Warga Jakarta: Belanja Dapur Mahal, Harga Warteg Naik, Bensin Jadi Beban

| 10 Jun 2026 13:44
Warga Jakarta: Belanja Dapur Mahal, Harga Warteg Naik, Bensin Jadi Beban
Antrean motor yang ingin mendapatkan Pertalite, di SPBU di kawasan Jakarta Barat terkait kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax, Rabu (10/6/2026). (Antara)

ERA.id - Warga DKI Jakarta mesti mengantre panjang di sejumlah SPBU di kawasan Jakarta Barat saat mau mengisi BBM bersubsidi Pertalite pada Rabu siang (10/6/2026), usai harga BBM non-subsidi jenis Pertamax naik

Salah satunya di SPBU Jalan Jakarta Outer Ring Road (JORR) Cengkareng. Warga mengantre dari gerbang masuk area SPBU.

Sementara jalur pengisian Pertamax dan Pertamax Turbo terpantau sepi.

Di SPBU tersebut, antrean pengisian Pertalite mencapai 20 motor, yang didominasi oleh pengemudi ojek online (ojol), kurir logistik, ibu rumah tangga, serta pelajar. Sebaliknya, dispenser Pertamax hanya diantre oleh dua hingga tiga motor saja.

​Pemandangan serupa juga terlihat di SPBU Jalan Raya Duri Kosambi, Cengkareng. Belasan motor terpantau rela mengantre dalam dua baris di bawah terik matahari demi mendapatkan Pertalite.

​Sejumlah pengendara pun mengaku terpaksa mengubah pola konsumsi BBM mereka demi menjaga kelangsungan dapur dan operasional kerja.

Salah satunya Dani (28), warga Cengkareng Timur yang sebelumnya kerap menggunakan Pertamax, mengaku akan beralih ke Pertalite. Pekerja gerai ayam goreng itu bahkan mengaku siap mengalokasikan waktu lebih lama di SPBU demi mengantre Pertalite. 

"Udah ketebak, pasti bakal antre panjang lah Pertalite. Siap-siap aja, kalau ngisi bensin, harus luangin waktu dulu, jangan mepet," kata Dani di Jakarta, Rabu. 

Berbeda dengan Dani, Afrizal (26), seorang pengemudi ojol, mengaku terpaksa membeli Pertamax senilai Rp20 ribu hanya sebagai langkah darurat agar tidak mogok saat mengejar target pengiriman barang express.

​"Terpaksa geser ke Pertamax karena antrean Pertalite panjang banget, sementara saya lagi ngejar orderan. Ini cuma buat nyambung jalan sekadarnya. Nanti malam, pas sudah sepi, baru antre Pertalite lagi untuk isi penuh," ujar Afrizal.

​Dia juga mengeluhkan uang Rp20 ribu miliknya kini tidak lagi bisa mendapatkan 1,5 liter Pertamax akibat lonjakan harga tersebut.

​Sementara itu, Syarif (42), pengemudi ojol lainnya, mengkhawatirkan efek domino dari migrasi konsumen tersebut, yakni potensi kelangkaan Pertalite di pasaran akibat tingginya permintaan.

​"Kalau saya, memang dari awal pakai Pertalite, tapi takutnya nanti malah langka karena semua orang pindah ke subsidi. Kondisi ekonomi sekarang makin berat, belanja dapur mahal, makan di warteg naik, ditambah beban bensin ini," ungkap Syarif.

​Untuk menyiasati pembengkakan pengeluarannya, dia pun memilih menunda waktu perawatan berkala (servis) sepeda motornya.

"Biaya servis dan oli impor juga ikut naik. Paling diakali dengan memundurkan jadwal servis, yang biasanya sebulan sekali, jadi dua bulan sekali," ucap Syarif.

Hingga berita ini diturunkan, antrean di sejumlah SPBU di kawasan Jakarta Barat dilaporkan masih fluktuatif, namun cenderung padat pada jam-jam sibuk.

Rekomendasi