Tabir Gelap Panggung K-Pop

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Infografis (Hilda/era.id)

Korean Wave dan perkembangan K-Pop betul-betul sulit dibendung. Sebagaimana dibahas dalam Siapa Bisa Hentikan Invasi Gelombang K-Pop? Pembangunan industri hiburan Korea Selatan dilakukan melalui sistem yang amat besar dan rapi. Keseriusan semua pihak melahirkan kesuksesan yang sampai hari ini sangat lumayan hasilnya. K-Pop mendunia. Nama artis-artisnya melambung. Tapi, apa iya seindah itu? Dalam artikel yang masih jadi bagian dari bagian Era Budaya Instan ini, kami akan ulas bagaimana segala kesengsaraan dan kebobrokan di balik gemerlapnya industru K-Pop


Jakarta, era.id - Kim Jong-hyun, pentolan boyband SHINee ditemukan tewas di sebuah hotel di Kota Seoul, 18 Desember 2017. Para penggemar SHINee seluruh dunia berkabung. Pagi hari setelah kematian Jong-hyun, kabar mengejutkan muncul. Jong-hyun ternyata mati karena bunuh diri.

Sebuah catatan yang diyakini sebagai pesan terakhir Jong-hyun beredar. Musisi rock Dear Cloud's, Nine9, membuka isi pesan yang disampaikan Jong-hyun kepadanya -- dua pekan sebelum hari kematian Jong-hyun -- ke publik.

"Saya hancur dari dalam... Depresi telah perlahan memakan dan melahap saya. Saya tidak bisa mengalahkannya," tulis Jong-hyun dalam suratnya.

Kematian Jong-hyun membuka tabir gilanya tekanan di industri hiburan Korea Selatan. Perkara pelecehan seksual, tekanan karier, hingga buruknya hubungan dengan manajemen disebut-sebut sebagai penyebab banyaknya artis depresi di Korea Selatan.


Infografis (Retno Ayuningtyas/era.id)

Pelecehan seksual

Soal gilanya tekanan berkarier sebagai artis Korea Selatan betul-betul nyata. Mari kita mundur ke tahun 2009. Jang Ja Yeon ditemukan tewas di rumahnya. Berbagai sumber menyebut hubungan buruk antara Ja Yeon dan manajemennya sebagai alasan pemeran Sunny dalam drama Boys Over Flowers itu memilih bunuh diri.

Ngerinya lagi, banyak sumber terpercaya lain yang menyebut Ja Yeon pernah dipaksa melayani 31 pria agar jalannya menuju panggung K-Pop mulus. Paksaan itu tak dapat ditolak Ja Yeon karena tekanan para pria yang meminta, kabarnya adalah pejabat penting negara. Selain itu, tentu saja perjanjian yang kebanyakan tak masuk akal dari kontrak jadi akar berbagai tekanan itu.

Pelecehan seksual memang jadi momok dalam industri hiburan. Pada Februari 2018, kampanye dengan hashtag #metoo menghiasi lini masa media sosial. Tujuannya, mendukung para korban pelecehan seksual di berbagai negara, tak terkecuali Korea Selatan, agar mereka berani berbicara dan melapor pada otoritas terkait.

Kampanye tersebut juga menarik perhatian para artis K-Pop untuk berbicara mengenai pengalaman dan dukungannya, terlebih adanya kasus pelecehan seksual yang melibatkan struktur perusahaan hiburan, antara agensi dengan artisnya.

Salah satu artis yang dikaitkan dengan kampanye tersebut adalah Choi Il Hwa, aktor senior Korsel. Choi mengakui adanya pelecehan seksual yang dilakukannya terhadap aktris-aktris muda di masa lalu. Aktor yang juga menjabat sebagai Asosiasi Dewan Aktor Korea itu mengakui pelecehan seksual yang dilakukannya saat umurnya baru 24 tahun.

Tekanan karier

Kebijakan agensi yang semena-mena membuat salah satu personel girlband KARA, Sojin bunuh diri. Februari 2015, Sojin ditemukan tak sadarkan diri setelah lompat dari lantai 10 apartemennya.

Beberapa penggemar Sojin saat itu mengatakan dia depresi setelah kontraknya diputus sepihak oleh agensi yang menaunginya. Padahal, saat itu Sojin telah menjalani trainee selama lima tahun.

Depresi yang dialami Sojin terbilang berat. Pemutusan kontrak turut merusak namanya. Sojin dianggap gagal menunjukkan kesuksesan. Di Korea Selatan, kegagalan adalah aib. Kasus Sojin saat itu jadi perbincangan. Memicu perdebatan panjang soal keadilan yang selayaknya didapatkan oleh artis-artis Korea.

Kontrak dan bagi hasil

Fenomena lain terkait ketidakadilan dalam industri K-Pop juga pernah mencuat pada 2009. Kala itu, Jaejoon, Yoochun, dan Junsu menggugat agensinya, SM Entertainment. Tiga personel boyband TVXQ ini mengaku diperlakukan tak adil karena SM Entertainment mengajukan kontrak selama 13 tahun. Ajegile!

Selain kontrak yang lamanya macam cicilan kredit rumah, SM Entertainment digugat karena pembagian penghasilan yang dianggap tak adil. Saking gilanya perlakuan SM Entertainment terhadap TVXQ, banyak orang menyebut kasus itu sebagai kasus 'kontrak budak'.

Soal ketidakadilan dalam pembagian hasil ini juga pernah dialami boyband B.A.P dengan TS Entertaiment. Saat itu, promosi album B.A.P cukup sukses hingga menghasilkan 9 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, personel B.A.P hanya menerima uang kurang dari 16 ribu dolar AS.

Jika dihitung-hitung, gaji setiap anggota B.A.P hanya menerima 500 ribu won per bulan selama 40 minggu, atau hanya mendapat 10 persen dari royalti album yang mereka hasilkan.

Jin Young Kim dan Jong Oh Lee, dalam risetnya berjudul Korean Pop Culture: A Decade of Ups and Downs (2014) menjelaskan, struktur pembagian keuntungan yang tidak jelas antara bintang dan perusahaan hiburan hingga aturan-aturan kontrak yang tidak masuk akal telah jadi ciri khas industri K-Pop saat ini.

Gemerlap K-Pop memang menyilaukan. Panggung yang dibangun dengan banyak tata lampu memudarkan sisi belakang panggung dalam kegelapan. Semua bisa lihat keindahan yang ditampilkan di atas panggung. Namun, tak semua mau melihat apa yang sejatinya terjadi pada para penghibur yang mereka cinta dan gandrungi.

 

Tag: era budaya instan k-pop

Bagikan: