Perindo Ibaratkan Pemberian Bansos seperti Bom Atom di Nagasaki, Bikin Ganjar-Mahfud Babak Belur

| 22 Mar 2024 05:32
Perindo Ibaratkan Pemberian Bansos seperti Bom Atom di Nagasaki, Bikin Ganjar-Mahfud Babak Belur
Sekjen Perindo, Ahmad Rofiq (Era.id/Flori Anastasia Sidebag)

ERA.id - Sekjen Perindo, Ahmad Rofiq menilai, paslon Ganjar Pranowo-Mahfud MD babak belur akibat masifnya pemberian bantuan sosial (bansos) jelang Pilpres 2024. Dia mengibaratkan kekuatan bansos ini seperti bom atom yang meluluhlantakkan Nagasaki, Jepang pada 1945.

"Sementara masyarakat kita memang dalam kondisi yang belum diuntungkan dalam konteks ekonomi, ketika adanya bansos yang begitu rupa, maka seluruh pertahanan parpol, pertahanan para capres dan terutama Mas Ganjar sama Pak Mahfud ini ya babak belur ketika diserang yang sangat masif begitu, yang disebut Mas Benny tadi, high explosive," kata Rofiq dalam konferensi pers di Media Center TPN Ganjar-Mahfud, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2024).

"Ini (ibarat) bom atom di Nagasaki, itu dipraktikan di pemilu ini," sambungnya.

Rofiq pun menyebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) layak diberikan penghargaan rekor dunia sebagai bapak perusak demokrasi. Sehingga kecurangan serupa tak terulang kembali dalam pemilu mendatang.

"Ini penting agar menjadi pesan terbaik bagi bangsa ini dan tidak terulang di masa yang akan datang," tegas dia.

Selain itu, ia mengatakan, masifnya kecurangan yang terjadi dalam pesta demokrasi ini juga meluluhlantakkan semua teori dan analisis politik.

"Karena dengan adanya, masifnya kecurangan yang aangat luar biasa itu artinya apa yang menjadi analisa politik itu enggak ada lagi," jelas Rofiq.

"Ternyata apa yang menjadi sangkaan, apa yang menjadi bagian dari praktik, apa yang menjadi bagian dari konsolidasi ini enggak ada artinya semua. Karena dengan adanya intimidasi, sembako inilah yang menghancurkan," tambah dia menegaskan.

Oleh karena itu, sambung Rofiq, gugatan hasil Pemilu 2024 yang bakal diajukan kubu Ganjar-Mahfud ke Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi satu-satunya jalan keadilan.

"Agar masyarakat juga mengetahui seberapa besar daya keculasan para pemimpin di republik ini ketika turut serta mengawal demokrasi. Apakah dia merusak yang paling berat, atau seperti apa nanti kita akan lihat bersama," ujar dia.

Rekomendasi