat, Selasa (21/1). Wayang Potehi menjadi salah satu pertunjukan selain Barongsai dalam menyambut Tahun Baru China atau Imlek di mal tersebut.


    Wayang Potehi (Nurul Tryani/era.id)

    Selama satu jam, Sugiyo Waluyo Subur atau akrab disapa Dalang Subur ini mendalangi wayang Potehi bersama tiga orang pembantunya. Dengan luwes dan cekatan ia memainkan jari-jarinya di dalam wayang dari balik panggung kecil berukuran 1x2 meter dengan lakon Sam Hai Lam Tong.

    Pria asal Sidorajo ini sudah belajar menjadi dalang Potehi sejak usia 12 tahun. "Sebenarnya belajar jadi dalang itu sejak 1974. Saat itu saya baru berusia 12 tahun," katanya kepada era.id, Selasa (21/1). 

    Sudah 17 tahun Dalang Subur mengisi acara di mal itu. Selama itu, pria 58 tahun ini tak pernah tergantikan karena kurangnya regenerasi dalang Wayang Potehi. 

    "Antusias untuk ini (wayang potehi) sedikit, regenerasi pun susah padahal tidak dipungut biaya," sambungnya.

    Tantangan menjadi seorang dalang potehi yakni dalam hal bersuara. Seorang dalang harus bisa mengeluarkan suara pria, setengah muda, sementara perempuan --ada yang tua muda dan anak kecil.

    "Kalau saya biasanya pakai tim. Dalangnya saya, asisten satu orang, tiga orang lainnya pemain musik. Minimal itu lima orang, tapi tetap disesuaikan juga dengan event-nya," tutur Subur.

    Kisah ia menjadi dalang Potehi bermula saat tinggal dan tumbuh besar di wilayah Pecinan. Subur kerap kali mencari hiburan dengan menonton pertunjukkan Wayang Potehi di sekitar rumahnya. Bakat menjadi dalang Wayang Potehi ini pun mengalir dari sang Paman yang juga menjadi dalang. 

    "Ayah saya justru enggak pernah sama sekali tertarik dengan hal itu. Bahkan masuk ke kelenteng dekat rumah saja tidak pernah. Tapi untungnya saya dapat dukungan dari Bapak saya," kata Subur.


    Wayang Potehi (Nurul Tryani/era.id)

    Selama berkarir sebagai seorang Dalang, Subur pernah mendapatkan rekor MURI sebagai dalang Wayang Potehi dengan pertunjukan terlama pada tahun 2015. Saat itu dirinya tampil menghibur pengunjung dengan menampilkan Wayang Potehi selama 10 jam tanpa henti. Ia menampilkan cerita berjudul Lutung Sopa

    Pria yang dulunya bercita-cita ingin menjadi tentara ini pun menularkan bakatnya ke anak laki-lakinya. Soal regenerasi dalang, ia meyayangkan peran pemerintah dalam mendukung Wayang Potehi yang dirasa masih kurang. Apalagi, Wayang Potehi hanya ngetop menjelang Imlek.


    Sugiyo Waluyo Subur (Nurul Tryani/era.id)

    "Saya ini dalang asli pribumi, enggak ada darah Chinese sama sekali. Saya muslim juga. Kurang sekali support dari pemerintah, beda sekali dengan wayang kulit yang ditayangkan di televisi. Jangan lihat dari Potehinya, tapi lihat dari siapa orang di baliknya," tutup Subur. 

    Tag: imlek

    Bagikan :