Tanpa Pengetatan PSBB, Resesi Sudah Diprediksi Terjadi

Tim Editor

Ilustrasi uang (Dok. Setkab)

ERA.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan menarik 'rem darurat' dengan memberlakukan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan itu menimbulkan pro dan kontra karena dianggap bisa mempengaruhi ekonomi nasional yang sudah diambang resesi.

Ekonom senior Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, tanpa adanya pengetatan PSBB pun prediksi resesi ekonomi diyakini akan terjadi.

"Tanpa pengetatan PSBB resesi sudah diyakini akan terjadi, apalagi dengan PSBB diperketat walaupun hanya di Jakarta," ujar Piter saat dihubungi, Jumat (11/9/2020).

Piter mengatakan, wajar jika ada ketakutan PSBB akan berpengaruh kepada ekonomi nasional. Sebabnya, pada saat PSBB transisi perekonomian sudah kembali bergerak, meskipun masih sangat terbatas.

Misalnya, penyaluran kredit yang mulai tumbuh ditambah dengan adanya dorongan likuiditas dari pemerintah. Menurut Piter, semua aktivitas perekonomian akan kembali melambat.

"Pertanyaannya akan berapa lama pengetatan ini berlangsung? Kalau lama, misal hingga akhir tahun, dampaknya akan besar, ekonomi akan benar-benar kembali terpuruk," kata Piter.

Meski demikian, Piter menegaskan penanggulangan pandemi COVID-19 harus lebih diutamakan. Dia berharap dengan adanya PSBB ini, kasus positif di Jakarta bisa melandai.

"Memang penanggulangan wabah harus diutamakan. Semoga dengan pengetatan PSBB ini jumlah kasus COVID-19 benar-benar bisa melandai," ucapnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk mengembalikan status pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin, 14 September mendatang. Anies mengaku memiliki tiga alasan yang merupakan parameter angka yang saat ini menunjukkan kondisi wabah COVID-19 di DKI saat ini menjadi mengkhawatirkan.

Tag: covid-19 covid-19 di indonesia psbb resesi ekonomi

Bagikan: